Connect with us

Dunia Pendidikan

Museum Seni Pamerkan Ragam Hias Fauna Dalam Wastra Indonesia

Published

on

Photo : Istimewa

Jakarta , goindonesia.co : Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menurut rencana akan menyuguhkan pameran wastra bertajuk Ragam Hias Fauna dalam Wastra Indonesia di Museum Tekstil di Jl KS Tubun no. 4 Jakarta Barat mulai 6 -25 September 2021. Acara itu dalam rangka HUT ke 45 Museum Tekstil dan Himpunan Wastraprema.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Sri Kusumawati mengungkapkan dalam keterangan persnya Ahad (5/9), pameran tersebut menampilkan 45 koleksi wastra dengan ragam hias fauna.
“Jumlah 45 itu terdiri dari 20 buah koleksi Museum Tekstil dan 25 buah koleksi Rumah Wastra Jo Seda,” kata Sri Kusumawati.

Menurut Sri Kusumawati yang lebih akrab dipanggl Bu Atik, Indonesia memiliki fauna yang sangat beragam.
“Ini disebabkan karena wilayahnya yang luas, terdiri dari kepulauan yang terletak di Garis Katulistiwa,” ujarnya.

Maka dari itu tekstil tradisional atau wastra Indonesia pun terutama dalam ragam hias motif faunanya memiliki pesan dan makna tertentu yang sering kali menggambarkan kehidupan masyarakatnya.

“Keanekaragaman fauna dari seluruh Indonesia itulah menjadi salah satu sumber inspirasi dalam menciptakan kreasi tekstil. Ragam hias itu dari serangga, hewan laut, unggas sampai dengan hewan mitologi sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat,” tambahnya.

Menurut Sri Kusumawati berbagai acara melengkapi pameran tersebut. Di antaranya Lomba Aplikasi Ragam Hias Fauna Wastra Indonesia dalam Desain Mode Kasual yang dilaksanakan sejak 18 Agustus sampai dengan 15 September 2021.

Juga ada Workshop Sulam Ragam Hias Fauna  yang diikuti siswa siswi SMK di DKI Jakarta selama 3 hari yaitu tanggal 6, 14 dan 17 September 2021.

Ada pula Webinar terkait dengan Ragam Hias Fauna dalam Wastra Indonesia yang akan dilaksanakan tanggal 10, 11, 17, 18, 24 dan 25 September 2021.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi email :upmuseumseni.disbuddki@gmail.com dan Instagram: @museum_senijkt.  (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Dunia Pendidikan

Mobile Arts for Peace (MAP) Membangun Kesepahaman dan Perdamaian Melalui Metode Seni

Published

on

Photo : Istimewa

Jakarta, goindonesia.co — Kepadatan penduduk merupakan masalah yang berdampak pada berbagai masalah lainnya. Diantaranya kemiskinan struktural yang berdampak pada masalah sosial dan ekonomi.

Anak-anak yang tinggal di kawasan padat penduduk, seperti di Jakarta, kerap menghadapi konflik sosial, rentan kekerasan, serta terjadinya eksploitasi seksual.

Demikian antara lain disampaikan penggiat budaya, Eddie Karsito, kepada media usai mengikuti ‘Fase 1 – Acara Akhir Tahun Mobile Arts for Peace (MAP), yang berlangsung secara virtual, Kamis (23/09/2021).

“Jika hal ini tidak segera ditata, kita tidak berinvestasi pada kaum muda, dan tidak siap berkompetisi di tatanan global secara kreatif, maka Indonesia akan tertinggal dan tidak melangkah maju,” ujar Eddie Karsito.

Oleh karena itu, Pendiri Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan ini, menyambut baik berbagai program Mobile Arts for Peace (MAP), khususnya terkait dengan masalah penanganan kaum muda.

Photo : Istimewa

“Mengharapkan terjalinnya kerjasama kreatif, dan produktif melalui berbagai kegiatan seni budaya. Mencegah konflik melalui metode seni teater partisipatoris, dan bentuk lainnya. Membangun dan mengembangkan ruang dialog hingga tercipta kesepahaman dan saling pengertian menuju perdamaian,” ujar seniman yang dipercaya menjadi salah satu Konselor pada program Mobile Arts for Peace (MAP) ini.

Mobile Arts for Peace (MAP), merupakan program berbasis seni dan budaya yang melibatkan kaum muda, untuk membangun kesepahaman dan perdamaian, khususnya di empat Negara; Kyrgyzstan, Rwanda, Nepal, dan Indonesia.

Fokus pada topik-topik mendesak yang diidentifikasi oleh kaum muda. Sebuah peluang dan tantangan untuk pembangunan perdamaian berbasis seni budaya, di negara-negara yang terkena dampak konflik. Refleksi tentang pembangunan perdamaian lokal selama covid-19 dan perkembangan pesat alat dan komunikasi digital.

Mobile Arts for Peace (MAP) telah mengkaji beragam permasalahan penting yang berdampak pada kehidupan kaum muda. “Disini kesenian tidak saja difungsikan sebagai media ekspresi dan komunikasi. Melainkan menjadi wilayah kemanusiaan yang dapat mentransformasikan nilai-nilai dalam rangka membangun perdamaian dunia,” ujar Pendiri Rumah Budaya Satu-Satu (RBSS) ini.

Photo : Istimewa

Fase 1 – Acara Akhir Tahun Mobile Arts for Peace (MAP) berlangsung secara virtual. Diikuti dari Negara masing-masing oleh para penggiat kemanusiaan dari 4 negara + 1 Inggris.

Acara dibuka oleh Professor Ananda Breed sebagai Principal Investigator – Mobile Arts for Peace (MAP) dari University of Lincoln, UK – Inggris.

Menurutnya, Mobile Arts for Peace (MAP) merupakan program multi-disiplin internasional yang berupaya menawarkan wawasan tentang nilai metode berbasis seni untuk pembangunan perdamaian dengan dan untuk anak muda.

“Kegiatan kami dibentuk oleh masukan dari orang-orang muda dari berbagai latar belakang. Termasuk anak muda jalanan dari ibu kota Indonesia. Anak-anak dari pedesaan Nepal, orang muda yang tinggal di pemukiman migran baru di Kirgistan. Serta pemuda yang tumbuh di Rwanda pasca-genosida – yang mengidentifikasi, menganalisis, dan mendiskusikan berbagai isu yang menjadi perhatian mereka melalui metode berbasis seni,” papar Professor Ananda Breed.

Acara yang berlangsung selama tiga jam tersebut dipandu oleh Miss Koula Charitonos (Open University, UK), dan Miss Helena Marambio (University of Lincoln, UK).

Menampilkan narasumber Miss Dr. Harla Sara Octarra, M.Sc, Ketua Proyek Mobile Arts for Peace (MAP) untuk Indonesia, dari Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.

Tampil juga Miss Anara Eginalieva (Foundation for Tolerance International) dari Kyrgyzstan. Mr. Rajib Timalsina (Tribhuvan University), Mr. Bishnu Kathri (Human Rights Film Center), dari Nepal. Mr. Eric Ndushabandi (Institute of Research and Dialogue for Peace), dan Mr. Sylvestre Nzahabwanayo (University of Rwanda), dari Rwanda.

Mobile Arts for Peace (MAP) bertujuan jangka panjang untuk menyediakan pendekatan komparatif dalam hal praktik lintas disiplin berbasis seni untuk pembangunan perdamaian di empat Negara; Kyrgyzstan, Rwanda, Indonesia, dan Nepal.

Projek Mobile Arts for Peace (MAP) di Indonesia, menurut rencana akan dilaksanakan hingga tahun 2024 mendatang. Daerah Khusus Ibukota Jakarta menjadi basis awal pelaksanaan kegiatan yang melibatkan anak-anak muda rentang usia 12 – 20 tahun ini.

Projek Mobile Arts for Peace (MAP) di Indonesia, dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta dan sejumlah lembaga terkait.

Photo : Istimewa

Seniman dan lembaga seni yang bertindak sebagai penimbang/konselor di project Mobile Arts for Peace (MAP) ini, adalah Jose Rizal Manua dan Eddie Karsito (seniman), Padepokan Ciliwung Condet (PCC), Yayasan Peduli Musik Anak, Rumah Film Kalamtara, Kalanari Theatre Movement, dan Studio Hanafi.

Lembaga seni yang terlibat sebagai mitra adalah, Yayasan Bandungwangi, Yayasan Bina Matahari Bangsa (YBMB), Yayasan Hidung Merah, Wahana Visi Indonesia AP Urban Jakarta, Yayasan Anak Bangsa Indonesia (YABI), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DKI Jakarta, Sanggar Anak Akar, Forum Anak RPTRA Cipinang Besar Utara Jakarta, dan Forum Anak Budi Mulia Pademangan Jakarta.

“Kolaborasi Anda secara signifikan telah mendukung program MAP di Indonesia. Kontribusi yang tak ternilai. Kami ingin mengambil kesempatan untuk mengucapkan terima kasih. Kami berharap dapat melanjutkan kerjasama ini dengan Anda dan tim MAP di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya,” ungkap Professor Ananda Breed menutup. (***)

Continue Reading

Dunia Pendidikan

1.000 Ponpes Lolos Audisi Tahap Pertama Dapat Bantuan Modal OPOP

Published

on

Photo : Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum

Tasikmalaya, goindonesia.co – Sebanyak 1.000 pondok pesantren telah mendapatkan bantuan modal One Pesantren One Product (OPOP). Pemenang bantuan merupakan pondok pesantren yang lolos audisi tahap pertama.

Audisi tahap pertama OPOP 2021 ini sekaligus memastikan program unggulan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum tetap berjalan untuk kali ketiga berturut-turut. Pandemi Covid-19 sedikit memengaruhi tapi tidak mengurangi dana untuk OPOP.

Menurut Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, sebelumnya memang sempat ada rencana refocusing anggaran sampai ke tahap pembicaraan apakah OPOP dapat digelar lagi atau tidak. Namun dengan komitmen kuat hal itu urung dilaksanakan.

“Alhamdulillah program OPOP berhasil dilaksanakan walaupun ada penyesuaian di masa Covid-19. Ini adalah tahun ketiga pada masa kepemimpinan kami,” ujar Uu Ruzhanul Ulum saat membuka Pelatihan dan Magang Virtual OPOP Provinsi Jabar Tahun 2021 dari Rumah Singgah Wakil Gubernur, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (6/9/2021).

Uu menuturkan, berdasarkan komitmen bersama dirinya dan Gubernur Ridwan Kamil, program OPOP tetap dilaksanakan dengan anggaran tetap meskipun ada modifikasi dalam prosesnya.

“Kalau anggaran lain silakan refocusing, tapi tolong program keumatan, hibah, bansos, program OPOP jangan sekali-kali disentuh karena ini menyangkut keumatan,” tutur Pak Uu menirukan sikap Gubernur Ridwan Kamil.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jabar Kusmana Hartadji meskipun besaran dana OPOP tetap namun ada sedikit perubahan dalam jumlah pemenang audisi, yakni akan terjadi di tahap kedua di mana asalnya menyaring 100 ponpes kini menjadi 28 ponpes.

Sementara tahap pertama tetap 1.000 ponpes pemenang audisi dan pada setiap tahap tidak terhindarkan pemotongan pajak. Adapun pemenang tahap pertama akan dapat Rp25 juta dipotong pajak 15 persen untuk start up, dan Rp35 juta dipotong pajak 15 persen untuk scale up.

“Seluruhnya sudah diproses masuk rekening sejak tiga hari lalu,” sebut Kusmana yang akrab disapa Pak Tutus.

Adapun 28 pemenang audisi tahap kedua akan mendapatkan hadiah bantuan modal sebesar Rp100-200 juta. “Itu hanya scale-up saja, start-up tidak diikutsertakan,” jelasnya.

Untuk menentukan juara provinsi di tahap ketiga, Pak Tutus mengatakan pihaknya tetap mempertahankan jumlah tiga pemenang dengan masing-masing mendapatkan dana bantuan modal sebesar Rp400 juta. (***)

Continue Reading

Dunia Pendidikan

Arboretum Gambut Marsawa, Eduwisata Berbasis Lingkungan Pusat Konservasi Si Pemangsa Serangga

Published

on

Photo : Istimewa

Jakarta, goindonesia.co – Pengelola Arboretum Gambut, Sadikin (50 tahun) menjelaskan  cara menanam Kantong Semar kepada pengunjung Eduwisata Arboretum Gambut Marsawa, di Sungai Pakning.  Kantong Semar atau Nephentes dikenal sebagai tumbuhan karnivora, pemangsa serangga dan hewan-hewan kecil. Di tempat ini, ada sekitar 7 spesies Nephentes. Dua diantaranya berstatus dilindungi yakni Nephentes Sumatrana, Nephentes Spectabilis.

Sambil mengajarkan menanam, Sadikin menjelaskan bahwa lahirnya pusat eduwisata gambut terbesar di Provinsi Riau ini. Saat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sungai Pakning terjadi pada tahun 2014 -2015, terdapat lahan seluas 1.1 ha yang tidak terbakar.

“Lahan tersebut memiliki biodiversitas khas gambut yang beragam seperti meranti, mentangor, gaharu, geronggang, gelam, dan berbagai jenis kantong semar (nephentes) sehingga masyarakat tergerak untuk menjaga kelestarian ekosistem lahan ini melalui Kegiatan Konservasi secara mandiri,” kata Sadikin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (7/9).

Agar berkembang menjadi lokasi eduwisata, Sadikin dan warga lainnya yang sering berinteraksi dengan Pertamina Kilang Unit Produksi Sei Pakning, mengajukan keingian untuk mengembangkan fasilitas konservasi lahan gambut.

“Mimpi kami waktu mengajukan permohonan ke Pertamina agar dapat membantu mewujudkan pengembangan Arboretum Gambut, dengan fasilitas penunjang seperti Saung Edukasi, Rumah Bibit dan Musholla,” ujar pria peraih Kalpataru kategori Perintis Lingkungan, dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2020 ini.

Gayung bersambut, hingga lahirlah Arboretum Gambut Marsawa, yang kini telah menjadi lokasi konservasi tanaman khas gambut serta pembibitan Kantong Semar. Bagi siswa-siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Bukit Batu,  lokasi ini menjadi tujuan outbond Sekolah Dasar dengan materi Pendidikan Cinta Lingkungan Dini dan Pengenalan Ekosistem Gambut. Pengembangan program di Arboretum Gambut sebagai sarana eduwisata, juga mendapat dukungan dari Pertamina, melalui program tanggung jawab sosialnya.

“Arboretum Gambut Marsawa lambat laun menjadi Laboratorium bagi siswa-siswi Sekolah Dasar untuk mempelajari lebih lanjut karakteristik lahan gambut, penanaman pohon, dan cara mencegah terjadi kebakaran di lahan gambut. Selain itu, lokasi ini juga menjadi objek penelitian skripsi, tesis, serta disertasi bagi mahasiswa yang memiliki topik penelitian terkait biodiversitas di lahan gambut,” kata Imam Rismanto, Area Manager Comrel & CSR RU II Dumai.

VP CSR & SMEPP Management PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita, menambahkan program yang dilaksanakan Pertamina Kilang Unit Produksi Sei Pakning  bersama masyarakat mewujudkan Arboretum Gambut sebagai implementasi dari salah satu Sustainable Development Goals (SDGs) ke-15 yakni menjaga ekosistem darat dan SDGs ke-8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

“Praktek ini juga sejalan dengan upaya perusahaan dalam melindungi keanekaragaman hayati, dan sejalan dengan praktek ESG (Environment, Sosial and Governance) yang menjadi komitmen perusahaan,” jelas Arya.

Di masa pandemi, Arboretum Gambut sebagai sarana pendidikan dan penelitian keragaman hayati, terus beradaptasi agar keberadaan Arboretum Gambut Marsawa bisa dimanfaatkan untuk kepentingan edukasi dan penelitian.

“Awal pandemi tahun 2020, Arboretum Gambut sempat ditutup. Kemudian setelah berdiskusii bersama masyarakat dibuka kembali, dengan membatasi kunjungan dan menerapkan protokol Covid-19. Kami juga menambahkan fasilitas Marsawa Cafe. Area terbuka sebagai tempat berdiskusi yang dilengkapi dengan kantin dan sarana promosi produk masyarakat,” kata Imam.

Belum lama ini, Arboretum Gambut Marsawa juga menjadi pusat  kegiatan Research Grant yang diikuti oleh mahasiswa/i dari kampus-kampus di provinsi Riau. Selain menjadi lokasi penelitian, Arboretum Gambut juga menjadi sentra pembuatan pupuk kompos yang digunakan oleh para petani Nanas lahan gambut.  (***)

Continue Reading

Trending