Connect with us

Dunia

Perang Afghanistan dan Sejarah Taliban yang Kembali Berkuasa

Published

on

Ilustrasi. Sejarah Taliban di Afghanistan telah dimulai sejak lama. (AP/Mohammad Asif Khan)

Jakarta, goindonesia — Dalam beberapa hari terakhir, dunia digemparkan oleh aksi kelompok milisi Taliban yang berusaha menguasai seluruh wilayah Afghanistan. Tak tanggung-tanggung, kini Taliban bahkan berhasil menguasai ibu kota Kabul dan menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan.
Mengutip Al Jazeera, Taliban berhasil menguasai Istana Kepresidenan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan menyerahkan Istana Kepresidenan demi menghindari pertumpahan darah di negaranya.

Sejarah Taliban di Afghanistan sendiri telah dimulai sejak lama. Taliban digulingkan dari kekuasaannya di Afghanistan oleh pasukan yang dipimpin Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001 silam.

Praktis, sejak saat itu, perang berkepanjangan mewarnai hari-hari di Afghanistan. Taliban kian kuat dan kini telah mencapai puncaknya hingga menduduki ibu kota Kabul.

Setelah 20 tahun perang, pasukan AS perlahan menarik diri dari Afghanistan. Itu dilakukan sesuai kesepakatan antara AS dan Taliban.

Namun, setelah perjanjian, Taliban justru melancarkan serangan untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai tentara Afghanistan.

Ilustrasi. Sejarah Taliban di Afghanistan telah dimulai sejak lama. (Jawad Sukhanyar via Reuters)

Sejarah Taliban di Afghanistan dan perang berkepanjangan ini dipicu oleh tragedi 9/11 di AS. Petinggi Al Qaeda, Osama bin Laden, dituduh sebagai biang kerok peristiwa tersebut.

Kala itu, Osama bin Laden berada di Afghanistan di bawah perlindungan Taliban.

Tak menyerah, Taliban menolak menyerahkan Osama bin Laden. Hal itu kemudian memicu invasi pasukan militer AS ke Afghanistan sejak 2003 untuk menyingkirkan Taliban.

Tahun 2014 menjadi tahun paling berdarah sejak perang dimulai pada 2001 silam. Pasukan NATO, yang membantu tentara AS di Afghanistan, mengakhiri misi mereka dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Afghanistan.

Gayung bersambut, Taliban pun meresponsnya dengan merebut sejumlah wilayah di Afghanistan.

Mengapa Taliban begitu berpengaruh di Afghanistan? Bagaimana sejarah kelahiran kelompok ini? Berikut rangkuman sejarah Taliban di Afghanistan.

Sejarah Taliban di Afghanistan

Ilustrasi. Tragedi 9/11 menjadi awal mula sejarah Taliban berperang di Afghanistan. (AFP/-)

Taliban, dalam bahasa Pashto, berarti ‘pelajar’. Kelompok ini mengambil nama ‘taliban’ karena memang pada awalnya sebagian besar anggotanya merupakan siswa pesantren yang didirikan oleh para pengungsi Afghanistan di Pakistan pada tahun 1980-an.

Gerakan ini mulanya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan muncul di sejumlah pesantren yang dibiayai Arab Saudi dengan menganut aliran Sunni garis keras.

Akibat ketidakstabilan situasi politik dan runtuhnya rezim Soviet, kelompok ultrakonservatif ini berkembang dan eksis pada medio 1990-an.

Pada September 1995, mereka berhasil merebut Provinsi Herat, di perbatasan Iran. Tepat setahun kemudian, sejak 1996, Taliban menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan, termasuk di antaranya Kabul.

Di bawah kekuasaannya, Taliban memberlakukan hukum Islam yang ketat.

Mengutip News Sky, Taliban kemudian dituduh menegakkan hukum Islam yang brutal dan represif dengan eksekusi publik sebagai hukumannya. Perempuan diharuskan berpakaian tertutup dan pria harus menumbuhkan janggut.

Mengutip BBC, Taliban juga melarang kebebasan berekspresi. Masyarakat dilarang mendengarkan televisi, musik, dan menikmati film di bioskop. Perempuan di atas 10 tahun juga dilarang mengenyam pendidikan formal di sekolah.

Berbagai penerapan aturan itu membuat Taliban kerap dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia. (***)


Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Dunia

Shahar Perets Tolak Wamil Israel, Tak Mau Konfrontasi dengan Warga Jalur Gaza

Published

on

By

Jakarta, Goindonesia.co – Remaja perempuan asal Israel bernama Shahar Perets dijebloskan ke penjara oleh Akademi Militer Israel untuk yang ketiga kalinya. Hal ini lantaran Shahar menolak untuk mengikuti program wajib militer (wamil) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Israel. Keputusannya tersebut menyebabkan dirinya dianggap sebagai pengkhianat negara. 

Di Israel, terdapat program wajib militer (wamil), sebuah program sebagai bentuk bela negara dan menguatkan identitas nasional. Durasi program ini berlangsung dengan rentang waktu 2 tahun untuk perempuan dan 2,5 tahun untuk lelaki. Melalui program ini, warga negara diberi pendidikan dan pelatihan militer guna menjaga martabat dan keamanan negara.

Program ini wajib diikuti oleh para warga negara berusia 18 tahun yang merupakan pemeluk Yahudi dan Druze, serta para warga yang merupakan kelompok etnik dari Kawasan Kauskasus barat laut. 

Meskipun demikian, program ini tidak luput dari penolakan warga negara Israel sendiri. Faktor penolakan ikutserta dalam program wamil ini biasanya karena alasan medis, keluarga, dan agama. Namun, penolakan-penolakan ini lebih sering disampaikan secara tertutup.

Dikutip dari The New Arab, penolakan berbeda muncul dari remaja bernama Shahar Perets ini. Ia dengan lantang dan berani mengungkapkan penolakannya secara vokal. Alasan ideologis menjadi faktor utama Shahar lebih memilih dipenjara daripada mengikuti program wamil yang tidak sesuai dengan isi hatinya.

Shahar juga menolak keras atas tindakan penindasan atas rakyat di Jalur Gaza dan Tepi Barat, yang dilakukan oleh para angkatan militer. Shahar Perets tidak ingin menjadi bagian dari para militer tersebut.

Mengutip dari middleeastmonitor.com, tindakan Shahar yang terbuka ini membuatnya dicap sebagai pembelot dan tak acuh terhadap nasib warga Israel. Setidaknya, Shahar telah menjalani penjara, sebagai hukumannya, sebanyak tiga kali. Sanksi penjara diperoleh dirinya selama 18 hari.

Kemudian, pada kali kedua, durasi penjara yang harus dilakoninya yaitu selama 30 hari. Terpaksa, di ulang tahunnya yang ke-19, Shahar harus merayakannya di balik jeruji besi sembari menjalani masa hukuman penjara yang ketiga kalinya. 

Walaupun begitu, Shahar Perets tidak menyesali keputusannya menolak wamil di Israel itu. Menurutnya, pilihan yang ditetapkannya adalah hal benar. ”Penentangan yang terbuka ini termasuk bentuk penolakan revolusioner,“ kata dia, di middleeastmonitor.com pada 31 Oktober 2021.

Continue Reading

Dunia

Indonesia Jadi Presidensi G20, Jokowi Undang Pemimpin Dunia ke Bali 2022

Published

on

By

Jakarta, Goindonesia.co – Indonesia terpilih menjadi keketuaan atau presidensi G20, melanjutkan kepemimpinan Italia. Posisi ini untuk pertama kalinya dipegang oleh Indonesia, dan akan dilakukan pada tahun 2022.

Penyerahan presidensi dilakukan pada sesi penutupan KTT G20 Roma yang berlangsung di La Nuvola pada Minggu, (31/11/2021). Perdana Menteri Italia Mario Draghi secara simbolis menyerahkan palu kepada Presiden Jokowi yang kemudian mengetukkan palu tersebut.

“Saya sampaikan selamat kepada Italia yang telah sukses menjalankan presidensi G20 di tahun 2021. Indonesia merasa terhormat untuk meneruskan presidensi G20 di tahun 2022,” ujar Presiden Jokowi, seperti dalam keterangan Sekretariat Presiden, Senin (1/11/2021).

Presidensi G20 Indonesia akan mendorong upaya bersama untuk pemulihan ekonomi dunia dengan tema besar “Recover Together, Recover Stronger.” Pertumbuhan yang inklusif, people-centered, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan, menjadi komitmen utama kepemimpinan Indonesia di G20.

“Upaya tersebut harus dilakukan dengan cara luar biasa, terutama melalui kolaborasi dunia yang lebih kokoh, dan inovasi yang tiada henti. G-20 harus menjadi motor pengembangan ekosistem yang mendorong kolaborasi dan inovasi ini. Hal ini yang harus terus kita perdalam pada pertemuan-pertemuan kita ke depan,” jelasnya.

Jokowi secara langsung mengundang para pemimpin dunia yang hadir untuk melanjutkan diskusi pada KTT G20 yang rencananya digelar di Bali pada 30-31 Oktober 2022.

“Kami akan menjamu Yang Mulia dan Bapak, Ibu, di ruang terbuka, di hamparan pantai Bali yang indah, yang menginspirasi gagasan-gagasan inovatif untuk produktivitas G-20 ke depan. Sampai bertemu di Indonesia. Terima kasih,” tandasnya.

Continue Reading

Dunia

Dubes Yuddy Chrisnandi Terima Penghargaan Diplomat of The Year dari Republik Ukraina

Published

on

By

Goindonesia.co – Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Ukraina, Georgia dan Republik Armenia, Prof Dr Yuddy Chrisnandi, menerima penghargaan sebagai Diplomat of the Year di Ukraina. Penghargaan tersebut pertama kalinya diterima

Duta Besar RI sejak berdirinya KBRI Kyiv pada tahun 1994.

Dubes Yuddy menerima penghargaan tersebut di akhir masa tugas, setelah mengabdi selama 4,5 tahun di pos tersebut. Upacara penyerahan penghargaan berlangsung di Gedung House of Officer, Ministry of Defense of Ukraine,  di ibu kota Kyiv pada 1 Oktober lalu. Acara tersebut berlangsung meraih, dihadiri berbagai pejabat negara, kalagan diplomat dari berbagai kedutaan besar yang ada di Kyiv, akademisi, pengusaha, aktivis, dan lain-lain. Acara tersebut bahkan disiarkan langsung oleh televisi setempat untuk dipancarkan ke seluruh Ukraina.

Ambassadors Awards merupakan sebuah kegiatan Republik Ukraina yang memberikan penghargaan kepada para duta besar yang dinilai memiliki prestasi dan keberhasilan khusus, terutama dalam meningkatkan hubungan diplomatik antara kantor-kantor perwakilan asing dengan negara Ukraina.

Selain Dubes Yuddy, dua duta besar lain yang juga mendapat penghargaan adalah dubes Argentina dan dubes Azerbaijan, dari 69 duta besar yang ada di Ukraina.

Nominasi calon penerima penghargaan dilakukan Kementerian Luar Negeri Ukraina dengan memperhatikan juga masukan dari masyarakat, akademisi dan lembaga-lembaga terkait. Penetapan penerimanya dilakukan tim juri profesional dari Kementerian Luar Negeri Ukraina, dengan melibatkan suara kalangan masyarakat dan akademisi.

Dengan prestasi pertama kali sejak berdirinya KBRI Kyiv pada 1994 ini, diharapkan  penghargaan tersebut bisa meningkatkan citra positif Indonesia di Ukraina, yang juga meluas ke berbagai kalangan masyarakat di negara itu. [rls]

Continue Reading

Trending