Connect with us

Dunia

Wajah Afganistan Setelah Taliban Merebut Kembali

Published

on

Catatan Jeehan

Jakarta, goindonesia.co — AHAD (14 Agustus 2021) yang mencengangkan. Kabul, ibukota Afganistan jatuh ke tangan pasukan Taliban, yang melakukan konvoi dengan kendaraan bak terbuka, sambil mengacung-acungkan aneka senjata dalam genggaman.

Kabar yang kami terima dari di Isfahan, dari Kabul, seketika Presiden Afganistan, Ashraf Ghani meninggalkan negerinya. Tak ada yang bisa memastikan dia pergi ke mana. Informasi simpang siur menyebutkan, di diterbangkan ke Dubai – Uni Emirat Arab. Ada juga kabar dia kabur ke Tajikistan.

Lewat akun Facebook-nya, hanya meletik informasi, dia pergi, karena tak ingin menghindari pertumpahan darah. Alasan klasik yang selalu diungkapkan para Kepala Negara dan Pemerintahan, ketika ditaklukan aksi pendudukan bersenjata kaum yang mereka sebut pemberontak.

Pasukan bersenjata Taliban yang selama ini menguasai provinsi Kandahar, akhirnya merangsek ke Istana Kepresidenan. Mereka juga menduduki gedung parlemen, tempat politisi biasa berdebat dan menarik urat leher antar sesamanya. Tak diketahui pula ke mana para politisi itu pergi atau sembunyi, selama empat hari terakhir.

Taliban menduduki Kabul, setelah selama dua dasawarsa negeri itu berada dalam penguasaan Amerika Serikat (AS), yang melakukan invasi tahun 2001, yang dikenal dengan George Bush War, aksi balas dendam atas serangan aksi 11 September 2001, karena Taliban tak mau menyerahkan Osama bin Laden.

Osama pemimpin kelompok Al Qaeda, yang masih merupakan bagian dari keluarga kerajaan Saudi Arabia, disebut pemerintah George Bush sebagai orang paling harus bertanggung jawab atas aksi runtuhnya Wold Trade Center di New York City — yang menewaskan hampir 3.000 korban — setelah ditabrak dengan sengaja oleh dua pesawat yang dibajak 19 militan yang terkait dengan kelompok ekstremis al Qaeda dalam aksi serangan bunuh diri terhadap sasaran di Amerika Serikat.

Bersama sekutunya, Inggris, pasukan Amerika Serikat menyerang kamp latihan Al Qaeda pada Oktober 2001. November 2001, dibantu pasukan marinir Inggris mereka menguasai lapangan terbang Bagram.

Penguasa Taliban meninggalkan markas mereka di Kabul, bersama anak buah mereka menyingkir ke kawasan pegunungan Afganistan. Antara lain di Kandahar. Tetapi, di sini pasukan AS dan Inggris juga menerjang mereka.

Sejak saat itu, pasukan Taliban melakukan aksi perang gerilya. Aksi perang gerilya itu mereka lakukan selama dua dekade dengan berbagai peristiwa, termasuk melakukan komunikasi dengan misi Presiden AS Donald Trump, dengan rencana penarikan seluruh pasukan AS dari Afganistan.

Pada 14 April 2021,  Presiden AS Joe Biden mengumumkan penarikan pasukan AS dari Afghanistan mulai 1 Mei sampai 11 September, mengakhiri perang terpanjang Amerika, itu. Rencana yang dikemukakan Joe Biden, itu merupakan perpanjangan dari batas waktu penarikan sebelumnya pada 1 Mei yang disepakati antara misi Trump dengan Taliban.

Momentum ini dimanfaatkan oleh pasukan Taliban. 4 Mei – pasukan Taliban melancarkan serangan besar-besaran  dan menekan pasukan Afghanistan di bagian Selatan provinsi Helmand, sekaligus melakukan serangan paralel keenam provinsi lain.

Distrik Nerkh di luar ibu kota Kabul dikuasai pada 11 Mei, saat kekerasan meningkat di seluruh negeri, dan menewaskan lebih dari 150 tentara Afghanistan dalam pertempuran memburuk yang berlangsung selama 24 jam. Serdadu Afganistan juga kewalahan menghadapi mereka, pada pertempuran yang berkecamuk di 26 dari 34 provinsi di negara itu.

11 Juni 2021, gerilyawan  Taliban melancarkan serangkaian serangan di utara negara itu, yang lokasinya jauh dari benteng tradisional mereka di selatan. Utusan PBB untuk Afghanistan menyebut, Taliban sudah menduduki dan mengambil lebih 50 dari 370 distrik negara itu.

2 Juli – Pasukan Amerika diam-diam menarik diri dari pangkalan militer utama mereka di Afghanistan – Pangkalan Udara Bagram, satu jam perjalanan dari Kabul. Ini secara efektif mengakhiri keterlibatan AS dalam perang. Tiga hari kemudian, Taliban mengajukan proposal perdamaian tertulis kepada pemerintah Afghanistan segera setelah Agustus.

Pasukan Afganistan kian terpepet. Gerilyawan Taliban, pada  21 Juli, menurut seorang jendral senior AS sudah menguasai sekitar setengah dari distrik negara itu, dan mengingatkan aksi cepat pergerakan nya.

Pada 25 Juli, AS lantas berjanji untuk terus mendukung pasukan Afghanistan “dalam beberapa minggu mendatang” dengan serangan udara intensif untuk membantu mereka melawan serangan Taliban.

Antara Mei sampai 25 Juli 2021, itu dalam catatan utusan PBB untuk Afganistan, tak kurang dari 2.400 warga sipil Afghanistan tewas atau terluka dalam kekerasan yang meningkat, peningkatan jumlah korban yang cepat sejak pencatatan dimulai pada 2009.

Lantas, Zaranj di selatan negara itu menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh ke tangan Taliban dalam beberapa tahun, pada 6 Agustus 2021. Setelah itu, banyak lagi yang jatuh ke tangan Taliban, termasuk kota Kunduz yang strategis di utara.

Empat ibu kota provinsi jatuh dalam sehari, termasuk Kandahar, kota kedua di negara itu dan rumah spiritual Taliban, pada 13 Agustus. Pada saat bersamaan, Taliban menangkap lawan bebuyutannya, komandan veteran Mohammad Ismail Khan,  di Herat.

14 Agustus, Kota utama di Utara, Mazar-i-Sharif dan Pul-e-Alam, ibu kota provinsi Logar hanya 70 km (40 mil) selatan Kabul, juga dikuasai Taliban, dengan sedikit perlawanan.

AS tak ambil peduli, karena sibuk mengirim lebih banyak pasukan untuk membantu mengevakuasi warga sipilnya dari Kabul ketika Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan dia sedang berkonsultasi dengan mitra lokal dan internasional untuk mengatasi keadaan.

Gerakan pasukan Taliban tak terbendung. 15 Agustus, mereka merebut kota timur utama Jalalabad tanpa perlawanan, yang sekaligus menandai, ibukota Afganistan, Kabul, secara efektif sudah mereka kepung.

Pada hari itu juga, mereka masuk ke Kabul, ketika pasukan AS sedang mengevakuasi para diplomat dari kedutaannya dengan helikopter. Televisi lokal 1TV melaporkan, beberapa ledakan terdengar di kota, yang sebagian besar sepi pada hari sebelumnya.

Suara rentetan tembakan terdengar di dekat bandara, ketika itu, seperti mengiringi warga Afganistan yang hendak meninggalkan ibukota itu. Dan.. saat itulah tersiar kabar, Presiden Afganistan Ghani, kabur dari Kabul.

Pasukan Taliban merangsek masuk istana presiden dan menguasainya, yang mereka perlakukan laiknya tenda tempat pertahanan mereka selama ini.

Selasa, 17 Agustus 2021, Zabihullah Mujahid yang selama dua dekade menjadi ‘voice of Taliban,’ menampakkan dirinya dan langsung menghiasi berbagai platform media ke seluruh dunia. Itulah pertama kalinya, khalayak dunia mengenali wajahnya.

Hari itu, Mujahid tampil di hadapan wartawan,  di ruangan yang biasa digunakan pemerintah Afghanistan memberi keterangan kepada media. Mikrofon dan perabotannya, juga masih yang sama. Bahkan tirai latarnya pun  sama. Hanya benderanya saja yang berbeda. Bendera putih Taliban telah menggantikan bendera Afghanistan.

Mujahid nampak berusaha meyakinkan, bahwa Taliban hadir dengan nada damai. Ia mengulangi jaminan Taliban sebelumnya, bahwa mereka tidak merencanakan balas dendam terhadap orang-orang yang selama ini telah menentang mereka di Afghanistan, bahkan mereka yang telah bekerja dengan pasukan militer Amerika dan NATO.

Konferensi pers itu memang ditunggu berbagai kalangan, karena bersamaan dengan jatuhnya Kabul ke tangan Taliban, tersebar berbagai cuplikan video clip bagaimana mereka melakukan hukum sebat dan rajam atas perempuan pelaku zina. Masyarakat dunia seolah sedang menanti informasi, Taliban akan melakukan aksi brutal dari tahun-tahun awal mereka berkuasa, untuk membenrkan persepsi global tentang mereka. Lantas, membalik kehidupan di Afganistan, khasnya Kabul, yang selama 20 tahun mengalami perubahan dengan kuatnya budaya Barat yang dibawa pasukan AS dan sekutunya.

Di luar ekpektasi, ketika Mujahid menyatakan, “Beri kami waktu.” Dia mengatakan, Taliban sedang melakukan “pembicaraan serius” tentang bentuk pemerintahan baru. Lantas, memberikan jaminan kepada perempuan Afghanistan, yang ketika terakhir kali Taliban menguasai negara itu, terkesan melakukan tekanan terhadap perempuan.

“Kami menjamin bahwa tidak akan ada kekerasan terhadap perempuan,” katanya, “tidak ada prasangka terhadap perempuan yang akan diizinkan, tetapi nilai-nilai Islam adalah kerangka kerja kami.”

Perempuan, kata Mujahid, akan aktif dalam masyarakat, diizinkan untuk bekerja dan belajar, tetapi “dalam batas-batas yang diatur dan diperbolehkan hukum Islam.”

Para perempuan Afganistan memang was-was, termasuk akan diberlakukan kembali pemakaian burqa, yang di masa lalu menyesakkan. Namun, selama pandemi nanomonster Covid-19, justru menjadi pilihan di berbagai kawasan Timur Tengah.

Pada hari itu, suasana kehidupan di Kabul, tampaknya kembali normal. Toko-toko dibuka dan lalu lintas kembali ramai, meskipun mobil warga mesti berhenti di pos pemeriksaan.

Perempuan-perempuan, juga mulai muncul di jalan-jalan di beberapa lingkungan, dengan sedikit perubahan dalam cara mereka berpakaian. Perempuan-perempuan Afganistan, itu nampak lebih sopan, dengan abaya yang lebih longgar dan syal yang lebih ketat. Tak terkesan Taliban akan mewajibkan kembali burqa, seperti mereka lakukan pada tahun 1990-an.

Di televisi, jurnalis perempuan terlihat meliput dari jalan-jalan dan mewawancarai anggota Taliban di studio. Tapi, mereka masih berhati-hati dalam menayangkan musik ilustrasi.

Dalam konferensi pers pertama, Mujahid mengemukakan, “Kami menginginkan sistem Islam yang kuat.” Dia tidak mengatakan, bahwa pemerintahan Taliban akan seperti dulu, ketika mereka berkuasa.

Menjawab pertanyaan seputar warga sipil Afganistan yang menjadi korban perang antara mereka dengan pemerintah Afganistan yang dibentengi AS dan sekutunya, Mujahid secara diplomatis mengatakan, “Keluarga kami juga menderita. Kita juga menyayangkan warga sipil yang menjadi korban.”

Ihwal juru bicara pemerintah yang ditembak pasukan Taliban pekan lalu, Mujahid mengatakan, “Itu adalah peristiwa dalam perang.”

Di luar penjelasan resmi dalam konferensi pers, itu beredar informasi, Taliban masih mencari Ashraf Ghani, bekas Presiden Afganistan yang kabur, itu. Yang jelas, Taliban meminta seluruh pejabat pemerintah yang ditinggalkan Ghani, untuk tetap tinggal, tetapi para pejabat mengatakan Ghani telah meninggalkan negara itu.

Agaknya, tak akan ada pemerintahan transisi. Taliban akan langsung melakukan perubahan sesuai dengan ideologi mereka, meski harus dilakukan secara bertahap. Penegasan, itu membantah penjelasan Abdul Sattar, penjabat menteri dalam negeri pemerintah, yang mengatakan bahwa kekuasaan akan diserahkan kepada pemerintahan transisi.

Mujahid menjelaskan, seluruh pasukan Taliban harus bersiaga di semua pintu masuk Kabul sampai penyelenggaraan kekuasaan yang damai dan memuaskan berlangsung. Wakil pemerintah lama dengan wakil Taliban bertemu di Qatar pada Ahad depan, kata Fawzi Koofi, anggota tim perunding Kabul.

Dari konferensi pers pertama Taliban, mengemuka pandangan, Taliban tampaknya mencoba untuk menampilkan wajah yang lebih modern. Setidaknya, hal itu mengemuka dari pandangan Suhail Shaheen, salah seorang asisten Mujahid, yang menjelaskan ihwal kemerdekaan perempuan bekerja ddalam profesi sebagai jurnalis dan diplomat.

Menurut Shaheen kepada BBC, Taliban juga menjamin properti dan kehidupan rakyat warga Afganistan aman.” Belum nampak wajah baru Afganistan setelah Taliban merebut kembali negara tempat kelahiran Jamaluddin al Afghani, itu. (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Dunia

Pemimpin Hamas kepada Israel: Kami Telah Memperingatkan Anda

Published

on

Ismail Haniyeh REUTERS

Jakarta, goindonesia.co – Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, Sabtu, 7 Oktober 2023, mengatakan serangan yang dimulai di Gaza akan menyebar ke Tepi Barat dan Yerusalem. Warga Gaza telah hidup di bawah blokade Israel selama 16 tahun.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Haniyeh menyoroti ancaman terhadap Masjid Al Aqsa Yerusalem, kelanjutan blokade Israel terhadap Gaza dan normalisasi Israel dengan negara-negara di kawasan.

“Berapa kali kami memperingatkan Anda bahwa rakyat Palestina telah tinggal di kamp pengungsi selama 75 tahun, dan Anda menolak mengakui hak-hak rakyat kami?”

Haniyeh mengatakan kepada negara-negara Arab bahwa Israel tidak dapat memberi mereka perlindungan apa pun meskipun ada pemulihan hubungan diplomatik baru-baru ini.

Hamas melancarkan serangan terbesar terhadap Israel pada Sabtu, menewaskan puluhan orang dan menyandera dalam serangan mendadak yang menggabungkan orang-orang bersenjata yang menyeberang ke Israel dengan rentetan roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

Israel mengatakan kelompok yang didukung Iran telah menyatakan perang ketika tentaranya mengkonfirmasi pertempuran dengan militan di beberapa kota Israel dan pangkalan militer di dekat Gaza, dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji akan membalas.

Dalam pidatonya, Haniyeh berbicara kepada negara-negara Arab yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami mengatakan kepada semua negara, termasuk saudara-saudara Arab kami, bahwa entitas ini, yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri ketika menghadapi perlawanan, tidak dapat memberikan perlindungan apa pun kepada Anda,” katanya.

“Semua perjanjian normalisasi yang Anda tandatangani dengan entitas tersebut tidak dapat menyelesaikan konflik (Palestina) ini.”

Pada tahun 2020, Israel mencapai normalisasi hubungan dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain, serta meningkatkan hubungan dengan Maroko dan Sudan, meskipun pembicaraan dengan Palestina terhenti selama bertahun-tahun.

Arab Saudi dan Israel juga terlibat dalam perundingan yang dimediasi AS untuk menormalisasi hubungan, sebuah prospek yang menuai kecaman dari beberapa faksi Palestina.

Haniyeh juga mengatakan faksi-faksi bersenjata Palestina bermaksud memperluas pertempuran yang sedang berlangsung di Gaza hingga ke Tepi Barat dan Yerusalem. “Pertempuran tersebut berpindah ke jantung ‘entitas Zionis’,” katanya.

Senada dengan Haniyeh, Osama Hamdan, pemimpin Hamas di Lebanon, mengatakan kepada Reuters bahwa operasi Sabtu harus membuat negara-negara Arab menyadari bahwa menerima tuntutan keamanan Israel tidak akan membawa perdamaian. (***)

*REUTERS, @dunia.tempo.co

Continue Reading

Dunia

Seberapa Jauh Amerika Akan Membantu Ukraina?

Published

on

Bantuan militer AS untuk Ukraina, dalam proses pengiriman (Foto : Istimewa)

Pemerintahan Biden telah menarik garis pada tindakan yang menurutnya dapat memprovokasi Rusia. Tetapi demarkasi antara perang proxy dan perang nyata semakin kabur. Amerika Serikat telah memasok senjata Ukraina selama bertahun-tahun dan meningkatkannya saat invasi Rusia dimulai. AS telah mengirimkan rudal, senjata antitank, sekitar 50 juta peluru dan sistem yang dapat menembak jatuh pesawat Rusia.

JERNIH–Apa yang paling diinginkan Ukraina dari Barat untuk mengakhiri perang, paling tidak mungkin diberikan oleh Barat. Itulah ketegangan yang melekat antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Biden.

Menutup langit, seperti yang berulang kali diminta Zelensky kepada Amerika Serikat dan NATO,akan menghentikan Rusia mengebom kota-kota Ukraina. Tetapi menegakkan zona larangan terbang di atas Ukraina dapat menyebabkan Amerika Serikat memasuki perang dengan Rusia–atau bahkan seperti diperingatkan Biden, itu akan menjadi ”Perang Dunia III.”

Pemerintahan Biden telah menarik garis pada tindakan yang menurutnya dapat memprovokasi Rusia. Tetapi demarkasi antara perang proxy dan perang nyata semakin kabur. Amerika Serikat telah memasok senjata Ukraina selama bertahun-tahun dan meningkatkannya saat invasi Rusia dimulai. AS telah mengirimkan rudal, senjata antitank, sekitar 50 juta peluru dan sistem yang dapat menembak jatuh pesawat Rusia.

Biden menuduh Rusia melakukan kejahatan perang dan genosida, dan pada hari Rabu lalu mengumumkan akan mengirim lebih banyak bantuan ke Ukraina, termasuk senjata mematikan seperti ranjau dan bahkan helikopter. “Kita tidak bisa beristirahat sekarang,” kata Biden dalam sebuah pernyataan setelah berbicara dengan Zelensky di telepon.

Dalam konferensi pers, wartawan bertanya apakah Rusia mungkin memandang helikopter sebagai sangat provokatif, terutama karena pemerintahan Biden telah mengenyampingkan penyediaan jet tempur untuk Ukraina ketika Presiden Rusia Vladimir Putin meningkatkan retorikanya tentang perang nuklir dengan cara yang membuat pejabat AS gugup.

Ketika pemerintahan Biden meningkatkan jumlah dan bahkan senjata mematikan yang dikirim ke Ukraina, mereka bersikeras bahwa mereka tidak meningkatkan perang dengan cara yang dapat memperburuk Rusia. “Keputusan ini semua dilakukan dengan hati-hati,” kata Juru Bicara Pentagon, John Kirby.

Kepada pembacanya The Washington Post bertanya, di mana mereka akan menarik garis untuk membantu Ukraina, dengan mempertimbangkan pro dan kontra yang hidup di keseharian AS.

Sanksi

Barat bertekad untuk terus mencekik ekonomi Rusia semakin lama perang berlangsung. Rusia sudah menghadapi lebih banyak sanksi daripada negara lain mana pun, menurut CastellumAI, basis data global yang melacak hukuman semacam itu.

Amerika Serikat memimpin di bidang ini. Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi pada 10 bank terbesar Rusia, banyak oligarki Rusia, dan telah melarang impor minyak Rusia.

“Ini telah menyebabkan ekonomi Rusia, sejujurnya, jebol,” kata Biden tentang rejimen sanksi yang sudah ada. Namun dalam ekonomi global, sanksi ini telah memantul. Biden awalnya enggan melarang minyak Rusia karena kemungkinan akan mendorong harga gas dan energy di dalam negeri.

Berikut adalah opsi yang sudah atau telah dipertimbangkan oleh pemerintahan Biden.

Di mana Anda akan menarik garis untuk keterlibatan AS di antara enam opsi ini? Klik baris untuk melihat bagaimana keputusan Anda dibandingkan dengan pembuat kebijakan AS.

Sanksi oligarki Rusia

PRO-Hal ini dapat mengubah elit Rusia melawan Putin.

CON-Tidak sejauh menyangkut AS; Sanksi Rusia terhadap politisi dan pejabat AS ditertawakan di Amerika.

Sanksi lembaga keuangan utama Rusia

PRO-Ini telah melumpuhkan ekonomi Rusia karena mencoba mengobarkan perang.

CON-Dalam dunia yang terglobalisasi, penurunan di negara besar memengaruhi negara lain yang berbisnis dengannya.

Mempersulit Rusia untuk berdagang dengan AS dan negara-negara Barat lainnya

PRO-Ini memotong ekonomi Rusia dari Barat, membuat Rusia lebih sulit untuk mempertahankan perang.

CON-Ini merugikan bisnis AS yang melakukan perdagangan dengan Rusia, seperti di industri semikonduktor.

Larang semua impor minyak dan gas Rusia

PRO-Ini adalah sikap simbolis yang kuat.

CON-Hal ini menyebabkan harga gas dan energi di AS naik, pada saat harga sudah tinggi.

Mempersulit Rusia untuk menggunakan cryptocurrency

PRO-Beberapa pembuat kebijakan khawatir rezim Rusia dan oligarki Rusia akan menggunakan mata uang digital untuk mengakhiri sanksi yang menghambat akses mereka ke sistem perbankan global.

CON-Federal mengatakan keterlacakan cryptocurrency pada blockchain publik dan ukuran pasar aset digital yang terbatas menjadikannya alternatif yang tidak dapat dijalankan untuk saluran keuangan tradisional.

Sanksi semua politisi Rusia yang tidak mencela Putin

PRO-Zelensky meminta AS untuk melakukan ini, untuk mencoba membuat elit Rusia menentang perang.

CON -Itu bisa memutuskan hubungan diplomatik apa pun yang dimiliki AS dengan Rusia untuk mencoba mengakhiri perang ini, atau mencegah perang di masa depan.

Militer

Bagaimana membantu militer Ukraina mempertahankan negaranya adalah topik yang jauh lebih sulit bagi pembuat kebijakan AS. Mereka sangat khawatir untuk memulai perang yang jauh lebih besar dengan memprovokasi lebih banyak agresi Rusia ke sekutu NATO yang berbatasan dengan Ukraina dan Eropa Barat—atau, dalam skenario yang lebih buruk, membuka pintu bagi perang nuklir.

“Kami tidak akan berperang dalam perang dunia ketiga di Ukraina,” kata Biden. Tetapi Ukraina mengatakan satu-satunya cara untuk menghentikan perangnya adalah agar Barat menjadi lebih agresif terhadap Rusia.

Berikut menu opsi militer. Beberapa di antaranya sudah atau telah dipertimbangkan oleh pemerintahan Biden. Lainnya telah dikesampingkan sepenuhnya.

Memberikan intelijen ke Ukraina

PRO-AS dan negara-negara lain memiliki badan intelijen yang jauh lebih unggul daripada Ukraina, jadi beberapa intelijen terbaik dunia tentang pergerakan Rusia selama perang sampai ke pejuang Ukraina dengan cepat.

CON-AS harus berhati-hati dengan apa yang dibagikannya, beroperasi dengan asumsi ada mata-mata Rusia di intelijen Ukraina.

Persenjatai Ukraina dengan rudal anti-armor dan antipesawat

PRO-Saat Rusia menerbangkan pasokannya, Ukraina menerima senjata ampuh yang telah menghancurkan sejumlah besar kendaraan lapis baja dan tank serta beberapa pesawat dan mengganggu jalur pasokan Rusia. Efek dari senjata-senjata ini mungkin telah merusak moral tentara Rusia, di tengah laporan bahwa beberapa telah meninggalkan unit mereka.

CON-Weapons bergerak melalui Ukraina adalah target menarik bagi pasukan Rusia. Jika Rusia meningkat lebih lanjut untuk menyerang tempat seperti Polandia, di mana senjata mengalir, itu pasti akan memperluas konflik di luar Ukraina.

Berikan jet tempur buatan Rusia ke Ukraina

PRO-Tambahan jet akan memungkinkan Ukraina untuk memperluas jumlah penerbangan yang dilakukan per hari melawan angkatan udara Rusia. Pesawat-pesawat itu juga dapat digunakan untuk menyediakan suku cadang bagi jet-jet Ukraina lainnya yang masih rusak.

CON-Para pejabat AS khawatir ini bisa memicu eskalasi serangan dari Rusia. Pentagon juga mengatakan bahwa dengan Rusia yang mengoperasikan sejumlah besar rudal permukaan-ke-udara, Ukraina masih akan terbatas dalam seberapa banyak ia dapat terbang.

Beri Ukraina pertahanan udara yang lebih kuat

PRO-Ini bahkan bisa lebih efektif daripada mengirim jet tempur pasukan Ukraina. Jet Rusia akan kurang mampu membom Ukraina di ketinggian. Seorang pilot pesawat tempur Ukraina baru-baru ini mengatakan kepada The Post bahwa pilotnya adalah “hanya target” untuk pesawat Rusia yang lebih canggih.

CON-Russia melihat pemasok sistem yang lebih kuat ini sebagai negara-negara eskalator dan menyerang yang menyediakannya ke Ukraina, memicu konflik yang lebih luas. Ada juga sistem penuaan yang tersedia dalam jumlah terbatas, menjadikannya target utama bagi pasukan Rusia.

Kirim drone

PRO-Drone akan menciptakan dilema baru bagi pasukan Rusia untuk dihadapi dan dapat digunakan untuk menargetkan unit artileri dan konvoi Rusia. Ukraina telah menggunakan drone buatan Turki yang dimilikinya sebelum invasi untuk menghancurkan kendaraan lapis baja Rusia.

CON-Russia dapat melihat memasok sistem yang lebih kuat ini sebagai negara-negara eskalator dan menyerang yang menyediakannya ke Ukraina, memicu konflik yang lebih luas.

Kirim senjata untuk menemukan dan menyerang artileri Rusia

PRO-“Tembakan baterai balik”, seperti yang diketahui, membatasi kemampuan pasukan lawan untuk melakukan lob beberapa putaran pada target yang sama dari satu lokasi.

CON-Weapons bergerak melalui Ukraina adalah target menarik bagi pasukan Rusia. Jika Rusia meningkat lebih lanjut untuk menyerang tempat seperti Polandia, di mana senjata mengalir, itu pasti akan memperluas konflik di luar Ukraina.

Buat zona larangan terbang di atas Ukraina

PRO-Itu bisa menghentikan atau mengurangi pengeboman kota-kota Ukraina.

CON-Menegakkannya akan setara dengan pertempuran langsung dengan Rusia, kata pejabat AS, dan dapat menyebabkan Perang Dunia III. Itu juga akan membutuhkan serangan terhadap target Rusia, seperti sistem rudal permukaan-ke-udara, yang berada di atas perbatasan di Rusia.

Kirim pasukan tempur AS ke Ukraina

PRO-Ukraina akan memiliki bala bantuan dalam perang mereka melawan Rusia dengan senjata dan pengalaman tempur yang unggul.

CON-Melakukan hal itu sama saja dengan pertempuran langsung dengan Rusia, kata para pejabat AS, dan mereka memperingatkan hal itu dapat menyebabkan Perang Dunia III. (***)

Continue Reading

Dunia

Tingkat Penularan NeoCov Tinggi, Membunuh 1 Dari 3 Pasien

Published

on

Foto: Lonjakan kasus covid di China. (VIA REUTERS/STRINGER)

Jakarta, goindonesia.co – Virus corona varian baru ditemukan. Varian bernama ‘NeoCoV’ itu disebut mengancam tingkat infeksi dengan kematian yang lebih tinggi dibandingkan jenis virus sebelumnya yang menyebabkan pandemi di belahan negara di dunia.

Hal tersebut terungkap dari sebuah laporan sebuah penelitian yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, yang diterbitkan oleh para peneliti China dalam jurnal BioRxiv pada awal pekan ini.

Laporan ini menyebutkan bahwa NeoCoV sebenarnya bukan varian baru dari virus corona yang telah menyebabkan pandemi global.

Sebaliknya, virus tersebut berasal dari jenis virus corona yang berbeda, yang terkait dengan sindrom pernapasan Timur Tengah (Mers-CoV).

Mers-CoV yang asal-usulnya tidak sepenuhnya dipahami, adalah virus yang ditularkan ke manusia dari unta dromedari (Arab) yang terinfeksi.

Virus ini bersifat zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia dan dapat ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan.

“Mers-CoV telah diidentifikasi pada dromedari di beberapa negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan,” kata Organisasi Kesehatan Dunia, dikutip dari Media Internasional berbasis di Inggris, Independent, dikutip Senin (31/1/2022).

“Secara total, 27 negara telah melaporkan kasus sejak 2012, menyebabkan 858 kematian yang diketahui karena infeksi dan komplikasi terkait.”

WHO mengatakan 35% pasien yang terinfeksi Mers-Covid telah meninggal, meskipun kemungkinan juga karena kasus-kasus bawaan yang mungkin terlewatkan oleh sistem pengawasan yang ada.

Nah, NeoCoV adalah kerabat Mers-CoV dan beredar di kelelawar. Dalam penelitian yang diterbitkan minggu ini, para ilmuwan yang berbasis di Wuhan memperingatkan bahwa NeoCoV dapat menyebabkan masalah jika ditransfer dari kelelawar ke manusia.

Virus corona khusus ini tampaknya tidak dinetralisir oleh antibodi manusia yang dilatih untuk menargetkan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, atau Mers-Cov.

Studi ini menunjukkan ada potensi ancaman NeoCoV menginfeksi manusia, tetapi tidak ada bukti sejauh ini atau tidak ada indikasi seberapa menular atau fatalnya.

Tes laboratorium juga menunjukkan bahwa kemampuan NeoCoV untuk menginfeksi sel manusia buruk.

“Kita perlu melihat lebih banyak data yang mengkonfirmasi infeksi pada manusia dan tingkat keparahan yang terkait sebelum menjadi cemas,” Profesor Lawrence Young, seorang ahli virus di Universitas Warwick, mengatakan kepada The Independent.

“[Studi] pra-cetak menunjukkan bahwa infeksi sel manusia dengan NeoCoV sangat tidak efisien.

“Apa yang disoroti ini, bagaimanapun, adalah perlunya waspada tentang penyebaran infeksi virus corona dari hewan (terutama kelelawar) ke manusia.

“Ini adalah pelajaran penting yang perlu kita pelajari yang membutuhkan integrasi yang lebih baik dari penelitian penyakit menular pada manusia dan hewan.”

Virus ini disebut-sebut dapat membunuh 1 dari 3 orang yang terinfeksi. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa viru NeoCov ini masih perlu diteliti lebih lanjut. (***)

Continue Reading

Trending