Connect with us

Health

Indonesia Datangkan Lagi 5 Juta Dosis Sinovac, Total Sudah 225,4 Juta Dosis

Published

on

Photo : Istimewa

Jakarta , goindonesia.co –Pemerintah Indonesia kembali mendatangkan vaksin Covid-19 untuk mendukung percepatan program vaksinasi nasional. Pada tahap ke-50 ini, sebanyak 5 juta dosis vaksin Sinovac tiba dalam bentuk jadi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, kedatangan vaksin tahap ke-50 ini menjadi bukti nyata pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan stok untuk mencukupi kebutuhan vaksin Covid-19 di Indonesia.

“(Total) Vaksin jadi Sinovac yang sudah diterima, termasuk hari ini, adalah 33 juta dosis. Sedangkan total vaksin Sinovac dalam bentuk bulk (bahan baku) yang sudah diterima adalah 153.900.280. Selain itu, AstraZeneca 19,5 juta dosis, Moderna 8 juta dosis, Pfizer 2,75 juta dosis, Sinopharm 8,25 juta dosis,” kata Airlangga dalam keterangan pers kedatangan vaksin tahap ke-50, Senin (6/9/2021).

Secara keseluruhan, hingga saat ini Indonesia telah kedatangan 225,4 juta dosis vaksin dari berbagai merek, baik berbentuk bulk maupun berbentuk vaksin jadi.

“Penambahan yang baru datang siang ini sebanyak 5 juta dosis vaksin Sinovac memastikan bahwa stok vaksin sudah aman,” ujarnya.

Airlangga menegaskan, pemerintah memastikan keamanan, mutu, dan khasiat untuk seluruh jenis vaksin yang diperoleh. Vaksin yang telah tersedia di Indonesia juga melalui proses evaluasi yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang juga melibatkan para ahli Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) serta Organisasi kesehatan dunia WHO dan para ahli.

“Masyarakat tidak perlu ragu dan khawatir untuk menerima vaksin, semua merek vaksin berkhasiat untuk melindungi masyarakat. Tidak perlu memilih-milih, vaksin yang terbaik adalah vaksin yang tersedia pada saat ini,” kata Airlangga.

Sampai dengan 5 September 2021, sebanyak 66,78 juta orang telah menerima vaksin dosis pertama, 38,2 juta orang menerima dosis kedua, dan vaksinasi dosis ketiga untuk tenaga kesehatan sebanyak 713.068 orang.

“Saat ini tingkat kesembuhan kita 92,8% sejak diberlakukannya PPKM dibandingkan global yang sekitar 89,4%. Bed occupancy rate (BOR) kita sudah turun dalam seminggu ini sebesar 76%. Tentu kita terus waspada agar tidak terjadi gelombang berikutnya. Dengan kerja sama yang baik, khususnya vaksinasi, kita harap bangsa kita bisa mengendalikan pandemi Covid-19 dan memulihkan perekonomian nasional,” kata Airlangga.Berikut data kedatangan vaksin Covid-19 di Indonesia:

1. Vaksin Sinovac tahap pertama tiba pada 6 Desember 2020 sebanyak 1,2 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

2. Vaksin Sinovac tahap kedua tiba pada 31 Desember 2020 sebanyak 1,8 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

3. Vaksin Sinovac tahap ketiga tiba pada 12 Januari 2021 sebanyak 1,5 juta dosis bentuk setengah jadi dan 15 juta dosis bahan baku.

4. Vaksin Sinovac tahap keempat tiba pada 2 Februari 2021 sebanyak 1 juta dosis dalam bentuk setengah dan 10 juta dosis bahan baku.

5. Vaksin Sinovac tahap kelima tiba pada 2 Maret 2021 sebanyak 10 juta dalam bentuk bahan baku.

6. Vaksin Astrazeneca tahap keenam tiba pada 8 Maret 2021 sebanyak 1.113.600 dosis dalam bentuk jadi.

7. Vaksin Sinovac tahap ketujuh tiba pada 25 Maret 2021 sebanyak 16 juta dalam bentuk bahan baku.

8. Vaksin Sinovac tahap kedelapan tiba pada 18 April 2021 sebanyak 6 juta dalam bentuk bahan baku.

9. Vaksin Astrazeneca tahap kesembilan tiba pada 26 April 2021 sebanyak 3.852.000 juta dosis dalam bentuk jadi.

10. Vaksin Sinovac tahap ke-10 tiba pada 30 April 2021 sebanyak 6.000.000 dosis dalam bentuk bahan baku dan vaksin Sinopharm sebanyak 482.400 dosis dalam bentuk jadi.

11. Vaksin Sinopharm tahap ke-11 tiba pada 1 Mei 2021 sebanyak 500.000 dosis dalam bentuk jadi.

12. Vaksin Astrazeneca dari Covax Facility pada tahap ke-12 tiba pada 8 Mei 2021 sebanyak 1.389.600 dosis dalam bentuk jadi.

13. Vaksin Sinovac tahap ke-13 tiba pada 25 Mei 2021 sebanyak 8 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

14. Vaksin Sinovac tahap ke-14 tiba pada 31 Mei 2021 sebanyak 8 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

15. Vaksin Astrazeneca tahap ke-15 tiba pada 5 Juni 2021 sebanyak 313.100 dosis dalam bentuk jadi.

16. Vaksin Astrazeneca tahap ke-16 tiba pada 10 Juni 2021 sebanyak 1.504.800 juta dosis dan vaksin Sinopharm tiba pada 11 Juni sebanyak 1 juta dosis dalam bentuk jadi.

17. Vaksin Sinovac tahap ke-17 tiba pada 20 Juni 2021 sebanyak 10 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

18. Vaksin Sinovac tahap ke-18 tiba pada 30 Juni 2021 sebanyak 14 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

19. Vaksin Astrazeneca tahap ke-19 tiba pada 1 Juli 2021 sebanyak 998.400 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

20. Vaksin Moderna tahap ke-20 tiba pada 11 Juli 2021 sebanyak 3.000.060 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

21. Vaksin Sinovac tahap ke-21 tiba pada 12 Juli 2021 sebanyak 10.280.000 dalam bentuk bahan baku.

22. Vaksin Sinopharm tahap 22 tiba pada 13 Juli 2021 sebanyak 1.408.000 juta dosis dalam bentuk jadi.

23. Vaksin Astrazeneca tahap ke-23 tiba pada 13 Juli 2021 sebanyak 3.476.400 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

24. Vaksin Moderna tahap ke-24 tiba pada 15 Juli 2021 sebanyak 1.500.100 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

25. Vaksin Astrazeneca tahap ke-25 tiba pada 15 Juli 2021 sebanyak 1.162.840 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

26. Vaksin Astrazeneca tahap ke-26 tiba pada 16 Juli 2021 dalam bentuk 1.041.400 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

27. Vaksin Sinopharm tahap ke-27 tiba pada 17 Juli 2021 sebanyak 1,4 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

28. Vaksin Sinopharm tahap ke-28 tiba pada 19 Juli 2021 sebanyak 1,184 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

29. Vaksin Sinovac tahap ke-29 tiba pada 22 Juli 2021 sebanyak 8 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

30. Vaksin Sinovac tahap ke-30 tiba pada 27 Juli 2021 sebanyak 21,2 juta dosis dalam bentuk bahan baku

31. Vaksin Sinopharm tahap ke-31 tiba pada 30 Juli sebanyak 1,5 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi

32. Vaksin Moderna tahap ke-32 tiba pada 1 Agustus sebanyak 3,5 juta dosis dakam bentuk vaksin jadi

33. Vaksin Astrazeneca tahap ke-33 pada 1 Agustus sebanyak 620.000 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

34. Vaksin Sinopharm tahap ke-34 pada 3 Agustus sebanyak 500.000 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

35. Vaksin Astrazeneca tahap ke-35 pada 6 Agustus sebanyak 594.200 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

36. Vaksin Sinovac tahap ke-36 pada 13 Agustus sebanyak 5.000.000 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

37. Vaksin Sinovac tahap ke-37 pada 16 Agustus 2021 sebanyak 5.000.000 dalam bentuk vaksin jadi

38. Vaksin Pfizer tahap ke-38 pada 19 Agustus 2021 sebanyak 1.560.780 dosis dalam bentuk bahan jadi

39. Vaksin Astrazeneca tahap ke-39 pada 19 Agustus 2021 sebanyak 450.000 dosis dalam bentuk bahan jadi

40. Vaksin Astrazeneca tahap ke-40 pada 20 Agustus 2021 sebanyak 567.500 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

41. Vaksin Sinovac tahap ke-41 pada 20 Agustus 2021 sebanyak 5 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

42. Vaksin Sinovac tahap ke-42 pada 23 Agustus 2021 sebanyak 5 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

43. Vaksin Sinovac tahap ke-43 pada 27 Agustus 2021 sebanyak 5 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

44. Vaksin Astrazeneca tahap ke-44 pada 27 Agustus 2021 sebanyak 1.086.000 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

45. Vaksin Sinovac tahap ke-45 pada 30 Agustus 2021 sebanyak 9,2 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

46. Vaksin Astrazeneca tahap ke-46 pada 1 September 2022 sebanyak 583.400 dalam bentuk vaksin jadi.

47. Vaksin Pfizer tahap ke-47 pada 2 September 2021 sebanyak 1.195.740 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

48. Vaksin Astrazeneca tahap ke-48 pada 2 September 2021 sebanyak 500.000 dosis dalam bentuk vaksin jadi.

49. Vaksin AstraZeneca tahap ke-49 pada 4 September 2021 sebanyak 207.000 dosis dalam bentuk jadi.

50. Vaksin Sinovac tahap ke-50 pada 6 September 2021 sebanyak 5 juta dosis dalam bentuk jadi.   (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Health

Jokowi: Kesenjangan Akses Vaksin Antara Negara Kaya Dan Miskin Masih Lebar

Published

on

Presiden Jokowi. (Tangkapan layar YouTube)

Jakarta, goindonesia.co : Kesenjangan akses terhadap vaksin Covid-19 secara global masih lebar. Lebih dari 7,6 miliar dosis vaksin yang telah disuntikkan umat manusia dunia saat ini, sebagian besar masih didominasi penduduk dari negara-negara maju dan kaya.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya saat menghadiri Konferensi Tinggi Tinggi (KTT) Asia-Europe Meeting (ASEM) Ke-13 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jumat (26/11/2021), seperti disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden.

Menurut Kepala Negara, sebanyak 64,99 persen populasi negara kaya telah menerima setidaknya satu dosis vaksin. “Sementara di negara miskin baru 6,48 persen,” ujar Presiden Jokowi yang mengajak para pemimpin negara Asia dan Eropa untuk bekerjasama menghadapi pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum usai. 

Lebih jauh Presiden Jokowi mengatakan bahwa target vaksinasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga masih sulit dicapai. Diperkirakan hampir 80 negara tidak mencapai target vaksinasi 40 persen populasi di akhir tahun 2021. Bahkan, pada saat yang sama, lebih dari 100 juta dosis vaksin di negara G7 tidak terpakai dan kadaluwarsa.

Dalam pertemuan ASEM tersebut, Presiden mengajak semua pihak mengubah situasi agar target vaksinasi WHO dapat dicapai semua negara. “Untuk itu, dose-sharing harus digalakkan, produksi vaksin dinaikkan, dan kapasitas penyerapan negara penerima vaksin ditingkatkan,” ungkapnya.

Presiden juga mengajak para pemimpin ASEM untuk terus memperkuat tata kelola dan arsitektur kesehatan global, salah satu agenda utama dalam Presidensi Indonesia di G-20. “WHO harus diperkuat. Traktat pandemi harus didukung oleh semua negara dan mekanisme pendanaan kesehatan untuk negara berkembang perlu dibangun,” katanya.

Sedangkan terkait percepatan pemulihan ekonomi, Presiden Jokowi menyampaikan dua hal utama yang memerlukan kerja lsama erat para pemimpin ASEM, yaitu transisi energi dan transisi digital.

Transisi menuju energi baru terbarukan, menurut Presiden, harus terus didorong namun perlu diletakkan juga dalam konteks pencapaian SDGs. “Investasi dan alih teknologi adalah kata kunci,” ujarnya.

Selain itu, inklusivitas juga dinilai sangat penting agar celah kesejahteraan tidak makin melebar dan tidak ada yang tertinggal. Inklusivitas dapat dicapai jika akses digital ditingkatkan.

“Digital ekonomi adalah masa depan ekonomi kita. Mari kita menjalin kerjasama agar kita dapat pulih bersama dan pulih lebih kuat,” tuturnya menegaskan.

Soroti Afghanistan 

Lebih jauh Presiden Jokowi menyoroti situasi kemanusiaan di Afghanistan yang memburuk karena pemerintahan inklusif yang belum terwujud. Selain itu, dua isu yang jadi perhatian Indonesia, kata Presiden, yaitu pemberdayaan perempuan dan kerjasama antarulama.

“Saat ini, pemerintahan inklusif belum terwujud. Situasi kemanusiaan memburuk. Sekitar 23 juta rakyat Afghanistan terancam krisis pangan,” ungkap Presiden “Bantuan kemanusiaan menjadi prioritas. Kami berkomitmen memberikan bantuan, termasuk untuk bantuan kapasitas,” ujarnya. 

Terkait masalah pemberdayaan perempuan di Afghanistan, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa penghormatan hak-hak perempuan adalah salah satu janji Taliban. Indonesia ingin berkontribusi agar janji tersebut dapat dipenuhi, antara lain melalui Indonesia-Afghanistan Women Solidarity Network yang akan dimanfaatkan untuk kerjasama pemberdayaan perempuan ke depan.

“Kami juga siap memberikan beasiswa pendidikan bagi perempuan Afghanistan. Kami akan terus lanjutkan upaya pemberdayaan perempuan Afghanistan melalui kerjasama dengan berbagai pihak,” ucapnya.

Terkait kerjasama antarulama di Afghanistan, Presiden Jokowi memahami betul peran penting ulama di masyarakat. Pada tahun 2018, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan trilateral ulama Afghanistan-Pakistan-Indonesia untuk mendukung proses perdamaian.

“Meskipun situasi Afghanistan sudah berbeda, namun ulama tetap berperan penting. Kami siap memfasilitasi dialog antara ulama, termasuk ulama Afghanistan,” ungkapnya.

Dilansir BPMI Setpres, turut mendampingi Presiden dalam acara ASEM Ke-13, yaitu Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet (Setkab) Pramono Anung, dan Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) I Gede Ngurah Swajaya. (***)

Continue Reading

Health

Agar tak Ketakutan, Ini Lima Hal Perlu Diketahui tentang Varian Omicron

Published

on

  • Butuh beberapa pekan lagi untuk tahu signifikansi mutasi Omicron.
  • Tidak ada indikasi varian ini menyebabkan sakit parah.
  • Belum ada jawaban atas pertanyaan apakah vaksin saat ini efektif.

Jakarta, goindonesia.co — Penemuan Omicron, varian baru Covid-19 di Afrika Selatan (Afsel), memicu kegemparan di seluruh dunia. Sejumlah negara menghentikan perjalanan dari dan ke Afsel, dan beberapa negara Eropa melaporkan temuan varian baru ini di tubuh warganya.

Berikut yang perlu Anda ketahui tentang Omicron, varian yang seolah lebih menakutkan dari Delta, seperti diberitakan New York Post.

Bagaimana varian Omicron ditemukan?

Para ilmuwan melihat sampel virus dan menemukan varian baru setelah kasus infeksi Covid-19 di Afsel mulai meledak pekan ini. Semula, jumlah kasus di Afsel bertahan pada angka 200 per hari, tiba-tiba mendekati 2.500 dalam sehari pada Kamis pekan lalu.

Mengapa dinamakan Omicron?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama varian ini sesuai huruf dalam alfabet Yunani. WHO juga melabelinya sebagai varian mengkhawatirkan. Ini satu-satunya varian yang mendapat sebutan sejak Delta muncul di India akhir 2020.

Mengapa Omicron memprihatinkan?

Jumlah mutasi yang tampaknya tinggi, sekitar 30, dalam protein lonjakan virus corona dapat berarti virus menyebar dengan mudah. Omicron ditengarai mudah menyebar dua kali lipat dibanding varian Delta, yang berarti meningkatkan risiko penularan.

Menurut Sharon Peacock, yang memimpin pengurutan genetik Covid-19 di Inggris, signifikansi mutasi masih belum diketahui. Mengutip sejumlah ilmuwan, situs news24.com memberitakan perlu beberapa pekan untuk mengetahui signifikansi mutasi Omicron.

Apakah varian Omicron membuat orang yang tertular lebih sakit?

Tidak ada indikasi varian ini akan menyebabkan penyakit lebih parah. WHO mengatakan ‘bukti awal’ menunjukan adanya peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron kepada mereka yang pernah memiliki virus, dibanding varian lain.

Menurut Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afsel, tidak ada gejala tak biasa yang dilaporkan dengan varian ini, yang juga dapat menyebabkan kasus tanpa gejala

Akankah vaksin Covid-19 efektif melawan Omicron?

Para ilmuwan mengatakan terlalu dini untuk mengatakannya, dan jawaban pasti untuk pertanyaan di atas butuh waktu beberapa pekan.

Peter Openshaw, profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London, mengatakan sangat tidak mungkin vaksin saat ini tidak berfungsi. Sebab,vaksin sejauh ini efektif terhadap banyak varian lain. (***)

Continue Reading

Health

Varian Omicron Paksa Korea Selatan, Australia, Jepang, Filipina dan Thailand Berlakukan Pembatasan

Published

on

Illustrasi

Penemuan Omicron, varian Corona yang memiliki protein lonjakan sangat berbeda dari sebelumnya itu memicu alarm global pada hari Jumat, ketika negara-negara bergegas menangguhkan perjalanan dari Afrika selatan. Pasar saham segera mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari setahun.

Jakarta, goindonesia.co—Pemerintah Korea Selatan pada Sabtu (27/11) sore mengatakan akan membatasi kedatangan dari Afrika Selatan dan tujuh negara lain karena kekhawatiran tentang varian Covid-19 baru yang diidentifikasi tengah marak di wilayah tersebut. Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea mengatakan, mulai 28 November penerbitan visa bagi mereka yang berasal dari delapan negara di Afrika akan dibatasi, sementara warga Korea Selatan yang kembali dari wilayah tersebut akan dikarantina.

Delapan negara yang dikenai pembatasan baru itu adalah Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, eSwatini, Mozambik, dan Malawi.

Pada hari yang sama Australia juga memberlakukan pembatasan baru pada orang-orang yang telah berkunjung ke sembilan negara Afrika selatan, sehari setelah Filipina melakukan langkah serupa. Varian baru Covid-19, Omicron, segera menimbulkan kekhawatiran tentang gelombang lain pandemi virus corona.

Secara efektif pemerintah Australia segera akan melarang non-warga negara yang telah berada di Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, eSwatini, Seychelles, Malawi, dan Mozambik masuk ke negaranya. Selain itu, Australia juga akan memberlakukan karantina 14 hari yang diawasi untuk warga negara Australia dan tanggungan mereka kembali dari negara-negara tersebut, kata Menteri Kesehatan Greg Hunt.

Pembatasan ini juga berlaku untuk orang-orang seperti pelajar internasional dan migran terampil, yang telah berada di salah satu dari sembilan negara dalam 14 hari terakhir.

“Jika bukti medis menunjukkan bahwa diperlukan tindakan lebih lanjut, kami tidak akan ragu untuk mengambilnya. Dan itu mungkin melibatkan penguatan atau perluasan pembatasan,” kata Hunt.

Siapa pun yang tiba di Australia dan telah berada di salah satu negara tersebut dalam 14 hari terakhir harus segera diisolasi dan diuji. Pemerintah Australia juga akan menangguhkan semua penerbangan dari sembilan negara Afrika selatan selama dua pekan.

Sementara itu, Jepang mengatakan akan memperketat kontrol perbatasan untuk negara-negara Afrika selatan seperti Mozambik, Malawi dan Zambia, yang membutuhkan karantina 10 hari untuk setiap pendatang, kata Kementerian Luar Negeri Jepang, Sabtu.

Aturan baru, yang berlaku mulai tengah malam, datang sehari setelah Jepang memperketat kontrol perbatasan bagi mereka yang datang dari Afrika Selatan, Botswana, eSwatini, Zimbabwe, Namibia, dan Lesotho.

Filipina juga telah menangguhkan penerbangan dari Afrika Selatan dan enam negara lainnya – Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho, eSwatini, dan Mozambik – hingga 15 Desember, kata Sekretaris Kabinet Karlo Nograles dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam.

Penumpang yang telah mengunjungi salah satu negara ini dalam 14 hari sebelum kedatangan mereka juga akan dilarang masuk untuk sementara, katanya. Sebelumnya pada hari itu Filipina telah mengumumkan pembukaan kembali perbatasan bagi wisatawan dari apa yang dianggapnya daerah berisiko rendah, sebagai bagian dari pelonggaran pembatasan setelah berminggu-minggu penurunan infeksi virus corona.

Thailand mengatakan juga akan melarang masuknya orang yang bepergian dari delapan negara – Botswana, eSwatini, Lesotho, Malawi, Mozambik, Namibia, Afrika Selatan dan Zimbabwe – mulai Desember.

“Kami telah memberi tahu maskapai penerbangan dan negara-negara ini,” kata pejabat kesehatan senior, Opas Karnkawinpong, dalam konferensi pers. “Mereka yang telah disetujui masuk ke negara tersebut dari delapan negara tersebut akan diperintahkan untuk menjalani karantina wajib tambahan selama 14 hari, mulai sekarang,” kata Opas.

Inggris melarang perjalanan dari Afrika Selatan setelah munculnya varian Covid-19 baru yang sangat bermutasi

Orang-orang dari negara-negara Afrika lainnya yang telah mendapatkan persetujuan untuk mengunjungi Thailand akan dikenakan karantina hotel selama 14 hari.

Tidak ada negara Afrika dalam daftar 63 negara yang memenuhi syarat untuk perjalanan bebas karantina ke Thailand yang dimulai bulan ini, kata Opas.

Thailand telah mencatat lebih dari 2,1 juta infeksi Covid, bagian terbesar dari mereka sejak varian Delta lepas landas pada bulan April. Hanya 57 persen dari populasi 70 juta orang yang divaksinasi lengkap.

Pembatasan perjalanan baru sejalan dengan sejumlah tempat, seperti Singapura, Inggris, dan Hong Kong, ketika para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk menentukan bagaimana varian baru tersebut cenderung berperilaku pada orang yang telah divaksinasi atau sebelumnya terinfeksi.

Penemuan varian yang memiliki protein lonjakan sangat berbeda dari yang menjadi dasar vaksin yang ada itu memicu alarm global pada hari Jumat, ketika negara-negara bergegas untuk menangguhkan perjalanan dari Afrika selatan. Pasar saham segera mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari setahun.

Australia awal bulan ini melonggarkan pembatasan perbatasan internasional untuk pertama kalinya selama pandemi, memungkinkan penduduk yang divaksinasi penuh untuk kembali ke negara itu tanpa karantina. [Reuters/Bloomberg/AFP/SCMP]

Continue Reading

Trending