Connect with us

Berita

KSO WIKA – Pandji Jembatan Cable Stay Melengkung Pertama di Indonesia

Published

on

Photo : Istimewa

Jakarta, goindonesia.co – Konsorsium PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. – PT Pandji [KSO WIKA – Pandji] telah menyelesaikan Pembangunan Jembatan Sei Alalak. Jembatan Sei Alalak merupakan jembatan dengan tipe cable stayed berbentuk melengkung pertama di tanah air. Jembatan yang akan menghubungkan Kota Banjarmasin dengan Kabupaten Barito Kuala telah berhasil melalui uji beban dalam prosesnya untuk mendapatkan sertifikat laik fungsi.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) telah melakukan proses uji beban sebagai bagian dari rangkaian sertifikasi laik operasi pada Jembatan Sei Alalak, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan selama dua hari, 30-31 Agustus, baru-baru ini. Pelaksanaan uji beban tersebut berlangsung secara ketat dan diawasi Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) dengan melibatkan sebanyak 32 truk dengan masing-masing beban seberat 24 ton.

“Secara umum hasil ujinya baik, ketika diberikan beban, lalu bebannya di release kondisi jembatannya kembali seperti semula, ini mengindikasikan struktur jembatannya baik,” kata Direktur Pembangunan Jembatan Kementerian PUPR, Yudha Handita Panjiriawan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (5/9).

Konstruksi struktur utama jembatan terang Yudha secara umum sudah selesai, saat ini di lapangan hanya ada pekerjaan pembongkaran jembatan rangka baja yang lama dan proses penyelesaian akhir yang ditargetkan rampung pada akhir minggu pertama September. Serah terima sementara pekerjaan provisional hand over (PHO) direncanakan dilaksanakan pada 15 September.

Sebagai Informasi, jembatan Sei Alalak dibangun untuk menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang telah berusia 30 tahun dan menjadi jalur utama akses Kota Banjarmasin dengan berbagai wilayah di Kalsel dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Proyek jembatan ini dibangun dengan bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan skema pekerjaan tahun jamak (multi years). Proyek ini semakin menambah rekam jejak dan portofolio WIKA sebagai kontraktor yang concern dan implementatif pada pengembangan teknologi terkini konstruksi jembatan modern.

Sebelumnya, Perseroan terang Agung juga telah mengambil peran vital dalam konstruksi signature jembatan, antara lain; Jembatan Suramadu, Jembatan Cikubang, Jembatan Merah Putih, Jembatan Tumbang Samba, Jembatan Tayan, hingga Simpang Susun Semanggi.

“Hal ini menunjukkan bahwa engineer-engineer muda WIKA, engineer Indonesia memiliki kapasitas dan kapabilitas knowledge, inovasi dan daya saing yang cukup tinggi dalam percaturan konstruksi global,” ujar Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito.

Metode konstruksi yang digunakan pada Jembatan Sei Alalak adalah longline matchcast system, dimana sistem precast ini mampu mengefisienkan biaya dan mengoptimalkan kualitas terbaik. Kemudian, geometri tiang pylon asimetris ditujukan untuk mengatur cable stayed agar tidak bersinggungan dan tetap berada di luar deck jembatan serta menambah estetika.

Beton yang digunakan tambah Agung juga adalah beton kualitas tinggi fc’45 Mpa (K-500 ) yang menggunakan material lokal guna mengoptimalkan potensi resources yang ada. Sehingga efektivitas dan keberhasilannya, bisa menjadi lesson learn sekaligus referensi bagi proyek-proyek lainnya. (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Berita

DPR Bentuk Pansus RUU Ibu Kota Negara, Ini Daftar Anggotanya

Published

on

Ilustrasi DPR RI (Lamhot Aritonang/detikcom)

Jakarta, goindonesia.co – DPR membentuk panitia khusus atau pansus untuk membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Ibu Kota Negara (IKN). Pansus RUU Ibu Kota Negara terdiri atas 56 anggota Dewan dari lintas komisi.
“Sesuai dengan Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Tertib Pasal 104 Ayat 2 menyatakan jumlah anggota pansus ditetapkan rapat paripurna paling banyak 30 orang,” kata Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dalam rapat paripurna, Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (7/12/2021).

“Mengingat kompleksitas substansi akan dibahas dan akan lintas sektoral melibatkan lintas komisi maka rapat konsultasi pengganti rapat Bamus (Badan Musyawarah) tanggal 3 November memutuskan membentuk Pansus Rancangan UU tentang IKN dengan jumlah anggota sebanyak 56 orang dan pimpinan Pansus 6 orang,” lanjut Dasco. Adapun komposisi keanggotaan Pansus RUU Ibu Kota Negara berdasarkan pertimbangan dan pemerataan anggota yaitu Fraksi PDIP 12 orang, Golkar 8 orang, dan Gerindra 8 orang. Kemudian fraksi NasDem 6, PKB 6, Demokrat 5, PKS 5, PAN 4, serta PPP 2 orang.

Berikut ini rincian nama-nama 56 anggota Pansus RUU Ibu Kota Negara:

PDIP
1. T.B. Hasanuddin
2. Junimart Girsang
3. Bob Andika Mamana Sitepu
4. Hendrawan Supratikno
5. Dede Indra Permana
6. Arif Wibowo
7. Andreas Eddy Susetyo
8. Sri Rahayu
9. Sadarestuwati
10. Ichsan Soelistio
11. Cornelis
12. Safaruddin

Golkar
1. Ahmad Doli Kurnia Tanjung
2. Ilham Pangestu
3. Arsyadjuliandi Rachman
4. Agung Widyantoro
5. Mukhamad Misbakhun
6. Zulfikar Sadikin
7. Sarmuji
8. Hamka B. Kady

Gerindra
1. Habiburokhman
2. Kamrussamad
3. Sugiono
4. Prasetyo Hadi
5. Darori Wonodipuro
6. Novita Wijayanti
7. Budisatrio Djiwandono
8. Andi Iwan Darmawan

Nasdem
1. Saan Mustopa
2. Fauzi H. Amro
3. Tamanuri
4. Willy Aditya
5. Syarief Abdullah Alkadrie
6. Ery Egahni Ben Bahat

PKB
1. Ruslan Daud
2. Tommy Kirniawan
3. Yanuar Prihatin
4. Fathan
5. Ratna Juwita Sari
6. Moh. Rano Al Fath

Demokrat
1. Muslim
2. Hinca Panjaitan
3. Marwan Cuk Asan
4. Herman Khaeron
5. Sartono

PKS
1. Suryadi Jaya Purnama
2. Hidayatullah
3. Mardani
4. Ecky Awal Muncharam
5. Hamid Noor Yasin

PAN
1. Saleh Partaonan Daulay
2. Guspardi Gaus
3. Ibnu Mahmud Bailalludin
4. Andi Yuliani Paris

PPP
1. Achmad Baidowi
2. Nurhayati

(***)

Continue Reading

Berita

Selamat! Arif Satria Terpilih Ketum ICMI

Published

on

Arif secara resmi menjadi Ketum ICMI setelah dikukuhkan pada Senin (6/12/2021). Dimana diketahui, Arif merupakan seorang akademisi, guru besar ekologi-politik, dan rektor IPB.

Bandung, goindonesia.co – Arif Satria terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) periode 2021-2026. Pemilihan itu adalah salah satu rangkaian agenda Muktamar ke-7 ICMI yang digelar di Bandung, pada 4-6 Desember 2021.

Arif secara resmi menjadi Ketum ICMI setelah dikukuhkan pada Senin (6/12/2021). Dimana diketahui, Arif merupakan seorang akademisi, guru besar ekologi-politik, dan rektor Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pemilihan tersebut dimulai dengan pengusulan nama dari Organisasi Wilayah (Orwil), yang mana terpilih 70 nama, lalu dikerucutkan menjadi 15 nama berdasarkan suara terbanyak. Dari 15 nama ini, dipilih kembali oleh pemilik hak suara untuk mendapatkan tujuh nama sebagai formatur.

Pemegang hak suara ialah sembilan orang dari pengurus pusat, lima dari masing-masing Orwil dengan kehadiran 31 Orwil, satu dari masing-masing Organisasi Daerah (Orda), dan satu dari pengurus badan otonom ICMI.

Dari tujuh nama yang terpilih menjadi formatur, nama dengan suara terbanyak otomatis menjadi Ketum ICMI dan enam nama lain menjadi wakil ketua umum atau posisi strategis lainnya.

Tujuh nama berdasarkan urutan suara terbanyak di antaranya:

  1. Arif Satria sebanyak 206 suara.
  2. Ilham Akbar Habibie sebanyak 201 suara.
  3. Mohammad Najib yakni 143 suara.
  4. Zulkifli Hasan sebanyak 140 suara.
  5. Priyo Budi Santoso sebanyak 118 suara.
  6. Jafar Hafsah sebanyak 102 suara.
  7. Andi Anzhar Cakra Wijaya sebanyak 101 suara.

Muktamar ICMI kali ini mengangkat tema “Membangun Indonesia Bermartabat Menuju Indonesia Emas 2045”. Muktamar dihadiri para pengurus dari ICMI pusat, Badan Otonom ICMI pusat, utusan Organisasi Wilayah (Orwil) ICMI dalam dan luar negeri, dan utusan seluruh Orda kabupaten/kota se-Indonesia.

Agenda dalam muktamar tersebut selain pemilihan ketum, di antaranya menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus ICMI pusat periode 2015-2021, menetapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, menetapkan garis besar program kerja, pedoman pokok dan kebijakan organisasi ICMI, dan memilih Majelis Pengurus ICMI. (***)

Continue Reading

Berita

Pakar UGM Jelaskan Tanda-tanda Sehari Sebelum Erupsi Gunung Semeru

Published

on

Gunung Semeru mengalami erupsi pada Sabtu (4/12). (Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN)

Jakarta, goindonesia.co — Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Wahyudi menyebut Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, telah mengalami peningkatan aktivitas sebelum erupsi pada 4 Desember 2021.
Wahyudi menjelaskan, sejak 90 hari terakhir Semeru terpantau telah menunjukkan kenaikan aktivitas gempa letusan yang secara teori sudah bisa dianggap cukup sebagai prekursor atau gejala erupsi pada 4 Desember.

“Sejak 90 hari terakhir ada peningkatan kegempaan, itu kurang lebih rata-rata di atas 50 kali per hari sejak 90 hari terakhir. Bahkan ada yang sampai mencapai 100 kali per hari. Ini sebenarnya sudah tanda-tanda, bisa dijadikan prekursor akan terjadinya erupsi yang lebih besar,” kata Wahyudi di Auditorium FMIPA UGM, Sleman, Senin (6/12).

Wahyudi menjabarkan, sebenarnya sejak statusnya dinaikkan menjadi Waspada (level II) pada 2012, Semeru perlahan menunjukkan kenaikan aktivitas. Seperti mengeluarkan kepulan asap putih dan abu-abu setinggi 200-700 meter pada September 2020. Kemudian kejadian guguran awan panas sejauh 11 kilometer pada 1 Desember 2020 silam ke arah tenggara atau Besuk Kobokkan.

“Dari 2012 sampai 2020, selama 8 tahun ini sebenarnya suatu masa yang cukup untuk gunung api aktif beristirahat. Ini yang diwaspadai ketika gunung api yang aktif ketika dia tidak aktif itu fasenya mengumpulkan energi,” imbuhnya.

Namun, Wahyudi melihat erupsi 4 Desember 2021 kemarin lebih disebabkan karena tingginya curah hujan di sekitaran Semeru. Kubah lava yang tidak stabil akhirnya mengalami longsor dan mengakibatkan terjadinya awan panas.

Tingginya curah hujan ini memicu terjadinya thermal stress atau kondisi yang disebabkan akibat perubahan suhu. Situasi kubah lava yang bersuhu tinggi rentan longsor karena tekanan tinggi dari proses penguapan. Faktor eksternal ini membuat fenomena erupsi kali ini terkesan tiba-tiba atau di luar perkiraan.

“Jangkauan awan panas mencapai 11 kilometer. Ini lebih panjang, lebih jauh dari rekomendasi jarak aman karena rekomendasi pemerintah itu jarak aman hanya 5 kilometer. Khusus yang tenggara 5 kilometer, kalau segala arah 1 kilometer,” sebutnya.

Seismologi UGM Ade Anggraini menambahkan, rangkaian gempa letusan di Semeru menandakan material vulkanik sudah menumpuk di permukaan sebelum 4 Desember 2021. Material ini bisa sewaktu-waktu mengalami longsor.

“Jadi kalau kita lihat analisis lebih detail, makanya kita lihat sudah ada penumpukan material di permukaan cukup banyak,” ucapnya.

Ade kemudian merujuk pada laporan PVMBG yang mengklaim tak mendapati adanya gempa vulkanik dalam (VTA) dan gempa vulkanik dangkal (VTB) sebelum kejadian erupsi 4 Desember. Artinya, menurut dia, memang tidak ada kecenderungan suplai material baru dari perut gunung.

“Kalau kemudian terjadi awan panas, maka dari data tersebut ketidakadaan VTA dan VTB tetapi dominasi adalah gempa erupsi. Jadi benar-benar penumpukan material di permukaan lalu terjadi awan panas, maka analisisnya mengarah pada awan panas disebabkan oleh runtuhnya kubah lava,” papar Ade.

Ade meyakini, rekomendasi PVMBG mengenai jarak aman 5 kilometer dari puncak Semeru didasarkan pada karakteristik gunung tersebut sejauh pengamatannya. Akan tetapi, bukan tidak mungkin ketika erupsi suatu gunung terjadi di luar kebiasannya.

“Nah ketidakpastian di dalam faktor yang kemudian membuat menjadi lebih panjang itu memang kadang di luar kuasa kita, karena kita hanya berbicara dengan data analisis yang kita punya. Data yang tidak kita punya tidak bisa dimasukkan dalam analisis, kita hanya bisa membuat sebagai suatu ketidakpastian,” ucapnya.

Pakar Vulkanologi UGM lainnya, Herlan Darmawan menerangkan, ada beberapa parameter yang mempengaruhi jarak luncuran awan panas. Mulai dari volume kubah lava, keberadaan gas, hingga hujan.

Herlan menjelaskan, gas yang muncul ketika magma terfragmentasi berubah solid menjadi ‘pelicin’ bagi material longsoran untuk meluncur lebih jauh.

“Banyaknya gas yang terbentuk jadi pelicin antara permukaan bumi dan material yang dilongsorkan. Jadi seperti ada gas layer di bawah awan panas,” terangnya.

“Kemudian ada air hujan juga melicinkan permukaan dengan material awan panas, atau memperkecil gaya gesek antara permukaan bumi dan material awan panas yang longsor tadi. Pas (erupsi) Merapi 2010 itu juga pas musim hujan sehingga (jarak luncur) bisa 15 kilometer,” sambung dia.

Pakar Sistem Informasi Geografi UGM Sandy Budi Wibowo sementara memperkuat hasil analisa terkait pemicu awan panas guguran tanggal 4 Desember 2021 yang tak terkait aktivitas magmatis. Melainkan dipicu tingginya curah hujan.

Berdasarkan pemantauan via citra radar, tidak ada perubahan topografi di badan Semeru. Artinya, tidak ada fenomena deformasi gunung. Perubahan topografi justru nampak di sepanjang sungai yang berhulu dari Puncak Semeru hingga ke arah selatan.

“Ini menguatkan statement sebelumnya, nampaknya erupsinya itu tidak berhubungan dengan dengan suplai magma dari dalam perut bumi. Lalu kalau tidak ada suplai magma dari dalam perut bumi gunungnya tidak mengembang, kuncup gunung apinya tetap seperti sebelumnya,” paparnya.

Tingginya curah hujan, menurut Sandy, tak terlepas dari fenomena La Nina di Indonesia yang membuat curah hujan meningkat 40 persen di atas normal.

“Hanya saja di bagian permukaan gunung karena ini erupsinya sekunder jadi mungkin karena ada tumpukan material yang cukup panas 800-900 derajat celsius ketika baru keluar itu lalu terkena hujan,” tutupnya.  (***)

Continue Reading

Trending