Connect with us

Health

Agar tak Ketakutan, Ini Lima Hal Perlu Diketahui tentang Varian Omicron

Published

on

  • Butuh beberapa pekan lagi untuk tahu signifikansi mutasi Omicron.
  • Tidak ada indikasi varian ini menyebabkan sakit parah.
  • Belum ada jawaban atas pertanyaan apakah vaksin saat ini efektif.

Jakarta, goindonesia.co — Penemuan Omicron, varian baru Covid-19 di Afrika Selatan (Afsel), memicu kegemparan di seluruh dunia. Sejumlah negara menghentikan perjalanan dari dan ke Afsel, dan beberapa negara Eropa melaporkan temuan varian baru ini di tubuh warganya.

Berikut yang perlu Anda ketahui tentang Omicron, varian yang seolah lebih menakutkan dari Delta, seperti diberitakan New York Post.

Bagaimana varian Omicron ditemukan?

Para ilmuwan melihat sampel virus dan menemukan varian baru setelah kasus infeksi Covid-19 di Afsel mulai meledak pekan ini. Semula, jumlah kasus di Afsel bertahan pada angka 200 per hari, tiba-tiba mendekati 2.500 dalam sehari pada Kamis pekan lalu.

Mengapa dinamakan Omicron?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama varian ini sesuai huruf dalam alfabet Yunani. WHO juga melabelinya sebagai varian mengkhawatirkan. Ini satu-satunya varian yang mendapat sebutan sejak Delta muncul di India akhir 2020.

Mengapa Omicron memprihatinkan?

Jumlah mutasi yang tampaknya tinggi, sekitar 30, dalam protein lonjakan virus corona dapat berarti virus menyebar dengan mudah. Omicron ditengarai mudah menyebar dua kali lipat dibanding varian Delta, yang berarti meningkatkan risiko penularan.

Menurut Sharon Peacock, yang memimpin pengurutan genetik Covid-19 di Inggris, signifikansi mutasi masih belum diketahui. Mengutip sejumlah ilmuwan, situs news24.com memberitakan perlu beberapa pekan untuk mengetahui signifikansi mutasi Omicron.

Apakah varian Omicron membuat orang yang tertular lebih sakit?

Tidak ada indikasi varian ini akan menyebabkan penyakit lebih parah. WHO mengatakan ‘bukti awal’ menunjukan adanya peningkatan risiko infeksi ulang dengan Omicron kepada mereka yang pernah memiliki virus, dibanding varian lain.

Menurut Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afsel, tidak ada gejala tak biasa yang dilaporkan dengan varian ini, yang juga dapat menyebabkan kasus tanpa gejala

Akankah vaksin Covid-19 efektif melawan Omicron?

Para ilmuwan mengatakan terlalu dini untuk mengatakannya, dan jawaban pasti untuk pertanyaan di atas butuh waktu beberapa pekan.

Peter Openshaw, profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London, mengatakan sangat tidak mungkin vaksin saat ini tidak berfungsi. Sebab,vaksin sejauh ini efektif terhadap banyak varian lain. (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Health

Ancaman Omicron Nyata, Menkes Ungkap Nasib Sekolah Tatap Muka

Published

on

Foto: Sejumlah siswa-siswi mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Senin (3/1/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, goindonesia.co – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang telah berjalan 100% di Jakarta terjadi di tengah kasus Covid-19 yang meningkat akibat Omicron. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan soal aturan kegiatan PTM.

Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, dia mengatakan aktivitas pembelajaran di sekolah bergantung pada level sebuah daerah. Jika wilayah berada di level 3 hanya diperbolehkan 50% saja untuk kegiatan tersebut.

“Ada aturannya PTM, turun level 3 harus 50%, ada level vaksinasi minimum harus dicapai. Risiko lebih tinggi otomatis turun ke 50% bisa 0% kalau sudah level 4,” jelas Budi, Selasa (18/1/2022).

Sebelumnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAi) sempat mengungkapkan kekhawatiran soal PTM. Sebab ada 10 sekolah di Jakarta yang ditutup setelah PTM digelar 100% sejak 3 Januari 2022.

Menurut Komisioner KPAI Retno Listyarti, meski kasus yang muncul bukan varian Omicron namun tidak dapat disepelekan.

“Perlu diingat, bahwa pola penularan dari Covid-19 di antaranya adalah kerumunan dan sulit jaga jarak. PTM 100% dengan kapasitas 100% siswa sangat berpotensi karena bersama-sama berada dalam satu ruangan tertutup selama waktu yang cukup lama (sekitar 3-5 jam). Anak-anak sangat rentan tertular dan menularkan,” ujar Retno, pada pekan lalu.

KPAI sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Sebab anak-anak SD belum vaksinasi lengkap dua dosis.

Potensi penularan selesai liburan Natal dan tahun baru jadi pertimbangan, ungkapnya. Atas hal ini dia mengatakan pihaknya mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengevaluasi soal kebijakan PTM.

“KPAI mendorong Pemprov DKI Jakarta melakukan evaluasi menyeluruh, mempelajari pola kerentanan dan nasal penularan, sehingga dapat diantisipasi penyebarannya,” kata Retno.

KPAI memberi saran sebaiknya PTM di ibukota sebanyak 50% lebih dulu. Aktivitas itu bisa dipertahankan hingga kondisi lebih aman untuk pelaksanaan PTM. (***)

Continue Reading

Health

Lima Vaksin Booster Ini yang Diizinkan BPOM

Published

on

Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Humas Setkab)

Jakarta, goindonesia.co–Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk lima produk vaksin Covid-19 yang digunakan sebagai vaksin dosis lanjutan atau booster.

“Pada hari ini kami melaporkan ada lima vaksin yang telah mendapatkan emergency use authorization, tentunya sebelum mendapatkan emergency use authorization dari BPOM telah melalui proses evaluasi bersama para tim ahli Komite Nasional Penilai Vaksin (Covid-19) dan telah mendapatkan rekomendasi memenuhi persyaratan yang ada,” ujar Kepala BPOM Penny K Lukito, dalam keterangan persnya, Senin (10/1/2022), di Jakarta.

Adapun kelima vaksin Covid-19 yang telah mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM untuk digunakan sebagai vaksin booster yaitu vaksin CoronaVac produksi PT Bio Farma, vaksin Pfizer, vaksin AstraZeneca, vaksin Moderna, dan vaksin Zifivax.

Penny menambahkan, masih terdapat beberapa vaksin yang tengah diuji klinik untuk memperoleh EUA sebagai vaksin dosis lanjutan.

“Ada juga beberapa yang sedang uji klinik vaksin booster yang masih berlangsung dan dalam waktu beberapa hari ini akan juga bisa kita putuskan emergency use authorization-nya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Kepala BPOM menerangkan bahwa vaksin booster dapat diberikan kepada kelompok masyarakat dengan kriteria usia 18 tahun ke atas dan diberikan minimal enam bulan dari vaksin primer dosis lengkap.

Penny menerangkan, vaksin CoronaVac produksi PT Biofarma adalah untuk booster homolog dengan dosis sebanyak satu dosis.

“(Hasil uji) imunogenisitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi hingga 21-35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa,” paparnya.

Kedua, vaksin Pfizer atau Comirnaty juga untuk booster homolog dengan dosis sebanyak satu dosis.

“(Hasil uji) imunogenisitas menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah 1 bulan (pemberian booster) sebesar 3,3 kali,” terangnya.

Ketiga, vaksin AstraZeneca juga bersifat homolog dengan dosis sebanyak satu dosis. Penny menyampaikan, hasil uji imunogenisitasnya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi sekitar 3,5 kali setelah pemberian vaksin booster jenis ini.

Selanjutnya, vaksin Moderna digunakan untuk booster homolog dan heterolog dengan dosis setengah dosis. Booster heterolog vaksin Moderna digunakan untuk vaksin AstraZeneca, Pfizer, dan Janssen atau Johnson & Johnson.

“Ini menunjukkan respons imun antibodi netralisasi sebesar 13 kalinya setelah pemberian dosis booster,” ujarnya.

Terakhir, vaksin Zifivax digunakan untuk booster heterolog dengan vaksin primer Sinovac dan Sinopharm.

“Titer antibodi netralisasi meningkat lebih dari 30 kali pada subyek yang telah mendapat dosis primer Sinovac atau Sinopharm,” ujarnya.

Menutup keterangan persnya, Kepala BPOM menyampaikan bahwa pemberian vaksinasi dosis lanjutan telah direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Pemberian booster diperlukan untuk meningkatkan kadar antibodi Covid-19 yang mengalami penurunan signifikan enam bulan setelah memperoleh vaksin dosis lengkap.

“Data imunogenisitas dari hasil pengamatan uji klinik terdiri dari semua vaksin Covid-19 menunjukkan adanya penurunan kadar antibodi yang menurun secara signifikan sampai di bawah 30 persen, terjadi setelah enam bulan pemberian vaksin primer yang (dosis) lengkap. Oleh karena itu, diperlukan pemberian vaksin booster atau dosis lanjutan untuk meningkatkan kembali imunogenisitas yang telah menurun,” pungkasnya. (***)

Continue Reading

Berita

Rekor Baru! Rumah Sakit di AS Kewalahan Rawat Pasien Covid-19

Published

on

Amerika Serikat (AS) mencatat rekor baru untuk jumlah orang yang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19.

Warga Amerika Serikat memadati bandara saat periode libur Natal dan Tahun Baru meskipun kasus Covid-19 akibat Omicron melonjak – USA Today

Jakarta, goindonesia.co – Amerika Serikat (AS) mencatat rekor baru untuk jumlah orang yang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19 sebanyak 132.646 bangsal.

Angka terbaru itu, yang muncul saat varian Omicron yang sangat menular menyebar ke seluruh negeri, melampaui rekor 132.051 yang tercataat pada Januari tahun lalu.

Penerimaan pasien di rumah sakit terus meningkat sejak akhir Desember atau dua kali lipat dalam tiga minggu terakhir seperti dikutip TheGuardian.com, Selasa (11//2022).

Lonjakan itu terjadi setelah Omicron mengambil alih varian Delta sebagai varian dominan di AS.

Analisis menemukan bahwa negara bagian Delaware, Illinois, Maine, Maryland, Missouri, Ohio, Pennsylvania, Puerto Rico, AS,  Virgin Islands, Vermont, Virginia, Washington DC, dan Wisconsin telah melaporkan rekor tingkat pasien Covid-19 baru-baru ini.

Kejadian yang sama juga pernah terjadi pada Unit perawatan intensif (ICU) di sejumlah rumah sakit di AS menjelang akhir tahun ketika varian Delta masih dominan.

“Para pasien non-Covid-19 dalam kondisi kesehatan yang parah dan lonjakan kasus varian Delta sudah membuat kewalahan banyak rumah sakit,” menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pad 20 Desember tahun lalu.

Di banyak kota, unit perawatan intensif rumah sakit dipenuhi para pasien yang membutuhkan perawatan darurat. Mereka termasuk yang menderita penyakit yang tidak terkait Covid-19 seperti kanker atau penyakit jantung.

“Di banyak rumah sakit, hanya sedikit tempat tidur yang tersedia untuk mengantisipasi masuknya pasien dengan varian Omicron yang lebih menular,” ungkap laporan WSJ.

Pejabat kesehatan telah memperingatkan bahwa banyaknya infeksi yang disebabkan oleh Omicron akan menambah beban rumah sakit. Di sisi lain banyak pula staf medis yang terinfeksi sehingga kekurangan tenaga kerja.

“Ini seperti kemacetan medis,” kata Peter Dillon, kepala petugas klinis di Penn State Health di Pennsylvania, dalam sebuah wawancara. (***)

Continue Reading

Trending