Connect with us

Pariwisata

Global Tourism Forum : Dari Peluang Investasi Hingga Isu Gender

Published

on

Pertemuan Tingkat Tinggi Global Tourism Forum, Jakarta (Photo : Istimewa)

Event Global Tourism Forum – Leaders Summit Asia 2021 menghadirkan 49 pembicara internasional dan 22 pembicara dari Indonesia. Acara yang berlangsung di Hotel Raffles, Jakarta 15-16 September terdiri dari 23 sesi dan ada 1.1 juta viewers dalam dua hari dengan sekitar 71 speakers dari dalam dan luar negeri. Berikut laporan ke dua.

Jakarta, goindonesia.co :  : Magnet dari event Global Tourism Forum dari World Tourism Forum Institute yang diselenggarakan Indonesia Tourism Forum ( ITF) di dukung Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta  kalangan swasta adalah Taleb Rifai, mantan Sekjen UNWTO 2009-2017 dan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris selama 10 tahun (1997-2007).

Taleb Rifai yang kini menjadi Sekjen WTFI mengatakan Global Tourism Forum ( GTF) adalah event dari WTFI yang menjadi platform kolaborasi internasional dan berfokus untuk mengatasi tantangan bagi industri perjalanan.

 “Kemitraan apa pun, besar atau kecil, akan bekerja paling baik jika ada tujuan bersama.  Itulah mengapa di WTFI kemitraan penting,” kata Taleb Rifai.

Menggabungkan upaya bersama lembaga pemerintah, pemangku kepentingan industri,  akademisi menjadi upaya mencapai model pembangunan berkelanjutan untuk pasar perjalanan yang sedang berkembang, serta menyusun strategi untuk memastikan pertumbuhan pariwisata.

Sedangkan Tony Blair mendesak komunitas internasional untuk menciptakan sistem verifikasi kesehatan yang universal menghadapi kehidupan di era New Normal ini.

“Pandemi COVID-19 telah menciptakan masalah global, masalah ekonomi dan perawatan kesehatan, serta memiliki efek beriak pada bisnis global, khususnya industri pariwisata dan perjalanan,”  kata Tony Blair.

UNWTO memperkirakan pendapatan ekspor dari pariwisata dapat turun sebesar US$910 miliar menjadi  US$1,2 triliun pada tahun 2020. Hal ini akan berdampak lebih luas dan dapat mengurangi PDB global sebesar 1,5% hingga 2,8%.

“Satu hal yang perlu kami lakukan adalah memastikan bahwa kami mulai membuat aturan umum tentang bagaimana kami mendapatkan tiket perjalanan, dan verifikasi status pengujian atau status vaksinasi.”  

Blair mengusulkan sertifikat atau paspor kesehatan digital yang diakui secara universal, menggabungkan status vaksinasi dan pengujian.

“Ini akan memungkinkan negara negara untuk melindungi diri mereka sendiri dengan lebih baik dari penyebaran virus corona sambil juga memungkinkan individu untuk bepergian dan berpartisipasi dalam kegiatan favorit mereka,”.

Namun, dia mengakui akan ada keberatan dari masyarakat terkait rencana ini.  Namun, dia mengklaim bahwa membuat sistem verifikasi universal adalah satu-satunya cara untuk menghidupkan kembali industri pariwisata dengan aman.

Lebih lanjut, ia mendesak negara kaya untuk bantu negara berkembang dalam program vaksin COVID -19.  “Saya mengerti negara-negara kaya ingin memvaksinasi populasi mereka sendiri terlebih dahulu. Tapi kita  harus membantu negara lain jika kami ingin menciptakan populasi kekebalan global.” kata  Blairs.

Dia menyarankan agar masyarakat rentan, seperti masyarakat marginal, dan tenaga kesehatan garda terdepan, harus diprioritaskan sebagai penerima vaksin.  Untuk itu, ia juga berharap vaksinasi dapat selesai pada akhir tahun 2022.

Bulut Bagci, President WTFI mengatakan pihaknta menempatkan  pariwisata dalam agenda para pemimpin dunia dan Untuk memastikan investasi asing langsung di negara-negara.

Sejak 2015, dia telah mengadakan pertemuan internasional  dengan nama Global Tourism Forum ( GTF) di puluhan negara dan kota dengan 1100 pembicara dan lebih dari jutaan  pendengar. ” Kami menjamu politisi, tokoh LSM, dan pengusaha di meja yang sama dan hari ini, kami mengadakan pertemuan kami di Indonesia dengan penuh semangat,”

Dalam acara ini, katanya, peserta  akan menemukan pembicaraan yang sangat berharga tentang topik-topik seperti tren baru, investasi asing langsung, investasi berkelanjutan, efek dan solusi Covid-19, transformasi digital, dan kebijakan gender, dll.

Dr. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) yang berafiliasi dengan WTFI sebagai penyelenggara menilai pelaksanaan GTF merupakan pertanda kuat bahwa situasi pandemi saat ini di Indonesia kini telah terkelola dengan baik. 

“Ini merupakan langkah besar bagi pemulihan industri pariwisata termasuk pengembangan industri pariwisata halal karena ada sesi khusus halal tourism pula,” kata Sapta yang juga Wakil Menteri  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 ini 

Untuk negara-negara dan asosiasi pariwisata yang telah saling mendukung untuk industri pariwisata dalam situasi ini maka mereka telah mencerminkan bahwa kolaborasi dan sinergi dapat menciptakan harapan dan peluang besar untuk merevitalisasi industri pariwisata Indonesia maupun dunia.

Industri pariwisata ASEAN akan memiliki peluang lebih baik kali ini setelah terowongan pandemi dan  akan menemukan jalannya untuk tumbuh kembali sedikit demi sedikit. 

“Acara ini diharapkan dapat membawa dampak besar bagi lanskap pariwisata dan lingkungan yang segar bagi industri melalui respons Reset, Revival, dan Refreshing Global Industri pariwisata,”. kata Sapta Nirwandar.

Sesi khusus peluang investasi

Di hari pertama sesi khusus menampilkan Investor Roundtable dengan pembicara dalam negeri yaitu Abdulbar M Mansoer, President Director/ CEO Indonesia Tourism Development ( ITDC) yang mengelola kawasan Nusa Dua, Bali dan Lombok.

Ada Rajat Misra, Directorat General, Infrastucture Investment Departement ( Region 1) Asian Infrastructure Invesment Bank serta dipandu oleh  Laurel Osfield, Director General, Communications Departement, Asian Infrastructure & Investment Bank.

Tampil pula Harry Warganegara, Presdir PT Berdikari, David Makes. anggota Indonesia Sustainable Tourism Council yang juga CEO Sustainable Management dan pendiri Plataran Menjangan Resort & Spa di kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Pembicara lainnya adalah Alain St Ange, kandidat Sekjen UNWTO dari Seychelles yang juga mantan Menteri Pariwisata di negara itu periode 2012-2016. Acara dipandu Adi Satria, Senior Vice  President Operation & Goverment Relation Accor Indonesia dan Malaysia.

Investor Roundtable berlanjut dengan tema Sustainable Investment in Luxury Tourism Properties. Maklum  Indonesia di kenal sebagai destinasi wisata yang memiliki properti mewah dan dikunjungi keluarga kerajaan mulai dari almarhum Lady Diana dari Inggris hingga ke Raja Salman, Arab Saudia.

Di tema ini ada  Emma Wong PhD, GAICD, Associate Professor Pariwisata di Torrens University Australia, Aaron McGrath, Manajer Umum Regional Six Senses Hotels Resorts Spas, Arab Saudi dan Michael Scully, Managing Director First & Foremost Hotels and Resorts with Travel Connections, UK.

Emma menunjukkan bahwa ada baiknya untuk mulai melihat sektor pariwisata yang selektif, terutama produk mewah dan berkelanjutan.  Ini akan menarik untuk dilihat selama 5 tahun ke depan.

Hotel dan pariwisata sangat berkomitmen terhadap keberlanjutan.  Dia melihat spektrum, agenda keberlanjutan yang sangat terlibat.  Juga bergerak maju dengan melibatkan masyarakat lokal untuk memiliki kesadaran menjaga lingkungan.

“Kami berharap mitra bisnis memiliki tingkat kesadaran yang sama di tahun-tahun mendatang” tambahnya.

Sedangkan Aaron McGrath dari Six Senses Hotels Resorts Spas bahwa pengalaman keramahan mewah penting untuk pengalaman liburan baru.Namun, dalam situasi covid saat ini, kesehatan dan keberlanjutan adalah masalah utama.

Biaya yang cukup mahal untuk upaya keberlanjutan sehingga perlu  penghematan biaya untuk operasional. Selain itu konsumsi energi yang efisien untuk lingkungan, juga harus mendapat perhatian.

“Kita harus meningkatkan kesadaran tentang keberlanjutan di hotel dan resor’  Kami dapat menghasilkan konsep terbaik dan mempraktekkan inisiatif berkelanjutan,” tegasnya.

Michael Scully, Managing Director First & Foremost Hotels and Resorts with Travel Connections, UK berbicara tentang pengelolaan dan pengembangan hotel juga.

Dia menyatakan bahwa industri harus mulai menggunakan produk lokal dan bahan bangunan lokal selain fokus untuk mendapatkan investor.  Itu akan mengubah biaya perjalanan di masa depan.

Sesi khusus pariwisata halal global 

Di hari kedua, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria memulai sesi dengan mengatakan dalam perang melawan COVID-19, vaksin adalah salah satu perangkat penting untuk penyelamat jiwa dan pemilihan pandemi. 

” Percepatan vaksin membuat  Jakarta sebagai kota tercepat serta terbesar dalam hal pelaksanaan vaksin di dunia. Untuk memastikan The New Normal, industri pariwisata Jakarta, menerapkan protokol kesehatan secara ketat di seluruh aspek,” tegas Wagub DKI Jakarta ini.

Sesi halal global menghubungkan nara sumber dari tiga benua yang berbeda. Halal tourism memang menjadi perhatian utama Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang membuka langsung event GTF ini dan berpesan bahwa literasi masyarakat terhadap konsep wisata halal agar terus ditingkatkan.

Bagi Indonesia, konsep wisata halal berarti pemenuhan fasilitas layanan halal yang ramah bagi wisatawan Muslim di destinasi wisata, seperti akomodasi, restoran atau makanan halal, tempat ibadah yang memadai, dan fasilitas layanan halal lainnya. 

Upaya ini dimaksudkan untuk mendukung Indonesia menjadi pemimpin dalam pariwisata halal global sekaligus untuk meningkatkan minat kunjungan wisatawan Muslim dunia di Indonesia

Reem El Shafaki, Partner/Lead of Travel and Tourism Sector of DinarStandard ungkapkan perkembangan saat Ini pariwisata Halal Global. Pada sesi ini dia mengatakan hampir 70 persen bisnis pariwisata anjlok, termasuk wisata halal.

“Dalam hal sinyal peluang, banyak pariwisata yang beragam seperti pariwisata domestik harus didorong. Dalam konteks peluang, dorong generasi muda sadar akan pentingnya pariwisata halal dalam perspektif yang berbeda,”tambahnya.

Kabar baiknya, masih ada investor yang tertarik dengan sektor perjalanan dengan munculnya aplikasi perjalanan digital. Oleh karena itu, ia berbagi strategi untuk memulihkan pariwisata dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk beradaptasi di era normal baru ini.

Nara sumber lainnya, Dr. Hamid Slimi, Conference Advisory-Chairman Halal Expo Canada – Model dan Teknologi Bisnis Baru (Kasus Industri Halal Kanada). Dia menunjukkan bahwa kita menghadapi transisi dan kontemplasi dalam kondisi pandemi ini.

“Kami tidak bisa duduk dan hanya meninjau bisnis Anda tapi kita harus optimis.  Perencanaan yang baik adalah kunci keberhasilan,” kata Slimi.

Dalam hal industri pariwisata halal di Kanada, kami memiliki populasi muslim besar yang telah meningkat secara signifikan.  Sekarang kami memiliki setidaknya 2 juta Muslim di Kanada.

Kami mencoba mencari alternatif dan penyesuaian untuk pendatang dan investor baru seperti membangun aplikasi sosial untuk layanan keluarga, dana ekonomi, dana pendidikan, semuanya untuk konsumen.

Industri halal di Kanada fokus pada makanan dan obat-obatan, home industri pembiayaan syariah untuk profesional muda, bahkan event dan seminar.

Dia menambahkan bahwa situasi industri halal cukup menjanjikan.  Orang-orang telah memesan segalanya dan berencana untuk bepergian ke seluruh dunia, termasuk wisatawan Kanada.  Kita bisa menciptakan “zona aman” dengan standar internasional dimulai dari bandara.

Dr. James Noh, Co-founder & Direktur Jenderal Institut Industri Halal Korea (KIHI) fokus pasa rantai pasokan makanan baru agar Korea Selatan terus berkembang menjadi destinasi ramah Muslim ( Muslim Friendly).

“Caranya menjadi destinasi muslim dengan menjaga suplai makanan halal bagi wisatawan lokal dan internasional. Korea Selatan memiliki produsen makanan halal, distributor makanan, “

Lebih dari 200.000 penduduk Muslim dari pekerja imigran, mahasiswa asing, dan pelancong Muslim, lebih dari setengahnya adalah orang Malaysia dan Indonesia, katanya.

Pandemi COVID-19 tmenyebabkan perubahan perdagangan utama di Korea Selatan.Begitu pula perubahan sosial yang disebabkan oleh pandemi adalah pertumbuhan pasar e-commerce, aplikasi restoran dan layanan, platform makanan segar online, toko dan kios tak berawak dengan teknologi baru dan mesin pintar.

Selanjutnya, Korea Selatan akan mengembangkan lebih banyak rantai pasokan makanan seperti kotak makan siang halal dan daging halal sebagai inovasi bisnis baru untuk merespon perubahan besar kondisi pandemi ini.

Akademisi dan isu gender 

Dua akademisi yang menjadi narasumber di hari kedua menekankan tidak ada budaya tidak ada pariwisata dan pandemi global membuat tidak ada bisnis seperti biasanya pula.

Bagaimana masa depan pariwisata? jawabannya adalah budaya. Tidak ada budaya tidak ada pariwisata, kata Prof Ir Windu Nuryanti M.Arch, PhD.

Di masa pandemi ini, dunia mengalami banyak ketidakpastian dalam berbagai hal terutama pariwisata.

“Bagaimana kita bisa memelihara dan mengembangkan wisata budaya  di Indonesia karena kalau tidak ada budaya tidak ada pariwisata,” tegasnya.

Menurut dia,  keberlanjutan masa depan pariwisata indonesia terletak pada wisata budaya dan ada 7 zona wisata budaya terpenting yaitu Bali dan Jawa (dominan), Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, Papua, yang termasuk kedalam zona budaya penting.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik indonesia yang menjabat pada tahun periode 2011 – 2014 ini  menambahkan RI dikaruniai oleh berbagai macam budaya dari 17.000 pulau dan termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dengan 583 bahasa yang dikenali dan 1.340 suku bangsa.

“Ada 7 faktor indeks perkembangan budaya,diantaranya pertama, keaslian budaya yang berasal dari berbagai suku di Indonesia yang memiliki berbagai keberagaman etnis “.

Kedua, kata Windu, keaslian budaya, ketiga, ketangguhan,keempat upaya pelestarian budaya,kelima, komunikasi lintas budaya, keenam, lembaga sumber daya manusia dan budaya dan ketujuh infrastruktur budaya.

“Oleh karena itu Indonesia harus lebih percaya diri dan tangguh untuk bisa melewati masa penuh tantangan masa pandemi ini dengan menjadikan kekayaan budaya ini sebagai kekuatannya,” tegasnya.

Sementara itu Dr. Devi Roza Kausar,  Associate Professor dan Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila menyatakan bahwa keberlanjutan sektor pariwisata pasca pandemi akan  mengalami berbagai pembaharuan.

“Terutama berlaku dalam aspek manajemen akses, isu kesehatan, penggunaan teknologi, komunikasi melalui story-telling, dan pengembalian fokus terhadap anggaran,” kata Devi.

Menurut dia, ada tuntutan khusus untuk keberlanjutan pariwisata agar dapat terus bertahan pasca pandemi. karena pebisnis tidak bisa melakukan bisnis seperti biasa lagi dan menjadi bisnis yang tidak biasa.

Story-telling dijadikan sorotan sebagai salah satu adaptasi dari Unusual Business tersebut karena dapat membantu terhadap promosi destinasi pariwisata dan membangun kepercayaan konsumen. Selain itu  dapat menarik masyarakat lokal untuk terkoneksi dengan destinasi wisata.

Saat ini terdapat beberapa contoh strategi dari dalam maupun luar negeri yang dapat diadaptasi sebagai cerminan perubahan strategi pariwisata pasca pandemi. 

Misalnya, Teater Kabuki dari Jepang yang sudah diselenggarakan secara online, kunjungan Candi Borobudur secara virtual dari Indonesia, dan Festival Social Distancing dari Kanada.

Merespon dari adanya Teater Kabuki online, Wayang Kulit juga memiliki potensi yang sama untuk berkembang dan ditayangkan secara online, kata Devi.

Terakhir, Bali menjadi topik utama dalam membahas pariwisata nasional karena kesadarannya untuk mempertahankan keberlanjutan pariwisata dengan kolaborasinya terhadap budaya  tradisional daerah.

“Pariwisata yang lebih berkualitas sebenarnya juga penting saat ini, dibandingkan dengan kuantitas.  Saya pikir itu akan berlaku untuk Bali yang kaya dengan wisata budayanya, ucap Dr. Devi menutup sesi strategi budaya di era pandemi ini.

Peran wanita dalam industri pariwisata. 

Sumaira Issac, CEO WTFI memandu langsung sesi yang membahas isu gender dan transformasi industri pariwisata di bawah kepemimpinan perempuan.

Mantan artis di negara asalnya, Pakistan, adalah  seorang pengusaha dan veteran Industri dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Bekerja dalam industri pariwisata dan bisnis pendukung yang kembangkan beberapa tujuan wisata yang paling produktif.

Sumaira Isaacs telah bekerja baik sebagai praktisi destinasi (DMC, PCO) maupun sebagai konsultan penasihat untuk Badan Pariwisata, Asosiasi dan Pemerintah Daerah di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Utara. 

Wanita yang kini berdomisili di Toronto ini berspesialisasi dalam pariwisata hingga pengembangan MICE, hingga pengembangan strategi destinasi dan perencanaan aksi.

Sumaira tidak hanya memperluas platform Forum Pariwisata Global secara berkelanjutan ke semua benua, tetapi juga mewujudkan impian pribadinya untuk membantu mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja melalui pariwisata, di negara-negara yang dilayaninya.

Para pembicara disesi ini adalah Dr. Nisha Abu Bakar, Co-Founder World Women Tourism, Singapura

Dia berfokus pada kebutuhan perempuan dalam pengambilan keputusan. “Kami sangat sadar tentang pemberdayaan perempuan,” ucapnya..

Begitu banyak masalah di era pandemi ini dan dia memiliki perspektif untuk melihat kesenjangan gender, yang bisa kita lakukan adalah memobilisasi sumber daya untuk menyelesaikan masalah tersebut.  Ini adalah ide fantastis menggunakan jaringan untuk membuat program kepemimpinan perempuan, pelatihan, dll.

Industri pariwisata kesehatan, pariwisata berbasis lokal, rumah pedesaan dan komunitas harus dijalankan oleh perempuan.” Kami mempersiapkan diri dan melatih orang untuk siap terjun. Kami melihat peluang baru bagi pebisnis dan wisatawan wanita dan.  Kami melihat ini adalah tren yang sedang berkembang”, tambahnya.

Somi Arian, Pendiri dan CEO FemPeak, Inggris mengatakan bahwa kita perlu membangun bisnis yang sama sekali baru selama pandemi, karena ada peluang bagi perempuan dalam ekosistem bisnis dan teknologi dan banyak fokus untuk berdayakan perempuan membuat jaringan mereka sendiri.

“Masa depan adalah transformasi digital bagi pengusaha perempuan.  Ini penting bagi wanita karena kita sekarang terintegrasi dengan teknologi,” katanya.  

Masih sedikit perempuan yang memimpin di bidang teknologi dan keuangan.  Sudah waktunya bagi wanita untuk melangkah dan tertarik pada pengetahuan teknologi.

Yulia Stark, Presiden Asosiasi Wanita Eropa melihat dampak dari investasi yang dilakukan perempuan.  Kita semua masih terhubung dan saling mendukung dalam kondisi pandemi ini.  Kami memiliki banyak anggota untuk bertukar pikiran tentang peluang bisnis dan pengetahuan tentang menghabiskan lebih banyak uang dengan bijak.

“Perempuan bisa memiliki bisnis. Ini adalah hal yang baik dalam situasi pandemi ini.  Ke depan, anak-anak, kita bisa melihatnya sebagai panutan”, tambahnya.  (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Pariwisata

Erupsi Gunung Semeru, Kabar Buruk dari Sandiaga Uno: 12 Desa Wisata Alami Kerusakan Infrastruktur

Published

on

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. (Foto: Dok. Antara)

Jakarta, goindonesia.co – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan imbas dari erupsi Gunung Semeru pada Sabtu lalu, setidaknya ada 12 desa wisata yang terdampak. Kata dia, beberapa desa mengalami kerusakan infrastruktur.

Misalnya, Desa Gunung Wayang. Kata Sandiaga, desa ini mengalami kerusakan landasan take off dan landing paralayang dan akses jalan berdebu. Desa wisata itu selama ini mengandalkan paralayang sebagai daya tariknya.

Kemudian, lanjut Sandiaga, kerusakan juga dialami Desa Wisata Pronojiwo yang jembatan penghubung dengan Lumajang terputus. Sementara jalan dan banyak homestay tertutup debu ringan.

Lalu, kondisi serupa juga dialami Desa Tirtosari View yang mengalami kerusakan akses jalan dan ditutupi debu vulkanik. Desa wisata hutan bambu juga terdampak mengingat kawasan hutan bambu mereka tertutup debu vulkanik.

Meski begitu, Sandi mengatakan tidak ada kerusakan berarti di sana. Sementara korban jiwa ditemukan di desa wisata sumbermujur Desa Wisata Penanggal, Desa Wisata Sumber Wuluh, Desa Wisata Supit Urang dan Desa Wisata Oro Oro Ombo. Seluruhnya Berada di kecamatan Candipuro.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini berujar 1 desa wisata Ranu Pani yang termasuk salah satu dari 50 besar ADWI dalam kondisi aman dan hanya tertutup debu tipis.

Sementara, kata Sandiaga, Desa Senduro dan Desa Siti Sundari hanya tertutup debu vulkanik tipis dari letusan Gunung Semeru.

“Walau ada dampaknya, kami harap segera pulih. Terlebih ada dua atau tiga destinasi unggul di sana yang juga terdampak yakni Bromo Tengger Semeru, Malang Raya pasti akan terdampak dan Lumanjangnya sendiri. Apalagi, wisata berbasis ecotourism,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Sandiaga menyampaikan keprihatinan atas bencana erupsi gunung Semeru. Sandiaga mengajak masyarakat untuk berdoa dan mengulurkan tangan untuk pemulihan khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak.

“Saya ingin menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana erupsi Gunung Semeru yang terjadi hari Sabtu yang lalu dan terus kita pantau hari Minggu dan hari ini. Saya mengajak kita semua untuk sama-sama berdoa bagi saudara-saudara kita agar selalu dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa. Serta Mari kita bergandengan tangan untuk membantu percepatan pemulihan khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak akibat Gunung Semeru,” tuturnya.  (***)

Continue Reading

Berita

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) menjadi Guru Besar Kehormatan “Silk Road” International University of Tourism and Cultural Heritage

Published

on

Photo : Koleksi Pribadi

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) menjadi Guru Besar Kehormatan “Silk Road” International University of Tourism and Cultural Heritage

Jakarta, goindonesia.co – Pada tanggal 1 Desember tahun ini, di “Silk RoadInternational University of Tourism and Cultural Heritage mengadakan upacara pemberian gelar Profesor Kehormatan Universitas kepada Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Dosen Senior di Sahid Universitas (Indonesia) Dr.Sapta Nirwandar.

Di Gedung Pertemuan Universitas diadakan kuliah tamu dengan topik: “Halal Lifestyle Global Trend and Bussiness Opportunity”. Nantinya, video tentang perkembangan Pariwisata di Indonesia dipertunjukkan kepada mahasiswa Universitas tersebut.

Penyerahan penghargaan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik “Silk Road” International University of Tourism and Cultural Heritage, lulusan Harvard University di Amerika Serikat, Oxford University di Inggris dan Heidelberg University di Jerman, Prof.J .Hoffmann, yang dalam sambutannya menyatakan bahwa merupakan kehormatan besar bagi Universitas untuk melihat orang yang luar biasa seperti Sapta Nirwandar di antara Guru Besar Kehormatan Universitas.

Di akhir kuliah, para pihak saling bertukar bingkisan kenangan, dan tamu tersebut menyerahkan kepada Perpustakaan Universitas sejumlah besar buku tentang pemasaran, ekonomi, dan bisnis.

Di akhir kunjungan diadakan tur kampus Universitas untuk tamu kehormatan. (***)

Continue Reading

Pariwisata

INDONESIA JADI TUAN RUMAH INTERNATIONAL HALAL LIFESTYLE CONFERENCE 2021

Published

on

By

Jakarta, Goindonesia.co – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) kembali hadir pada 25 hingga 30 Oktober 2021. Acara tahunan ekonomi dan keuangan syariah terbesar di Indonesia ini mengangkat tema “Magnifying Halal Industries Through Food and Fashion Markets for Economic Recovery”.

Salah satu bagian dari acara ISEF tersebut, Indonesia International Halal Lifestyle Conference (INHALIFE) 2021 resmi dibuka pada 27–28 Oktober 2021 secara virtual.

Hal tersebut dilakukan Untuk menjaga keamanan, mengingat kondisi pandemi didunia belum pulih 100% maka event kali ini masih diselenggarakan secara virtual.

Acara ini diharadiri oleh Gubernur Bank Indonesia, Dr. Perry Warjiyo, Deputi Bidang Koordinasi Makroekonomi dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Dr. Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Usaha Mikro, Kementerian Koperasi UKM Republik Indonesia, Bapak Eddy Satriya, Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bapak Fadjar Hutomo, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Bapak Didi Sumedi, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, DR. Sapta Nirwandar, dan Bapak Sutan Emir Hidayat selaku Direktur Pendukung Ekosistem Ekonomi Islam, Komite Nasional Ekonomi & Keuangan Islam (KNEKS) yang ditunjuk sebagai moderator.

Dalam sambutannya, DR. Sapta Nirwandar sebagai Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center menyampaikan beberapa hal, seperti optimisme bangkitnya dunia dari pandemi Covid-19.

“Insya Allah pandemi ini sudah berkurang dan akan segera berakhir. Agar dunia dapat kembali bangkait, masyarakat Indonesia, bersama masyarakat global harus bangkit dari kesulitan akibat pandemi Covid-19. Saatnya berkolaborasi. Mempersiapkan kebangkitan ekonomi dan kehidupan sosial. Optimis bahwa kami akan memiliki prospek yang kuat untuk masa depan Ekonomi Islam dan Industri Halal,”bebernya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Sentral Indonesia, sebagai salah satu pemangku kepentingan terkemuka di Ekonomi Islam, atas komitmen kuat mereka mempercayakan IHLC untuk menyelenggarakan INHALIFE mulai beberapa tahun yang lalu,”sambungnya.

Tidak hanya itu, dirinya juga sangat senang, bahwa tahun ini didukung oleh Bank Indonesia, DinarStandard dengan pimpinan Br. Rafi-uddin Shikoh dan IHLC telah menyelesaikan “Indonesia Halal Market Report 2021/2022”.

“Laporan ini dipersembahkan atas kerjasama dan dukungan kuat dari Bank Indonesia. Laporan ini tidak hanya tentang temuan tetapi juga dilengkapi dengan strategi dan rekomendasi yang dapat diterapkan secara luas oleh pemerintah, korporasi maupun UKM. Kami yakin laporan ini akan menarik Perdagangan dan Investasi Global menuju Industri Halal Indonesia,”tambahnya.

Sejalan dengan kebijakan Bank Sentral Indonesia, untuk mengembangkan industri halal khususnya di Halal food and simple fashion, IHLC juga bekerjasama dengan Indonesia Fashion Chamber menyelenggarakan Fashion Show Parade.

“Pada hari Jumat kita akan mengadakan Muslim Modest Fashion Mastermind Class dan Business Linkage dengan sesi interaktif antara perwakilan bisnis fashion sederhana terkemuka Indonesia dan Desainer,”katanya.

Pada saat yang sama, Deputi kementerian Koperasi UKM Republik Indonesia, Bapak Eddy Satriya menjelaskan, Industri halal menjadi peluang untuk meningkatkan level Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) yang memerlukan bantuan dari pemerintah.

“Salah satu implementasi daru UU cipta kerja, sudah di syaratkan 30% untuk infrastuktur publik untuk fasilitasi dari umkm. Kami ingin UMKM untuk memiliki tempat-tempat yang premium. Untuk kawasan sedang dipersiapkan, seperti kawasan industri dan KEK. Secara khusus peraturannya belum ada, tetapi merujuh dengan UU dan pelaksanannya sudah berjalan dikawasan industri dan memprioritaskan industri halal,”jelasnya.

Oleh karena itu menurutnya, memberikan edukasi efektif bagi masyarakat mengenai industri halal sangat penting lantaran penerimaan industri halal belum begitu tinggi.

“Tidak sempat lagi menyusun regulasi untuk halal industri. Sebagai gantinya kita Menggunakan program edukasi dan mendampingi melalui, didampingi hingga keluar sertifikat halalnya,”ujarnya.

Sementara itu, Bapak Didi Sumedi, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, menjelaskan mengapa penerimaan industri halal belum begitu tinggi lantaran masih terbentur masalah literasi.

“Ini merupakan masalah literasi. Menurut saya, kebutuhan akan sandang dan pangan yang memenuhi syariah belum begitu mendalam. Ada dua hal yang menjadi penekanan, literasi dari pemahaman agama dan pentingnya suplier untuk memiliki sertifikasi halal. Serta edukasi kepada masyarakat akan memberikan pemahaman mengenai pentingnya mengkonsumsi sandang pangan yang halal,”jelasnya.

Continue Reading

Trending