Connect with us

Pariwisata

Global Tourism Forum : Dari Peluang Investasi Hingga Isu Gender

Published

on

Pertemuan Tingkat Tinggi Global Tourism Forum, Jakarta (Photo : Istimewa)

Event Global Tourism Forum – Leaders Summit Asia 2021 menghadirkan 49 pembicara internasional dan 22 pembicara dari Indonesia. Acara yang berlangsung di Hotel Raffles, Jakarta 15-16 September terdiri dari 23 sesi dan ada 1.1 juta viewers dalam dua hari dengan sekitar 71 speakers dari dalam dan luar negeri. Berikut laporan ke dua.

Jakarta, goindonesia.co :  : Magnet dari event Global Tourism Forum dari World Tourism Forum Institute yang diselenggarakan Indonesia Tourism Forum ( ITF) di dukung Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta  kalangan swasta adalah Taleb Rifai, mantan Sekjen UNWTO 2009-2017 dan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris selama 10 tahun (1997-2007).

Taleb Rifai yang kini menjadi Sekjen WTFI mengatakan Global Tourism Forum ( GTF) adalah event dari WTFI yang menjadi platform kolaborasi internasional dan berfokus untuk mengatasi tantangan bagi industri perjalanan.

 “Kemitraan apa pun, besar atau kecil, akan bekerja paling baik jika ada tujuan bersama.  Itulah mengapa di WTFI kemitraan penting,” kata Taleb Rifai.

Menggabungkan upaya bersama lembaga pemerintah, pemangku kepentingan industri,  akademisi menjadi upaya mencapai model pembangunan berkelanjutan untuk pasar perjalanan yang sedang berkembang, serta menyusun strategi untuk memastikan pertumbuhan pariwisata.

Sedangkan Tony Blair mendesak komunitas internasional untuk menciptakan sistem verifikasi kesehatan yang universal menghadapi kehidupan di era New Normal ini.

“Pandemi COVID-19 telah menciptakan masalah global, masalah ekonomi dan perawatan kesehatan, serta memiliki efek beriak pada bisnis global, khususnya industri pariwisata dan perjalanan,”  kata Tony Blair.

UNWTO memperkirakan pendapatan ekspor dari pariwisata dapat turun sebesar US$910 miliar menjadi  US$1,2 triliun pada tahun 2020. Hal ini akan berdampak lebih luas dan dapat mengurangi PDB global sebesar 1,5% hingga 2,8%.

“Satu hal yang perlu kami lakukan adalah memastikan bahwa kami mulai membuat aturan umum tentang bagaimana kami mendapatkan tiket perjalanan, dan verifikasi status pengujian atau status vaksinasi.”  

Blair mengusulkan sertifikat atau paspor kesehatan digital yang diakui secara universal, menggabungkan status vaksinasi dan pengujian.

“Ini akan memungkinkan negara negara untuk melindungi diri mereka sendiri dengan lebih baik dari penyebaran virus corona sambil juga memungkinkan individu untuk bepergian dan berpartisipasi dalam kegiatan favorit mereka,”.

Namun, dia mengakui akan ada keberatan dari masyarakat terkait rencana ini.  Namun, dia mengklaim bahwa membuat sistem verifikasi universal adalah satu-satunya cara untuk menghidupkan kembali industri pariwisata dengan aman.

Lebih lanjut, ia mendesak negara kaya untuk bantu negara berkembang dalam program vaksin COVID -19.  “Saya mengerti negara-negara kaya ingin memvaksinasi populasi mereka sendiri terlebih dahulu. Tapi kita  harus membantu negara lain jika kami ingin menciptakan populasi kekebalan global.” kata  Blairs.

Dia menyarankan agar masyarakat rentan, seperti masyarakat marginal, dan tenaga kesehatan garda terdepan, harus diprioritaskan sebagai penerima vaksin.  Untuk itu, ia juga berharap vaksinasi dapat selesai pada akhir tahun 2022.

Bulut Bagci, President WTFI mengatakan pihaknta menempatkan  pariwisata dalam agenda para pemimpin dunia dan Untuk memastikan investasi asing langsung di negara-negara.

Sejak 2015, dia telah mengadakan pertemuan internasional  dengan nama Global Tourism Forum ( GTF) di puluhan negara dan kota dengan 1100 pembicara dan lebih dari jutaan  pendengar. ” Kami menjamu politisi, tokoh LSM, dan pengusaha di meja yang sama dan hari ini, kami mengadakan pertemuan kami di Indonesia dengan penuh semangat,”

Dalam acara ini, katanya, peserta  akan menemukan pembicaraan yang sangat berharga tentang topik-topik seperti tren baru, investasi asing langsung, investasi berkelanjutan, efek dan solusi Covid-19, transformasi digital, dan kebijakan gender, dll.

Dr. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) yang berafiliasi dengan WTFI sebagai penyelenggara menilai pelaksanaan GTF merupakan pertanda kuat bahwa situasi pandemi saat ini di Indonesia kini telah terkelola dengan baik. 

“Ini merupakan langkah besar bagi pemulihan industri pariwisata termasuk pengembangan industri pariwisata halal karena ada sesi khusus halal tourism pula,” kata Sapta yang juga Wakil Menteri  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 ini 

Untuk negara-negara dan asosiasi pariwisata yang telah saling mendukung untuk industri pariwisata dalam situasi ini maka mereka telah mencerminkan bahwa kolaborasi dan sinergi dapat menciptakan harapan dan peluang besar untuk merevitalisasi industri pariwisata Indonesia maupun dunia.

Industri pariwisata ASEAN akan memiliki peluang lebih baik kali ini setelah terowongan pandemi dan  akan menemukan jalannya untuk tumbuh kembali sedikit demi sedikit. 

“Acara ini diharapkan dapat membawa dampak besar bagi lanskap pariwisata dan lingkungan yang segar bagi industri melalui respons Reset, Revival, dan Refreshing Global Industri pariwisata,”. kata Sapta Nirwandar.

Sesi khusus peluang investasi

Di hari pertama sesi khusus menampilkan Investor Roundtable dengan pembicara dalam negeri yaitu Abdulbar M Mansoer, President Director/ CEO Indonesia Tourism Development ( ITDC) yang mengelola kawasan Nusa Dua, Bali dan Lombok.

Ada Rajat Misra, Directorat General, Infrastucture Investment Departement ( Region 1) Asian Infrastructure Invesment Bank serta dipandu oleh  Laurel Osfield, Director General, Communications Departement, Asian Infrastructure & Investment Bank.

Tampil pula Harry Warganegara, Presdir PT Berdikari, David Makes. anggota Indonesia Sustainable Tourism Council yang juga CEO Sustainable Management dan pendiri Plataran Menjangan Resort & Spa di kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Pembicara lainnya adalah Alain St Ange, kandidat Sekjen UNWTO dari Seychelles yang juga mantan Menteri Pariwisata di negara itu periode 2012-2016. Acara dipandu Adi Satria, Senior Vice  President Operation & Goverment Relation Accor Indonesia dan Malaysia.

Investor Roundtable berlanjut dengan tema Sustainable Investment in Luxury Tourism Properties. Maklum  Indonesia di kenal sebagai destinasi wisata yang memiliki properti mewah dan dikunjungi keluarga kerajaan mulai dari almarhum Lady Diana dari Inggris hingga ke Raja Salman, Arab Saudia.

Di tema ini ada  Emma Wong PhD, GAICD, Associate Professor Pariwisata di Torrens University Australia, Aaron McGrath, Manajer Umum Regional Six Senses Hotels Resorts Spas, Arab Saudi dan Michael Scully, Managing Director First & Foremost Hotels and Resorts with Travel Connections, UK.

Emma menunjukkan bahwa ada baiknya untuk mulai melihat sektor pariwisata yang selektif, terutama produk mewah dan berkelanjutan.  Ini akan menarik untuk dilihat selama 5 tahun ke depan.

Hotel dan pariwisata sangat berkomitmen terhadap keberlanjutan.  Dia melihat spektrum, agenda keberlanjutan yang sangat terlibat.  Juga bergerak maju dengan melibatkan masyarakat lokal untuk memiliki kesadaran menjaga lingkungan.

“Kami berharap mitra bisnis memiliki tingkat kesadaran yang sama di tahun-tahun mendatang” tambahnya.

Sedangkan Aaron McGrath dari Six Senses Hotels Resorts Spas bahwa pengalaman keramahan mewah penting untuk pengalaman liburan baru.Namun, dalam situasi covid saat ini, kesehatan dan keberlanjutan adalah masalah utama.

Biaya yang cukup mahal untuk upaya keberlanjutan sehingga perlu  penghematan biaya untuk operasional. Selain itu konsumsi energi yang efisien untuk lingkungan, juga harus mendapat perhatian.

“Kita harus meningkatkan kesadaran tentang keberlanjutan di hotel dan resor’  Kami dapat menghasilkan konsep terbaik dan mempraktekkan inisiatif berkelanjutan,” tegasnya.

Michael Scully, Managing Director First & Foremost Hotels and Resorts with Travel Connections, UK berbicara tentang pengelolaan dan pengembangan hotel juga.

Dia menyatakan bahwa industri harus mulai menggunakan produk lokal dan bahan bangunan lokal selain fokus untuk mendapatkan investor.  Itu akan mengubah biaya perjalanan di masa depan.

Sesi khusus pariwisata halal global 

Di hari kedua, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria memulai sesi dengan mengatakan dalam perang melawan COVID-19, vaksin adalah salah satu perangkat penting untuk penyelamat jiwa dan pemilihan pandemi. 

” Percepatan vaksin membuat  Jakarta sebagai kota tercepat serta terbesar dalam hal pelaksanaan vaksin di dunia. Untuk memastikan The New Normal, industri pariwisata Jakarta, menerapkan protokol kesehatan secara ketat di seluruh aspek,” tegas Wagub DKI Jakarta ini.

Sesi halal global menghubungkan nara sumber dari tiga benua yang berbeda. Halal tourism memang menjadi perhatian utama Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang membuka langsung event GTF ini dan berpesan bahwa literasi masyarakat terhadap konsep wisata halal agar terus ditingkatkan.

Bagi Indonesia, konsep wisata halal berarti pemenuhan fasilitas layanan halal yang ramah bagi wisatawan Muslim di destinasi wisata, seperti akomodasi, restoran atau makanan halal, tempat ibadah yang memadai, dan fasilitas layanan halal lainnya. 

Upaya ini dimaksudkan untuk mendukung Indonesia menjadi pemimpin dalam pariwisata halal global sekaligus untuk meningkatkan minat kunjungan wisatawan Muslim dunia di Indonesia

Reem El Shafaki, Partner/Lead of Travel and Tourism Sector of DinarStandard ungkapkan perkembangan saat Ini pariwisata Halal Global. Pada sesi ini dia mengatakan hampir 70 persen bisnis pariwisata anjlok, termasuk wisata halal.

“Dalam hal sinyal peluang, banyak pariwisata yang beragam seperti pariwisata domestik harus didorong. Dalam konteks peluang, dorong generasi muda sadar akan pentingnya pariwisata halal dalam perspektif yang berbeda,”tambahnya.

Kabar baiknya, masih ada investor yang tertarik dengan sektor perjalanan dengan munculnya aplikasi perjalanan digital. Oleh karena itu, ia berbagi strategi untuk memulihkan pariwisata dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk beradaptasi di era normal baru ini.

Nara sumber lainnya, Dr. Hamid Slimi, Conference Advisory-Chairman Halal Expo Canada – Model dan Teknologi Bisnis Baru (Kasus Industri Halal Kanada). Dia menunjukkan bahwa kita menghadapi transisi dan kontemplasi dalam kondisi pandemi ini.

“Kami tidak bisa duduk dan hanya meninjau bisnis Anda tapi kita harus optimis.  Perencanaan yang baik adalah kunci keberhasilan,” kata Slimi.

Dalam hal industri pariwisata halal di Kanada, kami memiliki populasi muslim besar yang telah meningkat secara signifikan.  Sekarang kami memiliki setidaknya 2 juta Muslim di Kanada.

Kami mencoba mencari alternatif dan penyesuaian untuk pendatang dan investor baru seperti membangun aplikasi sosial untuk layanan keluarga, dana ekonomi, dana pendidikan, semuanya untuk konsumen.

Industri halal di Kanada fokus pada makanan dan obat-obatan, home industri pembiayaan syariah untuk profesional muda, bahkan event dan seminar.

Dia menambahkan bahwa situasi industri halal cukup menjanjikan.  Orang-orang telah memesan segalanya dan berencana untuk bepergian ke seluruh dunia, termasuk wisatawan Kanada.  Kita bisa menciptakan “zona aman” dengan standar internasional dimulai dari bandara.

Dr. James Noh, Co-founder & Direktur Jenderal Institut Industri Halal Korea (KIHI) fokus pasa rantai pasokan makanan baru agar Korea Selatan terus berkembang menjadi destinasi ramah Muslim ( Muslim Friendly).

“Caranya menjadi destinasi muslim dengan menjaga suplai makanan halal bagi wisatawan lokal dan internasional. Korea Selatan memiliki produsen makanan halal, distributor makanan, “

Lebih dari 200.000 penduduk Muslim dari pekerja imigran, mahasiswa asing, dan pelancong Muslim, lebih dari setengahnya adalah orang Malaysia dan Indonesia, katanya.

Pandemi COVID-19 tmenyebabkan perubahan perdagangan utama di Korea Selatan.Begitu pula perubahan sosial yang disebabkan oleh pandemi adalah pertumbuhan pasar e-commerce, aplikasi restoran dan layanan, platform makanan segar online, toko dan kios tak berawak dengan teknologi baru dan mesin pintar.

Selanjutnya, Korea Selatan akan mengembangkan lebih banyak rantai pasokan makanan seperti kotak makan siang halal dan daging halal sebagai inovasi bisnis baru untuk merespon perubahan besar kondisi pandemi ini.

Akademisi dan isu gender 

Dua akademisi yang menjadi narasumber di hari kedua menekankan tidak ada budaya tidak ada pariwisata dan pandemi global membuat tidak ada bisnis seperti biasanya pula.

Bagaimana masa depan pariwisata? jawabannya adalah budaya. Tidak ada budaya tidak ada pariwisata, kata Prof Ir Windu Nuryanti M.Arch, PhD.

Di masa pandemi ini, dunia mengalami banyak ketidakpastian dalam berbagai hal terutama pariwisata.

“Bagaimana kita bisa memelihara dan mengembangkan wisata budaya  di Indonesia karena kalau tidak ada budaya tidak ada pariwisata,” tegasnya.

Menurut dia,  keberlanjutan masa depan pariwisata indonesia terletak pada wisata budaya dan ada 7 zona wisata budaya terpenting yaitu Bali dan Jawa (dominan), Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, Papua, yang termasuk kedalam zona budaya penting.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik indonesia yang menjabat pada tahun periode 2011 – 2014 ini  menambahkan RI dikaruniai oleh berbagai macam budaya dari 17.000 pulau dan termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dengan 583 bahasa yang dikenali dan 1.340 suku bangsa.

“Ada 7 faktor indeks perkembangan budaya,diantaranya pertama, keaslian budaya yang berasal dari berbagai suku di Indonesia yang memiliki berbagai keberagaman etnis “.

Kedua, kata Windu, keaslian budaya, ketiga, ketangguhan,keempat upaya pelestarian budaya,kelima, komunikasi lintas budaya, keenam, lembaga sumber daya manusia dan budaya dan ketujuh infrastruktur budaya.

“Oleh karena itu Indonesia harus lebih percaya diri dan tangguh untuk bisa melewati masa penuh tantangan masa pandemi ini dengan menjadikan kekayaan budaya ini sebagai kekuatannya,” tegasnya.

Sementara itu Dr. Devi Roza Kausar,  Associate Professor dan Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila menyatakan bahwa keberlanjutan sektor pariwisata pasca pandemi akan  mengalami berbagai pembaharuan.

“Terutama berlaku dalam aspek manajemen akses, isu kesehatan, penggunaan teknologi, komunikasi melalui story-telling, dan pengembalian fokus terhadap anggaran,” kata Devi.

Menurut dia, ada tuntutan khusus untuk keberlanjutan pariwisata agar dapat terus bertahan pasca pandemi. karena pebisnis tidak bisa melakukan bisnis seperti biasa lagi dan menjadi bisnis yang tidak biasa.

Story-telling dijadikan sorotan sebagai salah satu adaptasi dari Unusual Business tersebut karena dapat membantu terhadap promosi destinasi pariwisata dan membangun kepercayaan konsumen. Selain itu  dapat menarik masyarakat lokal untuk terkoneksi dengan destinasi wisata.

Saat ini terdapat beberapa contoh strategi dari dalam maupun luar negeri yang dapat diadaptasi sebagai cerminan perubahan strategi pariwisata pasca pandemi. 

Misalnya, Teater Kabuki dari Jepang yang sudah diselenggarakan secara online, kunjungan Candi Borobudur secara virtual dari Indonesia, dan Festival Social Distancing dari Kanada.

Merespon dari adanya Teater Kabuki online, Wayang Kulit juga memiliki potensi yang sama untuk berkembang dan ditayangkan secara online, kata Devi.

Terakhir, Bali menjadi topik utama dalam membahas pariwisata nasional karena kesadarannya untuk mempertahankan keberlanjutan pariwisata dengan kolaborasinya terhadap budaya  tradisional daerah.

“Pariwisata yang lebih berkualitas sebenarnya juga penting saat ini, dibandingkan dengan kuantitas.  Saya pikir itu akan berlaku untuk Bali yang kaya dengan wisata budayanya, ucap Dr. Devi menutup sesi strategi budaya di era pandemi ini.

Peran wanita dalam industri pariwisata. 

Sumaira Issac, CEO WTFI memandu langsung sesi yang membahas isu gender dan transformasi industri pariwisata di bawah kepemimpinan perempuan.

Mantan artis di negara asalnya, Pakistan, adalah  seorang pengusaha dan veteran Industri dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Bekerja dalam industri pariwisata dan bisnis pendukung yang kembangkan beberapa tujuan wisata yang paling produktif.

Sumaira Isaacs telah bekerja baik sebagai praktisi destinasi (DMC, PCO) maupun sebagai konsultan penasihat untuk Badan Pariwisata, Asosiasi dan Pemerintah Daerah di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Utara. 

Wanita yang kini berdomisili di Toronto ini berspesialisasi dalam pariwisata hingga pengembangan MICE, hingga pengembangan strategi destinasi dan perencanaan aksi.

Sumaira tidak hanya memperluas platform Forum Pariwisata Global secara berkelanjutan ke semua benua, tetapi juga mewujudkan impian pribadinya untuk membantu mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja melalui pariwisata, di negara-negara yang dilayaninya.

Para pembicara disesi ini adalah Dr. Nisha Abu Bakar, Co-Founder World Women Tourism, Singapura

Dia berfokus pada kebutuhan perempuan dalam pengambilan keputusan. “Kami sangat sadar tentang pemberdayaan perempuan,” ucapnya..

Begitu banyak masalah di era pandemi ini dan dia memiliki perspektif untuk melihat kesenjangan gender, yang bisa kita lakukan adalah memobilisasi sumber daya untuk menyelesaikan masalah tersebut.  Ini adalah ide fantastis menggunakan jaringan untuk membuat program kepemimpinan perempuan, pelatihan, dll.

Industri pariwisata kesehatan, pariwisata berbasis lokal, rumah pedesaan dan komunitas harus dijalankan oleh perempuan.” Kami mempersiapkan diri dan melatih orang untuk siap terjun. Kami melihat peluang baru bagi pebisnis dan wisatawan wanita dan.  Kami melihat ini adalah tren yang sedang berkembang”, tambahnya.

Somi Arian, Pendiri dan CEO FemPeak, Inggris mengatakan bahwa kita perlu membangun bisnis yang sama sekali baru selama pandemi, karena ada peluang bagi perempuan dalam ekosistem bisnis dan teknologi dan banyak fokus untuk berdayakan perempuan membuat jaringan mereka sendiri.

“Masa depan adalah transformasi digital bagi pengusaha perempuan.  Ini penting bagi wanita karena kita sekarang terintegrasi dengan teknologi,” katanya.  

Masih sedikit perempuan yang memimpin di bidang teknologi dan keuangan.  Sudah waktunya bagi wanita untuk melangkah dan tertarik pada pengetahuan teknologi.

Yulia Stark, Presiden Asosiasi Wanita Eropa melihat dampak dari investasi yang dilakukan perempuan.  Kita semua masih terhubung dan saling mendukung dalam kondisi pandemi ini.  Kami memiliki banyak anggota untuk bertukar pikiran tentang peluang bisnis dan pengetahuan tentang menghabiskan lebih banyak uang dengan bijak.

“Perempuan bisa memiliki bisnis. Ini adalah hal yang baik dalam situasi pandemi ini.  Ke depan, anak-anak, kita bisa melihatnya sebagai panutan”, tambahnya.  (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Pariwisata

Sandiaga Gagas Wisata Kapal Pesiar dari Singapura ke Indonesia

Published

on

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Foto: Kominfo.

Jakarta, goindonesia.co : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menggagas wisata kapal pesiar ke Indonesia mulai Juli 2022 ketika bertemu dengan dua pengelola kapal pesiar terbesar di Singapura, yakni Royal Carribean dan Resort World Cruises.

Kedua pengelola pelayaran pesiar itu menawarkan paket wisata ke Indonesia yang mencakup Pulau Batam dan Pulau Bintan di Kepulauan Riau, Surabaya di Jawa Timur, Pulau Bali, Pulau Belitung, dan Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat.

“Kami telah lakukan pertemuan dengan pengelola pelayaran pesiar dan ada beberapa kesepakatan akan dimulainya wisata kapal pesiar tahun ini. Ini berita besar, sangat strategis, dan sangat signifikan dalam pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia,” kata Sandiaga Uno, dilansir dari Antara, Kamis, 2 Juni 2022.

Wisata pelayaran kapal pesiar segera dimulai pada tahun ini yang meliputi Batam-Bintan-Surabaya-Bali. Pada tahun depan, akan ditambah Belitung dan Pulau Lombok.
 
“Dua perusahaan besar ini sudah berkomitmen untuk menyelenggarakan pelayaran pesiar ini. Ini sangat menguntungkan kedua pihak karena akan mempromosikan tujuan wisata prioritas di Indonesia yang akan membuka peluang usaha dan juga lapangan kerja yang sangat dibutuhkan dalam kepulihan sektor pariwisata kita,” ujar dia.
 
Ia mengatakan Indonesia tidak memberikan insentif secara khusus untuk pengelola kapal pesiar, namun hanya memfasilitasi terkait regulasi. “Insentifnya sendiri adalah daerah tujuan, budaya, kekayaan alam, sumber daya manusia, kekayaan setempat,” ucapnya.
 
Salah satu paket wisata yang ditawarkan ialah di Bali utara mengingat selama ini sektor pariwisata di daerah tersebut belum banyak tergarap secara optimal. Sebelum ibukotanya pindah ke Denpasar, Provinsi Bali memiliki ibukota di Singaraja di Kabupaten Buleleng, yang ada di Bali utara.
 
Dirinya berencana menjajal langsung sensasi menaiki kapal pesiar ke Surabaya dan Bali utara sebagai bentuk dukungan dan memastikan sendiri seluruh prosesnya.
 
Deputi Bidang Kebijakan Strategis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nia Niscaya, menambahkan, sebenarnya pasar wisata kapal pesiar ke Indonesia sudah ada, hanya tinggal dieksekusi. Namun, lanjut dia, perlu kolaborasi antar berbagai pemangku kepentingan, seperti dengan Kementerian Perhubungan terkait perizinan.
 
Chief Operating Officer Resort World Cruises Singapura Raymond Lim Jiun Yan mengutarakan kesiapan mereka untuk melayari kembali perairan Indonesia, dan mengharapkan tidak ada kendala signifikan untuk mewujudkan wisata kapal pesiar pada Juli dan Agustus tahun ini.
 
Cruises Genting Dream dari Resort World Cruises akan memulai pelayaran pada Juli dan Desember 2022 dengan 1.700 kamar dari total kapasitas 3.500 kamar. Sementara untuk Royal Carribean Cruises mencapai 4.800 kamar yang akan melintasi Benoa di Pulau Bali dan Pulau Lombok. (***)

Continue Reading

Pariwisata

Mantap! Sandiaga Uno Berbagi Kisah Sukses Pariwisata Berkelanjutan Indonesia di Forum UNWTO

Published

on

Menparekraf RI, Sandiaga Salahuddin Uno (Foto: Instagram/@sandiuno)

Jakarta, goindonesia.co – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mengungkapkan success story dan sharing best practices yang telah dilakukan Indonesia melalui Kemenparekraf, dalam upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi Covid-19.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara Forum UNWTO yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat 4-5 Mei 2022.

Selain itu ia juga mengungkapkan, Presidensi G20 tahun 2022 yang menjadikan Indonesia sebagai rujukan dan panutan dalam upaya pembangunan kepariwisataan dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan, sehingga dapat mendorong negara anggota PBB, khususnya G20, berpartisipasi aktif dalam Tourism Working Group dan forum multilateral lainnya.

Foto : Istimewa

“Mengembangkan sektor pariwisata berkelanjutan harus melihat lebih jauh, melampaui isu terhadap lingkungan atau kesejahteraan lingkungan,” ujar Sandi saat menjadi pembicara dalam Forum UNWTO, seperti dikutip dari akun Instagram miliknya @sandiuno.

Lebih lanjut, konsep pariwisata berkelanjutan harus terus didorong dan sejalan dengan tetap memerhatikan dan memelihara keberlangsungan ekosistem nasional.

Selain itu, pariwisata berkelanjutan juga bermanfaat untuk menyerap banyak tenaga kerja sehingga mendorong ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Kita memenuhi undangan dari President United Nations General Assembly yang menginginkan partisipasi aktif Indonesia dalam kebangkitan ekonomi khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dan memastikan bahwa pariwisata Indonesia berkelanjutan dan fokus pada pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkualitas,” terangnya.

Ia menyebut, salah satu langkah yang dilakukan Kemenparekraf dalam mendukung pariwisata berkelanjutan adalah melalui program pengembangan desa wisata yang berbasis komunitas dan ekonomi berkeadilan bagi setiap lapisan masyarakat.

Menurutnya, hal ini sesuai dengan rencana strategis organisasi pariwisata dunia (UNWTO) dalam upaya pemulihan pariwisata yang berkualitas untuk kesejahteraan masyarakat.

Dalam forum tersebut, mantan Wagub DKI Jakarta itu juga menjelaskan posisi Indonesia yang secara tegas tetap akan mengundang Rusia dan kami akan menambah Ukraina pada tourism working Group yang pertama sesuai arahan Presiden RI yang jadi bagian dari G20.

“Jadi, peran Indonesia inilah yang kita harapkan akan semakin membuka peluang untuk kebangkitan ekonomi, membuka peluang usaha dan lapangan kerja, khususnya pariwisata berbasis masyarakat seperti desa wisata, program-program pemberdayaan UMKM dan digitalisasi,” pungkasnya. (***)

Continue Reading

Pariwisata

Pengunjung Sarangan Membludak, Omset Perhotelan Meningkat Didominasi OTA

Published

on

Foto : Istimewa

Magetan, goindonesia.co – Memasuki H+5 pada Lebaran Idul Fitri 2022, objek wisata Telaga Sarangan Kabupaten Magetan Jawa Timur diserbu pengunjung, baik wisatawan lokal maupun luar daerah.

Dari pantauan di lokasi, destinasi wisata Magetan tersebut dipadati puluhan ribu pelancong dari berbagai daerah untuk memanfaatkan moment Hari Raya Idul Fitri 1443 H dan Libur Lebaran, Kamis (5/5/2022).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan, Joko Trihono, membenarkan, bahwa icon andalan Kabupaten Magetan ini diserbu pengunjung dengan tiket terjual hingga sampai 12.938 orang.

“Per jam 16.30 WIB ini kurang lebih sekitar 12.938 pengunjung. Kita juga akan update perkembangan kunjungan wisata di Kabupaten Magetan Jawa Timur,” ungkap Joko Trihono.

Tak hanya itu saja, dinas yang menaungi pariwisata di Magetan ini juga memantau perkembangan pertumbuhan perekonomian atau omset bagi para pelaku jasa usaha wisata di Telaga Sarangan.

“Untuk okupansi hotel di Sarangan cenderung ada kenaikan, namun paling banyak didapat bagi pelaku jasa usaha perhotelan yang bekerjasama dengan Online Travel Agent (OTA),” jelas Joko Trihono kepada awak media, Kamis (5/5).

Menurutnya, bagi pelaku jasa usaha perhotelan dengan menggunakan jasa OTA mengalami kenaikan secara signifikan dengan okupansi 100%. Sedangkan untuk pemasaran hotel secara konvensional, hanya mengalami kenaikan sebesar 25-30 persen.

“Memang banyak pengunjung, tapi rata-rata hanya untuk berwisata dan mencari oleh-oleh khas Magetan. Karena dari pantauan kami mereka juga ada peningkatan,” tutup Kepala Disparbud Magetan. (***)

Continue Reading

Trending