Connect with us

Dunia Pendidikan

“Sang Penatap Matahari”, Novel Inspiratif Sang Duta Syariah

Published

on

Teks foto: Aat Surya Safaat, Wartawan Senior dan Konsultan Komunikasi yang pernah menjadi Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York (1993-1998) dan Direktur Pemberitaan ANTARA (2016). Saat ini mendapat amanah sebagai Ketua Bidang Luar Negeri Serikat Media Siber Indonesia (SMSI). (Doc Istimewa).

Jakarta – goindonesia.co – Di kalangan indusri keuangan syariah, siapa yang tak kenal Muhammad Gunawan Yasni? Pria kelahiran 17 September 1969 yang lebih dikenal sebagai Gunawan Yasni itu adalah, seorang ahli keuangan syariah dan anggota Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) serta anggota Dewan Pengawas/Penasehat Syariah di beberapa lembaga keuangan lainnya.

Gunawan Yasni dibesarkan di lingkungan keluarga terdidik yang memegang penuh keyakinan terhadap nilai-nilai Islam. Ayahnya, Zainul Yasni adalah ahli ekonomi syariah yang pernah bertugas sebagai Ketua Tim Koordinasi Kegiatan Ekspor ke Timur Tengah Departemen Perdagangan dan Koperasi hingga menjadi Duta Besar Indonesia di Yordania.

Sang Ayah menularkan pengetahuan dan pemahaman tentang ekonomi syariah kepadanya dengan memberi berbagai referensi tentang standar ekonomi syariah dan filosofi bermuamalah menurut keyakinan Islam.

Tak heran jika pemilik gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Magister Managemen Keuangan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prasetiya Mulya itu begitu fasih berbicara tentang ekonomi dan keuangan syariah.

Terkait keahliannya, ia juga telah menulis empat buku, yakni “Ekonomi dan Keuangan Syariah: Pemahaman Singkat dan Penerapan Ringkas” (dalam bahasa Indonesia dan Inggris); “Ekonomi Sufistik”; “Investasi Syariah”; dan “Pemikiran Ringkas Keuangan Islam” (dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab).

Tapi siapa sangka Muhammad Gunawan Yasni, SE.Ak., MM, CIFA, FIIS yang pada 2014 dinobatkan Karim Consulting sebagai “Sharia Ambassador” (Duta Syariah) dan “Icon of Sharia Capital Market” (Ikon Pasar Modal Syariah) itu juga telah menulis sebuah novel bergenre romantisme dalam dua bahasa (Indonesia dan Ingggris), masing-masing dengan judul “Sang Penatap Matahari” dan “The Sun Gazer”.

Novel “Sang Penatap Matahari” itu sendiri diberi kata pembuka oleh sosok misterius bernama Saray. Dialah yang menceritakan siapa Mogayer Gamil Yahya, tokoh utama novel ini (bukan kebetulan nama penulisnya adalah Muhammad Gunawan Yasni). Melalui Saray, pembaca mengetahui siapa Mogayer serta asal-usulnya.

*Di Ilhami kisah nyata*

Novel setebal 454 halaman dan terdiri dari 12 bagian itu sejatinya diilhami kisah nyata masa lalu, saat ini, dan masa depan penulisnya, seorang pria yang menyebut dirinya “A father to no one” (Ayah dari tak seorang pun) karena Mogayer “divonis” tidak akan bisa memberi keturunan akibat kondisi kesehatan di masa kecilnya, yaitu kelainan pada tulang kakinya.

Mogayer yang pada masa anak-anak cenderung penyendiri, kadang bersembunyi dalam keramaian, menutup diri dan bahkan menghindari cahaya matahari, pada masa remajanya menemukan pucuk-pucuk cintanya pada wanita-wanita luar biasa.

Mereka bagai datang dari dunia lain, khusus untuk melembutkan hati Mogayer, mengusir kesepiannya, membentuk kepribadiannya, dan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Kisah cintanya berliku, unik dan indah karena datang dari ketulusan.

Wanita-wanita dimaksud adalah Sarah Scott Allenby yang dikenalnya saat Mogayer belajar di American Community School (ACS, setingkat SMA) di Yordania, dan Alejandra Magnolia saat dia belajar setingkat SMA di Sekolah Indonesia Cairo (SIC) Mesir.

Sarah Allenby adalah cucu dari Edmund Henry Hynman Allenby, jenderal perang Inggris yang menjadi Komandan Pasukan Gabungan ketika merebut Palestina dari penguasaan Kekhilafahan Turki Usmani.

Nama Allenby diabadikan menjadi nama sebuah jembatan yang merupakan satu-satunya akses bagi warga Palestina yang akan keluar dari negaranya yang sedang dijajah Zionis Israel. Namanya “Allenby Bridge” atau sekarang disebut “King Hussein Bridge” (Jirs Al-Malek Hussein).

Sarah Allenby sendiri sangat peduli terhadap kondisi orang-orang Palestina dan sangat mencintai anak-anak Palestina yang menjadi pengungsi karena kampung halamannya digusur tentara Zionis Israel, bahkan Sarah kemudian meninggal tragis karena menjadi martir dalam pembelaan bagi orang-orang Palestina.

Sementara itu Alejandra Magnolia adalah gadis cantik puteri Atase Pertahanan Meksiko di Mesir, Eduardo Luis Martinez. Magnolia mempunyai minat baca yang luar biasa terkait teologi, filsafat, dan budaya, meski baru sekolah setingkat kelas satu SMA.

Tapi “kebersamaan” dengan Magnolia tidak berlangsung lama karena ayah gadis Meksiko itu ditarik pulang lebih cepat ke negaranya dari tugasnya selaku Atase Pertahanan Meksiko di Mesir.

Setelah lulus dari sekolah di Kairo Mesir, Mogayer langsung mengikuti tes masuk perguruan tinggi, Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Dia fokus mengincar Faluktas Ekonomi Universitas Indonesia.

Masa-masa kuliah tampaknya tidak seindah masa-masa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, baik saat belajar di Yodania maupun di Mesir. Romantisme masa remajanya sudah dihabiskan di dua negeri para Nabi itu. Dia kembali menjadi penyendiri meskipun tidak takut lagi pada sinar matahari.

Mogayer benar-benar memanfaatkan masa kuliahnya sebagai masa belajar serius dan mulai meletakkan fondasi bagi mimpi-mimpinya. Dia juga untuk sementara menutup hatinya terhadap wanita meski dia tahu ada teman seangkatannya yang berusaha tebar pesona di hadapannya.

*Teladan Nabi Ibrahim*

Mogayer, nama samaran Gunawan Yasni itu, lulus dari Fakultas Ekonomi dan menyandang predikat Akuntan dari Universitas Indonesia serta memperoleh gelar Magister Management Keuangan dari Prasetiya Mulya. Dia juga memiliki sertifikasi sebagai Certified Islamic Financial Analyst dari Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia.

Gunawan yang kini beristrikan Aisha adalah juga seorang Fellow di Islamic Insurance Society (FIIS) dan pemegang Sertifikasi Level Lanjutan (Level IV) Manajemen Risiko Perbankan.

Ahli Keuangan syariah itu berpisah dengan istri pertamanya Asiyah yang diharapkannya menjadi “mujahidah” dengan cara baik-baik karena dia merasa tidak akan bisa memberikan keturunan, sedangkan istri keduanya Aisha menyatakan ridho untuk tetap menjadi istri yang setia meski tahu bahwa Gunawan tidak akan bisa memberikan keturunan.

Sejak beberapa tahun terakhir, pemikiran Gunawan Yasni yang paling banyak didengar, dibahas, hingga dikutip berbagai kalangan cendekiawan adalah keinginannya menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Tampaknya menjadi pendakwah ekonomi dan keuangan syariah sudah menjadi jalan hidup seorang Gunawan Yasni. Ia sering menjadi narasumber untuk media-media nasional serta dikenal kompeten dalam menulis dan berbicara tentang topik yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan syariah.

Gunawan Yasni telah mengkomunikasikan pesan ekonomi syariah selama hampir 25 tahun dalam upaya mewujudkan harapannya menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi Syariah dunia. Ia juga sering diundang menjadi pembicara terkait ekonomi dan keuangan syariah ke berbagai negara, termasuk ke Amerika dan Spanyol.

Dia mencita-citakan agar masyarakat terbebas dari riba, sementara dalam ekonomi syariah tampak jelas adanya kebaikan atau kemaslahatan dan keadilan yang tidak hanya diperuntukkkan bagi orang Muslim semata.

Meminjam istilah pakar ekonomi syariah non Muslim yang juga praktisi hukum bisnis dari Amerika, Michael McMillen, ekonomi syariah sejatinya memadukan antara “the profit” (keuntungan) yang menjadi incaran perusahaan dengan panduan “the prophet” (Nabi) Muhammad yang menjadi panutan dan teladan umat Islam.

Kembali mengenai novel “Sang Penatap Matahari”, novel yang diangkat dari kisah nyata itu sangat menarik, terutama karena kisah cinta Mogayer dengan Sarah dan Mogayer dengan Magnolia bukan hanya romantis, tetapi juga sangat isnpiratif.

Dari merekalah Mogayer belajar tentang kesetiaan, harga diri, empati, kejujuran, keberanian, dan kasih sayang. Mogayer, anak bungsu dari delapan bersaudara yang dulu selalu mengurung diri karena sering ditinggal kedua orangtuanya bertugas ke daerah dan ke luar negeri, selanjutnya justru menjadi sang penatap matahari.

Diakuinya pula, rasa percaya dirinya, meski kadang naik-turun, juga terbentuk berkat bimbingan kakak sulungnya, Yus yang melatihnya menekuni olahraga bela diri karate sewaktu ia berstatus pelajar sebelum berangkat ke Yordania, mengikuti ayahnya yang mendapat amanah sebagai Duta Besar RI untuk Yordania.

Membaca novel ini pembaca dibuat penasaran, karena penulisnya menyajikan kisah yang hidup dan imajinatif, halaman demi halaman, dengan bahasa yang ringan dan sederhana serta mudah dicerna.

Penulis seperti mencurahkan semua perasaan yang menghimpitnya hingga pembaca seperti diajak masuk ke dalam masalah yang sedang dia hadapi, bahkan pembaca yang melankolis bisa menitikkan airmata ketika mencermati beberapa episode perjalanan hidup Mogayer dalam novel “Sang Penatap Matahari” yang kini dapat dipesan melalui tokopedia itu.

Kembali terkait pernikahan dengan istri keduanya, ada sesuatu yang unik. Mereka menikah secara sederhana, tepat saat kaum Muslimin menyembelih hewan qurban. Mereka menikah sore hari dalam suasana Hari Raya Idul Adha serta hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat.

Filosofi di balik pernikahan Mogayer dan Aisha di Hari Raya Idul Qurban itu adalah teladan Nabi Ibrahim A’laihissalam. Mereka ingin belajar kepada keluarga Bapak dari para Nabi tersebut. Belajar keikhlasan dan kesetiaan. Bertemu dan berpisah karena Allah, dan menerima semua ketentuan Allah tanpa prasangka.

Resensi novel ini ditulis oleh Aat Surya Safaat, Wartawan Senior dan Konsultan Komunikasi yang pernah menjadi Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York (1993-1998) dan Direktur Pemberitaan ANTARA (2016). Saat ini mendapat amanah sebagai Ketua Bidang Luar Negeri Serikat Media Siber Indonesia (SMSI). (***)

Continue Reading
Advertisement Berita Vaksin Penting

Dunia Pendidikan

Kemendikbudristek dan PT. Pos Indonesia Jalin Kerja Sama, Optimalisasi Penyaluran Bantuan Pendidikan

Published

on

Kemendikbudristek menjalin kerja sama dengan PT. Pos Indonesia (Persero) untuk mengoptimalkan pemanfaatan produk dan layanan Pos Indonesia dalam mendukung program  bantuan pendidikan (Foto : @www.kemdikbud.go.id)

Bandung, goindonesia.co – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjalin kerja sama dengan PT. Pos Indonesia (Persero) untuk mengoptimalkan pemanfaatan produk dan layanan Pos Indonesia dalam mendukung program  bantuan pendidikan. Naskah kerja sama tersebut ditandangani oleh Direktur Utama PT. POS Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi dan Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti. Acara seremoni penandatanganan Nota Kesepahaman dengan PT. Pos Indonesia (Persero) dilakukan di Graha Pos Indonesia, Bandung, Kamis (22/02).

Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Anang Ristanto, yang hadir mewakili Sekretaris Jenderal mengatakan dalam kerja sama ini meliputi pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan, pemanfaatan produk dan layanan kurir logistik serta dukungan pelaksanaan program dan kegiatan di bidang Pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

“Dengan adanya Nota Kesepahaman ini, harapannya dapat mewujudkan sinergisitas dalam pemanfaatan produk dan layanan Pos Indonesia terutama dalam pelaksanaan program dan kegiatan di bidang Pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi,” ungkap Anang.

Sebagai perusahaan BUMN logistik terbesar di Indonesia, Direktur Utama PT. POS Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi menuturkan kesanggupan PT Pos Indonesia di dalam menyalurkan bantuan pendidikan ke seluruh Indonesia.

“Kami memiliki 15.000 lebih Pegawai, 10.000 Mitra, dan 100.000 Agen Pos yang siap membantu setiap pnyaluran bantuan pendidikan di tahun 2024,” ujar Faizal.

PT. POS Indonesia (Persero) turut serta melaksanakan dan menunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, dan pada khususnya di bidang pelayanan jasa pos dan giro bagi masyarakat baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia dengan menerapkan prinsip – prinsip perseroan terbatas.

Nota Kesepahaman ini akan dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama yang lebih konkrit dan dapat segera diimplementasikan dalam membangun sinergisitas dengan semangat kolaborasi kedua belah pihak untuk memajukan program dan pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi di Indonesia. Acara ini turut dihadiri oleh seluruh jajaran Direksi, Komisaris dan Kepala Kantor Pos seluruh Indonesia. (***)

*Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Republik Indonesia

Continue Reading

Dunia Pendidikan

Pendidikan Guru Penggerak Ciptakan Paradigma Baru Pembelajaran

Published

on

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen), Iwan Syahril (Foto : @www.kemdikbud.go.id)

Makassar, goindonesia.co – Kesuksesan transformasi pendidikan di Sulawesi Selatan tentunya tak lepas dari peran Guru Penggerak. Hal penting ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen), Iwan Syahril. Dalam kunjungannya ke Sulawesi Selatan, Iwan membuka ruang dialog dengan para Guru Penggerak untuk mendengar secara langsung praktik baik yang telah mereka lakukan dalam upaya mendorong transformasi di satuan pendidikan mereka.

Iwan menyampaikan terima kasih kepada para Guru Penggerak yang telah mampu menggerakkan warga sekolah untuk bersama-sama mendorong paradigma baru di sekolahnya. Ia optimis akan ada perubahan sistem pendidikan ke arah yang lebih baik.

“Sekali lagi saya menekankan bahwa kita punya alasan untuk terus optimis dalam melakukan perubahan pada sistem pendidikan ke arah yang lebih baik. Karena perubahan yang tersulit adalah bagaimana caranya dapat memasukkan paradigma baru, jika paradigma sudah berubah menurut saya implementasinya akan lebih mudah,” ujar Dirjen PAUD Dikdasmen dalam dialog bersama para Guru Penggerak di Kantor Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan, Rabu (21/02).

Dalam dialog tersebut, Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Rismawati, menceritakan perjalanan panjangnya sebelum diangkat menjadi Pengawas Sekolah. Di tahun 2010, ia lulus menjadi guru yang ditugaskan di SMP 8 Satap, Tupabbiring. Sekolah tersebut berlokasi di daerah kepulauan yang hanya memiliki 20 murid. Ia menuturkan bahwa banyak tantangan pada awal ia mengajar. Mulai dari ruang belajar yang harus menumpang di ruangan SD hingga murid yang harus dijemput ke sekolah karena rendahnya motivasi untuk belajar.

“Untuk kegiatan belajar mengajar kami menumpang di ruangan SD dan itu berpindah-pindah menunggu ada ruang yang kosong. Bahkan setiap pagi saya bersama satu orang teman saya harus menjemput murid-murid ke rumahnya,” ungkapnya.

Rismawati menceritakan, ketika mengetahui adanya Pendidikan Guru Penggerak (PGP) ia merasa program tersebut cocok dengan semangatnya untuk menggerakkan sekolah menjadi lebih berkembang. Akhirnya, ia mantap untuk mendaftarkan diri dan lolos menjadi Guru Penggerak angkatan ketiga.

Pada kesempatan dialog lainnya, Guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Kota Makassar, Muhammad Nur, mengungkapkan alasannya menjadi Guru Penggerak agar dapat menjadi bagian dari roda pergerakan pendidikan di Indonesia. “Saya ingin memberikan pembelajaran yang terbaik untuk peserta didik di SLB, meskipun anak berkebutuhan khusus tapi mereka memiliki potensi yang bisa dikembangkan melalui sentuhan guru-guru hebat,” jelasnya.

Selanjutnya, Nur menambahkan bahwa kurikulum dalam Pendidikan Guru  Penggerak (PGP), berisi materi yang tersusun sangat rapi dan menyentuh sehingga menggugah cara berpikirnya tentang profesi yang sudah ia geluti hampir 23 tahun itu.

“Setelah berefleksi saya merasakan banyak perubahan positif. Perubahan yang sangat saya rasakan adalah merasakan diri saya sebagai seorang guru yang sebenar-benarnya. PGP benar-benar dapat ”menghipnotis” saya untuk bisa menjadi guru yang lebih baik. Materi yang saya dapatkan dalam PGP mengubah paradigma saya dari seorang ”penceramah” menjadi seorang guru,” imbuhnya.

Koordinator Guru Penggerak Provinsi Sulawesi Selatan, Nuzul Haq, mengungkapkan hal senada bahwa dampak dari PGP mampu merubah cara pandangnya terhadap murid. “Paradigma yang saya pegang bahwa guru sebagai pamong sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman sang murid. Dan ini sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara,” tuturnya.

Nuzul Haq juga memiliki harapan bahwa program PGP dapat terus dilanjutkan karena ia merasakan perubahan bukan hanya kepada konten akan tetapi lebih kepada kontekstual dalam kehidupannya bersama dengan murid. Program ini membawa para guru menerapkan pembelajaran yang lebih berpihak kepada murid, lebih berdampak dan berpusat pada murid sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka. (***)

*Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Continue Reading

Dunia Pendidikan

Kemenparekraf Buka 3.860 Kuota Mahasiswa Baru Poltekpar Tahun Akademik 2024/2025

Published

on

Foto ilustrasi dok. Kemenparekraf (Foto : @kemenparekraf.go.id)

Jakarta, goindonesia.co – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) akan kembali membuka program penerimaan mahasiswa baru (PMB) Politeknik Pariwisata (Poltekpar) untuk tahun akademik 2024/2025. 

Kemenparekraf melalui enam Poltekpar yang ada di bawah naungannya akan membuka kesempatan bagi 3.860 calon mahasiswa untuk menjadi sumber daya manusia andal di sektor pariwisata tanah air. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno dalam keterangannya, Kamis (15/2/2024), mengatakan selama ini Poltekpar telah banyak mencetak lulusan-lulusan unggul di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif baik untuk bekerja maupun berwirausaha. 

“Seiring dengan peningkatan kinerja pariwisata di Indonesia, peran sumber daya manusia pariwisata menjadi isu yang strategis untuk dipersiapkan maupun dikembangkan secara profesional baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Karenanya kita terus menggalakkan untuk kuliah di Poltekpar aja,” kata Menparekraf Sandiaga. 

Jalur penerimaan mahasiswa baru Poltekpar Tahun Akademik 2024/2025 masih terbagi dalam dua kategori seleksi. Pertama adalah Seleksi Bersama Masuk (SBM) Politeknik Pariwisata yaitu pendaftaran dan seleksi yang dilakukan secara bersama dan terintegrasi antara seluruh Poltekpar yang berada di bawah naungan Kemenparekraf. Yakni Poltekpar NHI Bandung, Poltekpar Bali, Poltekpar Medan, Poltekpar Makassar, Poltekpar Palembang, dan Poltekpar Lombok. 

Kemudian yang kedua adalah Seleksi Mandiri Masuk (SMM) Poltekpar. Yakni merupakan seleksi penerimaan mahasiswa baru yang diselenggarakan secara mandiri oleh masing-masing Politeknik Pariwisata sesuai dengan tahapan seleksi yang telah ditetapkan secara mandiri. 

Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani, mengatakan jumlah kuota penerimaan mahasiswa baru Poltekpar tahun ini meningkat dibanding tahun akademik sebelumnya yakni dari 3.805 menjadi 3.860.

“Pendidikan vokasi yang berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia pariwisata yang unggul dan berdaya saing internasional,” ujar Giri. 

Plt. Kepala Pusat Pengembangan SDM Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, mengatakan Seleksi Bersama Masuk (SBM) Poltekpar Pariwisata di bawah naungan Kemenparekraf/Baparekraf akan dibuka secara resmi tahapannya pada 26 Februari 2024. 

“Seleksi Bersama Masuk Poltekpar Pariwisata ini juga akan diluncurkan secara resmi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno di tanggal yang sama pada 26 Februari mendatang,” ujar Dewi.  (***)

*Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf RI

Continue Reading

Trending