Connect with us

Gaya Hidup

dr Reisa Broto Asmoro Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru

Published

on

Jakarta, 8 Juni 2021 – Satu tahun berlalu. Dua belas bulan, 366 hari sudah saya bertugassebagai juru bicara Covid-19.

Saya belajar bahwa setip orang punya cerita yang berbeda dalam bersinggungan dengan COVID-19. Ada banyak masa berduka dan banyak lagi orang memiliki kisah lebih sedih dari yang saya alami. Memang sekilas, tidak ada yang baik tentang pandemi ini. Meski, saya bersyukur kepada Tuhan karena telah mampu melewati setahun yang tidak mudah ini, tetapi jujur saja, jika waktu boleh diulang, saya lebih suka menghindari pandemi. Saya lebih memilih mencari cara mencegahnya terjadi.

Pandemi ini telah masuk ke semua sendi kehidupan kita secara dramatis. Mengubah hidup secara drastis, memberikan tantangan baru yang sebelumnya kita tidak pernah perkirakan. Namun tetap harus kit acari jawabannya.

Wabah ini telah merenggut para dokter, perawat, dan puluhan tenaga kesehatan terbaik kita yang berjuang tanpa lelah di garis depan untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Ratusan dari mereka telah gugur, sebagiannya adalah kolega saya dan guru saya, sesama dokter. Kehilangan yang luar biasa yang sampai saat ini masih saya rasakan.

Tentunya juga gugurnya para pejuang ini jadalah kerugian negara. Dalam rangka menjadi dokter, di Indonesia, seseorang harus menghabiskan setidaknya enam tahun belajar. Belum lagi serangkaian Pendidikan spesialis, pasca sarjana, berbagai kursus, dan pemenuhan kualifikasi akademik lainnya yang harus mereka lalui untuk dapat disebut ahli di bidangnya. Mencetak dokter-dokter berikutnya bukanlah perjalanan singkat.

Minggu ini menandai tahun pertama pengabdian saya sebagai juru bicara penanganan dan vaksinasi Covid-19 untuk pemerintah. Sekedar untuk menyegarkan ingatan kita, perjalanan yang menempatkan saya di tempat ini, dimulai oleh dua kasus positif ibu dan anak, tahun lalu, di Depok.

Kasus pertama dan kedua Covid-19 di Indonesia ini memicu perdebatan tentang bagaimana masyarakat harus menanggapi kejujuran dan keberanian orang yang secara terbuka menyatakan status kesehatan mereka.

Covid-19 telah mengubah hidup mereka, terutama bagaimana privasi mereka, bahkan tetangga mereka, dilanggar media dan netizen, demi judul berita sensasional dan konten media sosial yang viral.

Namun stigmatisasi terhadap pasien Covid-19 tidak berumur lama. Hari ini, kita malah melihat banyak orang malah saling membantu dan mendukung tetangga mereka, bahkan menyemangati orang-orang yang mereka tidak kenal sebelumnya, yang sedang melalui masa isolasi untuk sembuh dari infeksi.

Sekarang kita telah melihat banyak inisiatif berdasarkan Solidaritas tinggi, menulari berbagai kelompok di seluruh Indonesia, menular cepat sebagai virus yang baik. Mereka saling membantu bukan saja pasien Covid-19, tetapi juga membantu mereka yang terkena dampak krisis ekonomi.

Inisiatif Desa Tangguh dan Jogo Tonggo adalah contoh virus baik yang menular. Inisiatif yang secara harfiah berarti menjaga tetangga Anda adalah inspirasi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyrakat berskala Mikro (PPKM Mikro). Dengan sebutan yang bervariasi di 34 provinsi, semangat yang sama untuk saling peduli dan mengawasi, atau bahkan saling merawat anggota masyarakat membutuhkan telah meluas di seluruh pelosok negeri.

Tentunya, pemerintah terus mencari cara untuk mencegah lebih banyak kematian dan memastikan masyarakat semakin aman dari ancaman virus corona ini. Kapasitas pengujian sampel (testing) telah meningkat dari 10 ribu menjadi lebih dari 50.000 sampel setiap hari. Jumlah laboratorium telah berkembang menjadi sekitar 800 laboratorium di seluruh negeri. Ini adalah komitmen meningkatkan 3T (Testing,Tracing and Treatment) atau tes, telusur dan terapi yang ditekankan Presiden Joko Widodo sejak awal pandemi.

Peningkatan ini dimungkinkan dengan dukungan dari puluhan ribu tracers atau petugas pelacak kasus yang merupakan gabungan dari tenaga Kesehatan, dan polisi dan prajurit TNI. Ribuan relawan juga direkrut dan dilatih untuk mendukung tracing, dan berbagai tugas yang biasa diemban tenaga Kesehatan. Mereka bertugas mulai dari penyedia layanan kesehatan tingkat terendah, seperti puskesmas sampai dengan di rumah sakit-rumah sakit rujukan.

Pandemi telah mengambil alih hampir 90 persen dari layanan yang disediakan oleh fasilitas kesehatan tingkat manapun. Laporan terbaru menunjukkan bahwa penanganan pandemi menambah sekitar 40% beban kerja dan jam operasional puskesmas di seluruh Indonesia.

Setelah pemerintah mengamati arus mudik dan arus balik, rumah sakit kembali diminta untuk meningkatkan kapasitas mereka dengan menambah jumlah bangsal isolasi dan tempat tidur di ruang gawat darurat mereka . Sejak Januari 2021, pemerintah memiliki hampir 1000 rumah sakit rujukan, 10 kali lebih banyak daripada kondisi di fase awal pandemi. Selain rumah sakit, Kementerian Kesehatan telah menambah lebih dari 8500 tenaga kesehatan untuk memperkuat pelayan Kesehatan saat ini. Pasukan tambahan ini terdiri dari dokter umum , spesialis, perawat dan staf pendukung lainnya.

Itulah sebagian dari statistik yang disenangi media. Angka-angka yang bisa berubah dalam semalam.

Namun harus juga diingat bahwa pandemi tidak hanya mempengaruhi mereka yang tertular. Mereka yang berdiam diri di rumah, rajin memakai masker dan cuci tangan pakai sabun sesuai anjuran juga tetap terdampak.

Kesulitan ekonomi melanda keluarga Indonesia ditambah dengan tantangan psikologis baru membantu anak-anak belajar online sambil berkerja secara daring. Dengan segala

keterbatasan akses ke sekolah dan perubahan pola perilaku hidup, termasuk berubahnya pola asupan gizi, anak-anak dan populasi rentan lainnya juga dihadapkan dengan risiko kesehatan lainnya diluar Covid-19.

Sebelum pandemi, banyak rumah tangga Indonesia mampu membeli cukup protein dan nutrisi penting lainnya untuk anak-anak mereka. Namun saat para orang tua, pencari nafkah utama, harus tinggal di rumah sementara atau gajinya dipotong karena kehadiran di tempat kerja lebih sedikit, menu harian yang tersedia setiap waktu di masa lalu, tampaknya menjadi kemewahan pada saat ini.

Karena Puskesmas harus menyesuaikan jam operasional dan beban pekerjaannya, cakupan program imunisasi dasar rutin dengan tambahan asupan gizi untuk bayi baru lahir dan balita melorot drastis. Kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari. Rumah sakit pun banyak dihindari karena orang tua takut mendekati fasilitas tempat penderita Covid-19 dirawat. Banyak anak Indonesia yang tingkat kesehatannya saat ini tidak terpantau dengan baik.

Maka, risiko peningkatan kasus anak dengan gizi buruk, stunting dan masalah kesehatan mental akan bermunculan apabila kita biarkan.

Kabar baiknya adalah orang Indonesia terbukti tangguh dalam menghadapi krisis. Mereka tidak akan membiarkan pemerintah untuk bekerja sendiri.

Gotong-royong antar individu dan komunitas adalah senjata rahasia di balik upaya mengatasi pandemi di negeri ini. Seorang siswa sekolah perawat mengajukan diri sebagai anggota tim “Cobra” di Wisma Atlet. Seorang stand-up comic atau komedian menggunakan ponselnya untuk membuat para penontonnya tertawa terpingkal-pingkal di rumah atau fasilitas karantina pemerintah saat menjalani isolasi atau perawatan. Ika Dewi Maharani, warga Surabaya, menjadi supir ambulans perempuan pertama yang mengantar pasien ke Wisma Atlet.

Di Padang, Sumatera Barat, sebuah kisah luar biasa telah diceritakan tentang Dr Andani Eka Putra, kepala penelitian penyakit menular dan diagnostik Universitas Andalas. Didorong oleh mimpinya untuk melihat negara dan rakyatnya aman dari pandemi ini, dokter Andani menggunakan tabungan pribadinya sebesar Rp 850 juta untuk membangun laboratorium pengujian sampel Covid-19. Dia membuka pintu labnya dan menyediakan pengujian sampel secara gratis.

Memasuki bulan keenam sejak program vaksinasi digulirkan, masyarakat Indonesia mengantre di pos dan sentra vaksinasi. Tidak hanya mengantre untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mendampingi lansia, guru, dan tokoh agama divaksinasi. Mobil, bus, ojek online, dan bahkan becak, digunakan untuk mengangkut lansia menemui petugas vaksinasi.

Beginilah cara orang Indonesia mempersonifikasikan ungkapan, “tidak ada yang aman sampai semua orang aman (no one is safe until everyone is safe).”

Masyarakat Indonesia adalah salah satu yang beruntung. Lebih dari 90 juta dosis Coronavac dari Sinovac , AstraZeneca dari Covax dan Sinopharm telah mendarat di bandara Soekarno Hatta dan sudah disuntikkan ke lebih dari dua puluh juta orang Indonesia.

Dan kabar baiknya tidak berhenti di situ, berbagai perguruan tinggi berkomitmen mengembangkan Vaksin Merah Putih dalam rangka menguatkan kemandirian. Para ilmuwan dari Lembaga Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas

Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran kini tengah berlomba mengembangkan vaksin produksi Indonesia.

Pandemi mungkin sedikit melemahkan kita, tetapi juga telah menunjukkan resiliensi dan ketangguhan kita. Itulah hikmah dari serangkaian kegiatan komunikasi saya kepada public sebagai jubir—bahwa bukan angka dan statistik yang paling penting, melainkan orang-orang, kisah ketangguhan manusia Indonesia adalah yang paling utama.

Tetap Tangguh Indonesia. Salam sehat dari saya.

***

Tentang Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) – Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dibentuk dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 serta pemulihan perekonomian dan transformasi ekonomi nasional. Prioritas KPCPEN secara berurutan adalah: Indonesia Sehat, mewujudkan rakyat aman dari COVID-19 dan reformasi pelayanan kesehatan; Indonesia Bekerja, mewujudkan pemberdayaan dan percepatan penyerapan tenaga kerja; dan Indonesia Tumbuh, mewujudkan pemulihan dan transformasi ekonomi nasional. Dalam pelaksanaannya, KPCPEN dibantu oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional.

Tim Komunikasi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Narahubung: Lalu Hamdani

No HP : 081284519595

Kultum

Bergembira Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Published

on

Ama R. Hery Herdiana (Foto : Istimewa)

Oleh: Ama R. Hery Herdiana

Assalamualaikum wrwb sahabat fillah.

Jakarta, goindonesia.co : Bulan Sya’ban beberapa hari lagi akan berganti bulan Ramadhan. Hari-hari terakhir bulan Sya’ban ini biasanya dimanfaatkan sebagian besar umat Islam untuk melakukan silaturahmi ke orang tua, guru, saudara, teman, tetangga yang dekat untuk memohon maaf serta melakukan ziarah kubur.

Sebagian berkumpul sambil makan di suatu tempat yang nyaman, orang sunda menyebutnya papajar. Ada lagi yang melakukan berdoa bersama, rewahan dan lain-lain.

Bila kita perhatikan hari-hari minggu terakhir bulan Sya’ban ini pemakaman ramai diziarahi, what’s app, IG, FB, serta platform medsos lain ramai dengan ucapan permintaan maaf dan ucapan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sebagai seorang muslim sudah memang seharusnya bergembira menyambut bulan Ramadhan dikarenakan Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka” [HR. An-Nasa’i].

“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kepada kamu sekalian untuk berpuasa….” [HR. Ahmad].

Sungguh kegembiraan ini harus sepenuh hati karena rasa gembira ini adalah cerminan ketakwaaan yang ada dalam hati kita, karena sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama kita (islam), yang harus senantiasa kita agungkan.

Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” [QS. Al-Hajj 32].

Ada beberapa alasan mengapa kita harus bergembira dengan bulan Ramadhan, salah satunya ialah dihapuskannya dosa kita. Rasulullah saw bersabda, ”Sholat lima waktu, sholat jum’at sampai ke sholat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar ditinggalkan” [HR. Muslim].

Sehingga Ramadhan sesungguhnya menjadi momentum untuk bertobat, membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan. Seringkali untuk melakukan suatu kebaikkan itu memerlukan momentum, termasuk juga misalnya untuk memulai hidup lebih baik, menjadi lebih sehat, menjadi lebih taat kepada Alloh, kepada orang tua, kepada hukum dan lain sebagainya. Nah Ramadhan ini momentum untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan Alloh dan makhluk-Nya, memperbaiki dan memperbanyak amal sholeh serta ilmu agama.

Selanjutnya hal kedua yang membuat kita berbahagia adalah di bulan Ramadhan berlomba-lombanya kita melakukan kebaikan bahkan tidur untuk mencegah berbuat dosapun berpahala, selanjutnya pahala ibadah sunnah menjadi pahala ibadah wajib, pahala wajib dilipatgandakan sebagaimana nabi saw bersabda, ”Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan satu kebaikan di bulan ramadhan maka pahalanya sama dengan pahala melakukan perbuatan yang fardhu (wajib) di selain bulan ramadhan. Dan barangsiapa melakukaan satu perbuatan wajib di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan melakukan 70 perbuatan wajib di selain bulan Ramadhan. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” [HR. Bukhori-Muslim].

Kegembiraan ketiga di bulan Ramadhan ialah kebaikan begitu lebih mudah dikerjakan karena nabi Muhammad SAW bersabda,“….(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, setan-setan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) sampai berakhirnya ramadhan” [HR Ahmad].

Kegembiraan keempat yang membuat kita berbahagia adalah di bulan Ramadhan ukhuwah kita meningkat, momen dimana banyak orang melakukan kegiatan ibadah secara berjamaah. Sudah menjadi pengalaman bersama bagaimana hari-hari Ramadhan dipenuhi dengan banyak pertemuan antar jamaah masjid, dari mulai sholat wajib berjamaah, tarawih berjamaah, kajian atau pengajian ba’da sholat, tadarusan selepas tarawih, ODOJ, hataman, hingga itikaf di masjid menyambut malam lailatul qodar, orang-orang berbondong-bondong menuju tempat ibadah, hal ini tentu menambah semangat beribadah sehingga terasa lebih ringan dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Sahabat fillah masih banyak tambahan kegembiraan di luar yang telah saya sebutkan diatas, oleh karena itu tentunya setiap diri ingin sampai di bulan Ramadhan untuk mengerjakan puasa Ramadhan beserta ibadah wajib dan sunnahnya, karena nabi saw bersabda, ”Sekiranya umatku mengetahui keutamaan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka menghendaki agar sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan” [HR. IIbnu Majah].

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan” [HR. Ahmad dan Ath-Thabrani].

Dalam kesempatan ini juga perkenankanlah saya untuk menyampaikan permohonan maaf apabila selama berinteraksi ada kesalahan dan khilaf baik ucapan dan tindakan, selamat melaksanakan ibadah Ramadhan dalam beberapa hari kedepan, semoga amal ibadah kita diterima Alloh SWT aamiin ya mujibbassailiin.
Marhaban ya Ramadhan… (***)

*Penulis adalah Pimpinan Majelis Dzikir Asyiiqi Rosulullah (#10)

Continue Reading

Kultum

Akhlak Yang Baik Adalah Kunci Untuk Mencegah Perundungan

Published

on

Ama Hery di tengah jamaah Majelis Dzikir Asiiqi Rosulullah (Foto: Istimewa)

Oleh: Ama R. Hery Herdiana

Assalamualaikum wrwb sahabat fillah.

Jakarta, goindonesia.co : Setiap orang tua pasti memikirkan anak-anaknya. Seringkali merasa khawatir dan memikirkan apa yang sedang terjadi atau sedang dilakukan anak-anaknya.

Terhenyak dengan berita perundungan yang mencuat paling menonjol dan menjadi perhatian banyak orang akhir-akhir ini, mengingatkan dan membuat kita berfikir untuk menata diri dan keluarga kita agar terhindar menjadi korban perundungan atau dari melakukan perbuatan perundungan.

Perundungan bisa menimpa siapa saja, kadang-kadang menimpa tokoh politik, pejabat, tokoh agama, selebriti maupun orang biasa. Seringkali terjadi di sekolah, di tempat bekerja atau usaha, di lingkungan pergaulan bahkan di rumah. Dahulu perundungan hanya terjadi di dunia nyata baik secara verbal, fisik maupun psikis.

Saat ini perundungan pun berkembang mengikuti perkembangan teknologi, informasi dan internet sehingga perundungan terjadi juga di dunia maya disamping terjadi di dunia nyata. Seringkali melihat mereka yang merundung merasa bangga dan mengupload kejadian perundungan tersebut.

Begitu banyak dan mudahnya seseorang atau sekelompok orang melakukan perundungan. Mungkin Sebagian dari kita tidak tahu apakah anak kita dibully atau membully orang lain di sekolahnya, atau di lingkungan pergaulannya, atau di tempat kerja atau usahanya. Mungkin keluarga kita tidak tahu bahwa kita juga dibully atau membully orang lain. Bisa jadi awalnya hanya bercanda, mengejek, mengolok-olok. Lama-lama meningkat kepada tindakan pemukulan yang menyebabkan orang lain terluka.

Alloh SWT melarang kita melakukan perundungan melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” [QS al-Hujurat 11].

Rosululloh SAW bersabda, “Seorang (disebut) muslim adalah manakala orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya” [HR.Bukhari].

Oleh karena itu tugas dari kita para orang tua adalah mendidik anak-anak dan istri-istri kita untuk beriman dan beramal sholeh serta mencegah mereka dari melakukan ucapan atau perbuatan keji dan munkar dengan kasih sayang dan pemaaf, mencari rejeki halal, berkah serta tidak silau terhadap dunia dengan memberikan teladan kehidupan kepada mereka.

Dalil pijakannya Alloh SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim 6].

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. At-Taghobun 14- 15].

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [QS. Takatsur 1].

Sahabat fillah mengajarkan sopan-santun, tata krama dalam pergaulan dengan sesama manusia baik kepada orang tua, orang yang lebih tua, seumuran dan lebih muda adalah kunci untuk mencegah perundungan.

Rosululloh SAW bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan di antara kami” [HR. Tirmidzi].

”Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama yang baik” [HR. Tirmidzi dan Hakim].

Beliau SAW juga bersabda, ”Muliakanlah anak-anak kalian dan ajarilah mereka tata krama” [HR. Ibnu Majah].

Sahabat fillah dari Al-quran dan hadits yang beberapa diantaranya disebutkan di atas diperoleh kesimpulan bahwa perintah dan tanggungjawab mendidik keluarga ada ditangan orang tua, ayah atau suami sebagai kepala keluarga adalah yang paling bertanggung jawab atas hal ini. Keteladanan adalah pendidikan terbaik.

Semoga kita menjadi orang tua dan anak yang diberi kemampuan untuk meniru keteladanan nabi Ibrahim As dan nabi Ismail As, dan semoga Alloh mengabulkan doa yang sering kita ucapkan yaitu, “Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”[QS. Al-Furqan 74]. Aamiin Allohumma Aamiin….

*Penulis adalah Pimpinan Majelis Dzikir Asyiiqi Rosulullah

Continue Reading

Kultum

Rindu Berjumpa dengan Allah

Published

on

Ama R. Hery Herdiana (Foto Istimewa)

Assalamualaikum wrwb sahabat fillah.

Jakarta, goindonesia.co – Ketika mendengar seseorang terdekat baik itu orang tua, anak, istri, suami, keluarga, kerabat, sahabat, teman yang sholeh/ah atau alim ulama meninggal seringkali kita merasa sedih, padahal mereka mungkin saja tidak bersedih, bahkan sebaliknya mereka merasa senang dikarenakan akan segera bertemu dengan Rabbnya. Dalam hidupnya di dunia, mereka telah menahan rindu bertemu dengan Rabbnya. Kerinduan yang membuat mereka tidak berpaling kepada selain-Nya.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan Allah itu pasti datang” [QS. Al-Ankabut 5].

Ada yang berpendapat, ayat ini merupakan hiburan bagi orang-orang yang rindu. Menangkap apa yang disampaikan Alloh di ayat ini : Aku tahu bahwa siapa yang mengharap perjumpaan dengan-Ku, berarti dia rindu kepada-Ku. Aku telah mempercepat waktu baginya sehingga terasa dekat, dan waktu itu pasti akan datang. Sebab segala sesuatu yang akan datang itu dekat.

Nabi Muhammad SAW biasa bersabda dalam doa, “Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang Wajah-Mu dan kerinduan berjumpa dengan-Mu.”

Sebagian orang berkata, “Nabi SAW senantiasa rindu berjumpa dengan Allah. Dalam kitab Madarijus Salikin disebutkan: Kerinduan Beliau SAW tidak semata ingin berjumpa dengan Allah, tapi kerinduan ini memiliki seratus bagian. Sembilan puluh sembilan bagi beliau dan satu bagian dibagi-bagi kepada umat. Beliau SAW ingin agar satu bagian ini ditambahkan kepada bagian kerinduan yang dikhususkan bagi beliau. Allah lah yang lebih tahu.”

Rindu merupakan perjalanan hati menuju kekasih dalam keadaan bagaimanapun. Rindu adalah gejolak hati untuk bertemu kekasih. Rindu adalah ketenangan hati karena cinta dan keinginan untuk berjumpa serta berdekatan. Ada yang berpendapat, rindu dapat membakar hati dan menghentikan detak jantung. Tanda rindu ini ialah tersapihnya anggota tubuh dari syahwat.

Sahabat fillah, kita yang tertinggal di dunia pasti akan menyusul, saat ini sedang menunggu giliran dan antrian pulang. Semoga di dalam diri kita ada rasa rindu untuk berjumpa dengan Allah dan Rosul-Nya.

Sebagaimana kita pun rindu dengan mereka yang kita kasihi dan sayangi di dunia; orang tua, istri/suami, anak, saudara, sahabat, teman sholeh/ah baik yang masih hidup maupun yang sudah mendahului kita. Alfatihah buat mereka semua… (***)

*Penulis adalah Pimpinan Majelis Dzikir Asyiiqi Rosulullah

Continue Reading

Trending