Connect with us

Gaya Hidup

Redam Lonjakan COVID-19, Masyarakat Jangan Berkerumun dan Bepergian

Published

on

Jakarta, Selasa 25 Mei – Belajar dari pengalaman sebelumnya, terbukti terjadi lonjakan kasus pada empat momen libur panjang sepanjang 2020. Lonjakan kasus juga biasanya diikuti lonjakan kematian akibat COVID-19. Kecenderungan masyarakat yang melakukan perjalanan setiap libur panjang, menjadi pemicu lonjakan kasus karena hampir selalu diiringi oleh turunnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Dr. Sonny Harry B. Harmadi, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19, menyampaikan meningkatnya aktivitas perjalanan akan menciptakan kerumunan. Kepatuhan protokol 3M memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan, akan turut berkurang. “Inilah yang memicu lonjakan kasus. Lalu saat terjadi lonjakan kasus, beban pada pelayanan kesehatan juga ikut meningkat,” terangnya dalam Dialog bertema Terus Kencangkan Protokol Kesehatan yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (20/5).

Dikhawatirkan pasien COVID-19 yang dirawat di RS akan datang secara bersamaan dengan jumlah yang besar. “Kalau sampai 7-8 ribu pasien dirawat bersamaan, maka RS akan sangat kewalahan sehingga tidak bisa membantu dengan maksimal,” ungkap dr. Lia G. Partakusuma Sp.PK. MM. MARS. Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

Tidak hanya itu saja, jumlah tenaga kesehatan juga dikhawatirkan tidak mencukupi apabila jumlah kasus yang dirawat di RS meningkat secara bersamaan. “SDM di ICU harus khusus, belum lagi apabila jumlah penularan tinggi, maka SDM kita akan mudah tertular seperti awal tahun yang lalu, banyak tenaga kesehatan kita tertular COVID-19,” jelas dr. Lia lebih lanjut.

Saat ini kondisi keterisian tempat tidur (bed occupancy ratio/BOR) secara nasional kurang dari 30%. Namun sudah ada beberapa provinsi yang menunjukkan peningkatan BOR cukup signifikan, “Aceh dan Sulawesi Barat BOR-nya kini sudah di atas 50%. Ada juga beberapa provinsi yang BOR-nya mencapai 25-50% seperti Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Riau. Lalu yang peningkatannya 10-24% ada di Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kep. Riau, Jawa Tengah, dan Jambi,” terang dr. Lia.

Untuk menekan dan menghindari kondisi terburuk itulah pemerintah memberlakukan peraturan peniadaan mudik tahun ini. Kondisi transportasi selama diberlakukannya aturan peniadaan mudik juga dinilai sangat efektif.

Diakui Dr. Sonny, “Transportasi baik angkutan laut, udara, bahkan angkutan darat lalu lintasnya turun 93%. Angkutan udara pun turun 70%. Esensi pelarangan mudik itu adalah agar masyarakat jangan melakukan perjalanan pada tanggal berapapun,” terangnya.

Aturan pelarangan mudik tahun ini pun mampu menekan keinginan masyarakat untuk pulang ke kampung halaman, penelitian litbang Satgas COVID-19 menunjukkan sebelumnya masyarakat yang ingin melakukan mudik sebesar 33%, turun menjadi 11% setelah diberlakukan aturan pelarangan mudik, bahkan setelah sosialisasi terus menerus dilakukan, keinginan untuk mudik turun menjadi 7%.

Prof. Dr. dr. Soedjatmiko SpA(K). Msi., Guru Besar FKUI mengimbau agar membatasi kerumunan dimanapun, baik pemudik maupun yang tidak mudik. Bagi yang tidak mudik juga sebaiknya jangan berkerumun di pusat perbelanjaan, apalagi di tempat wisata. “Jangan sampai saudara kita tertular COVID-19 hingga bergejala berat dan masuk rumah sakit,” pesannya.

Mengutip data Satgas COVID-19, Prof. Soedjatmiko menyebutkan bahwa dari 6-7 orang yang berkerumun ada 1 orang yang positif COVID-19. “Apalagi dalam kerumunan itu kecenderungan mengabaikan protokol kesehatan juga tinggi, seperti memakai masker tidak benar, bahkan tidak memakai masker sama sekali,” tegasnya.

Begitu juga bagi yang sudah divaksinasi sebanyak dua dosis secara lengkap pun dihimbau oleh Prof. Soedjatmiko agar tidak berkerumun, “Masih ada peluang sebesar 35% bagi orang yang sudah divaksinasi untuk tertular COVID-19. Sehingga tidak ada jaminan kita kebal 100% dari COVID-19,”

Untuk menghindari itu Prof. Soedjatmiko menyarankan, “Apabila ada keluarga yang mudik atau pernah berkerumun selama 1 jam atau lebih, perlu diwaspadai. Sarankan untuk swab Antigen atau PCR, dan bila perlu laporkan ke ketua RT/RW dan Satgas COVID-19 di lingkungan masing- masing,” sarannya.

***

Tentang Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) – Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dibentuk dalam rangka percepatan penanganan COVID-19 serta pemulihan perekonomian dan transformasi ekonomi nasional. Prioritas KPCPEN secara berurutan adalah: Indonesia Sehat, mewujudkan rakyat aman dari COVID-19 dan reformasi pelayanan kesehatan; Indonesia Bekerja, mewujudkan pemberdayaan dan percepatan penyerapan tenaga kerja; dan Indonesia Tumbuh, mewujudkan pemulihan dan transformasi ekonomi nasional. Dalam pelaksanaannya, KPCPEN dibantu oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dan Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional.

Tim Komunikasi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Narahubung: Lalu Hamdani

No HP 0812 84519595

Gaya Hidup

Kopi Lanang Itu Kopi Gagal tapi Mahal

Published

on

Kopi Lanang (Foto: wikipedia)

Jakarta, goindonesia.co — Pernahkah kamu mendengar tentang kopi Lanang?. Mungkin banyak yang sudah mendengar tentang jenis kopi ini. Terutama jika dikaitkan dengan persoalan khasiatnya, yang disebut mampu meningkatkan kejantanan pria.

Tapi tahukah kamu apa sebenarnya kopi lanang itu?. Sebelum kamu menikmati secangkir kopi lanang, ada baiknya simak dulu tulisan berikut.

Sebenarnya kopi Lanang adalah biji kopi gagal. Bukan berarti biji kopi yang tidak bisa dikonsumsi atau rasanya tidak enak ya. Gagal di sini artinya biji kopi lanang adalah bisa kopi yang mengalami kelainan.

Umumnya biji kopi itu memiliki dua biji (dikotil), tapi ada juga yang cuma satu biji (monokotil). Nah biji kopi monokotil inilah yang disebut biji kopi lanang. Atau kalau kita ngomongin bawang putih, kopi lanang ini mungkin sama seperti bawang lanang.

Secara fisik pun gampang sekali dibedakan. Biji kopi lanang ini bentuknya lonjong (seperti kacang utuh), sementara biji kopi normal, yang bentuknya seperti kacang yang dibelah. Karena gampang dibedakan, biasanya pada saat sortir keduanya bisa langsung dipisahkan.

Kopi lanang ini tidak hanya dikenal di Indonesia saja lho. Di pasar luar negeri pun juga dikenal peaberry alias kopi lanang.

Secara ilmiah, penyebab biji kopi menjadi monokotil adalah kelainan genetik, tidak optimalnya proses penyerbukan putik bunga, ataupun ketidakseimbangan distribusi zat makanan. Jadi kopi lanang ini tidak bisa diciptakan melalui rekayasa dalam penananam.

Semua jenis kopi, baik robusta, arabika, ataupun liberika, sama-sama punya potensi menjadi kopi Lanang. Namun yang namanya ‘aneh’ pasti jumlahnya tidak terlalu besar. Dalam sekali panen hanya akan ada sedikit biji kopi monokotil.

Di pasaran, harga kopi lanang jauh lebih mahal dibanding kopi normal. Kopi Lanang bagi sejumlah penikmat kopi dianggap punya cita rasa yang lebih unik. Kopi ini lebih lembut, padat, dan punya aroma yang harus, seperti kopi luwak.

Selain itu kopi lanang juga disebut punya khasiat. Salah satunya terkait dengan khasiat untuk meningkatkan vitalitas. Termasuk dianggap bisa mengurangi risiko diabetes, maupun memperlancara sirkulasi darah.

Nah, sudah tahukan sekarang tentang kopi Lanang?. Kalau mau mencoba, kopi Lanang cukup mudah ditemukan di pasaran. Selamat mencoba . (***)

Continue Reading

Gaya Hidup

Mengenal Perbedaan Biji Kopi Arabika, Robusta, Liberika dan Ekselsa

Published

on

Ada perbedaan karakter dari robusta, arabika, liberika dan ekselsa.(Unsplash/Tim Mossholder)

Jakarta, goindonesia.co – Kopi yang banyak tumbuh di tanah Indonesia terdiri dari empat jenis biji, yaitu, robusta, arabika, ekselsa dan liberika.

Masing-masing biji memiliki karakteristik rasa sendiri-sendiri. Biji kopi ini baru bisa dikonsumsi setelah melalui proses cuci, pengeringan, pemanggangan dan penggilingan.

Jenis biji kopi yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia adalah robusta dan arabika. Kedua biji kopi ini menguasai hampir 90 persen pasar konsumsi dunia.

Meski sebenarnya, ekselsa dan liberica pun sama-sama memiliki keistimewaan rasa yang khas. Hanya saja, kedua jenis biji kopi ini kalah tenar dengan arabika dan robusta.

Lantas apa perbedaan dari keempat jenis biji kopi yang ada? Apa saja keistimewaan masing-masing biji kopi?

Arabika

Awalnya kopi arabika tumbuh liar di Ethiopia. Kemudian arabika dikonsumsi, tenar, dan terbang ke berbagai penjuru dunia.

Dilansir dari Homegrounds, arabika menguasasi hampir 60 persen pasar kopi dunia. Arabika memiliki rasa lebih ramah di mulut ketimbang robusta. Memiliki citarasa manis dan asam, dan memiliki lapisan rasa lebih kompleks dibanding robusta.

Arabika lebih cocok ditanam di dataran tinggi dengan curah hujan sedang dan paparan sinar matahari alami yang cukup.

Dari keempat jenis biji kopi, arabika adalah jenis kopi paling rewel. Arabika tak mau tumbuh subur jika lingkungan tumbuhnya tak sesuai.

Kopi arabika juga gampang terkena hama. Itulah sebabnya, jenis kopi ini sebaiknya ditanam secara homogen. Ketika ditanamn secara heterogen dan hama merebak, hama yang ada bisa dalam sekejap merusak budidaya tanaman yang lain.

Robusta

Robusta duduk di peringkat dua di pasar kopi dunia, setelah kopi arabika. Nama robusta diambil dari sifat kopi ini yang lebih “atau kokoh, bisa hidup di lingkungan lebih fleksibel dibanding arabika.

Meski lebih mudah ditanam atau dibudidayakan dan lebih kuat terhadap hama, namun kepopuleran robusta ada di bawah arabika karena robusta tak memiliki variasi rasa dan aroma layaknya arabika.

Kopi robusta lebih hitam, lebih banyak mengandung kafein, dan citarasanya lebih berkutat pada earthy flavor, yaitu beraroma layaknya tanah sehabis hujan, alias tidak beraroma buah-buahan layaknya arabika.

Robusta banyak dicari oleh pecinta kopi yang memuja citarasa kopi yang pahit mantap. Robusta jugalah jenis biji kopi yang paling cocok diolah menjadi espresso.

Liberika

Liberika memiliki aroma dan citarasa yang unik. Gabungan antara citarasa dan aroma bunga, buah, dan sedikit asap yang beraroma kayu.

Meski bukan favorit masyarakat dunia, namun citarasa kopi liberika dipuja oleh para penggemarnya.

Pohon kopi liberika tumbuh lebih tinggi daripada kopi arabika dan robusta. Kopi liberika lebih hebat dalam bertahan hidup dibanding arabika. Biji kopi ini bisa hidup di tanah yang kurang subur sekalipun. 

Dilansir dari Diperpa Kabupaten Bandung, nama ilmiah kopi liberika adalah Coffea liberica var. Liberika disebut berasal dari Liberia, meski ditemukan juga tumbuh liar di bagian Afrika lainnya.

Di Indonesia, liberika banyak ditemukan di Jambi dan Bengkulu. Di Jambi, produksi liberika terkonsentrasi di daerah Tanjung Jabung.

Ekselsa

Pasar kopi dunia didominasi 70 persen arabika, 28 persen robusta, dan sisanya adalah gabungan liberika dan ekselsa.

Biji kopi ekselsa sering disamakan dengan liberika. Hal ini lantaran ekselsa juga tumbuh di lingkungan yang sama dengan liberika, dan pohonnya pun juga bisa tumbuh tinggi layaknya liberika. 

Namun soal citarasa dan aroma, ekselsa sedikit berbeda dengan liberika. Ekselsa memiliki citarasa cenderung ke buah-buahan. 

Dikutip dari Kominfo Jatim, Desa Carangwulung, Wonosalam, Kabupaten Jombang, adalah salah satu penghasil kopi ekselsa terbaik di Jawa Timur. Kopi

Kopi asal Desa Carangwulung dikatakan memiliki citarasa pahit yang dominan, namun dihiasi dengan sedikit manis, asam dan juga sepat.

Jadi mana biji kopi terbaik yang bisa kita pilih? Pilih biji kopi sesuai citarasa yang kita inginkan.

Jika ingin kopi dengan citarasa ringan dan sedikit memiliki aroma asam segar, maka pilihlah arabika. Arabika dikategorikan berdasar karakter rasanya, seperti karakter buah, bunga, kacang-kacangan dan cokelat. 

Tapi jika ingin kopi dengan citarasa lebih berat dan cenderung pahit, Anda bisa memilih robusta, liberika atau ekselsa. (***)

Continue Reading

Gaya Hidup

Manfaat Gaya Hidup Minimalis, Bikin Hari Lebih Nyaman dan Baik untuk Lingkungan

Published

on

Ilustrasi gaya hidup minimalis. (Pexels/Cottonbro)

Jakarta, goindonesia.co – Minimalisme merupakan gaya hidup sederhana, tidak berlebihan, dan lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Tak hanya mengurangi biaya, gaya hidup minimalis dapat mengurangi seseorang mengalami depresi .

Konsep ini berawal dari pemikiran toxic bahwa seberapa banyak barang yang dibeli atau dimiliki, tidak akan ada rasa cukupnya. Dengan menjalankan hidup yang sederhana, hidup akan lebih bermakna.

Menjalankan gaya hidup minimalis tak hanya menghemat dan jauh dari stres saja. Dilansir Becomingminimalist, berikut ini beberapa manfaat saat kamu menjalankan gaya hidup minimalis.

1. Baik untuk lingkungan

Semakin sedikit membeli barang, maka semakin sedikit pula kerusakan yang kita lakukan terhadap lingkungan. Itu artinya, dengan menjalani gaya hidup minimalis kamu juga menyelamatkan lingkungan.

Baik untuk lingkungan. (freepik)

2. Lebih produktif

Barang-barang atau harta benda yang kita miliki terlalu banyak akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengurusnya, hal ini akan membuat kamu jadi tidak produktif.

Lebih produktif. (freepik)

3. Contoh bagi anak

Dengan kamu menjalani gaya hidup minimalis, secara tidak langsung kamu menjadi contoh bagi anak kamu, sehingga kemungkinan mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan.

Contoh bagi anak. (freepik)

4. Lebih mudah dibersihkan

Semakin sedikit barang di rumah kita, semakin mudah pula untuk membersihkannya. Itu artinya kamu tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kamu.

Lebih mudah dibersihkan. (freepik)

Nah, itu hanya beberapa manfaat dari gaya hidup minimalis, jika kamu menerapkannya, tentu akan merasakan lebih banyak manfaatnya. (***)

Continue Reading

Trending