Connect with us

Gaya Hidup

Terdampak Pandemi Covid-19 Ratu Bidadari Bangun Studio Musik di Rumah

Published

on

Jakarta , goindonesia.co – Perubahan model berkreasi kini tak terhindarkan di tengah keterbatasan interaksi konsumen. Para musisi, penggiat musik, kini berupaya tetap kreatif di masa sulit akibat pandemi Covid-19.

Dari rumah mereka tetap berkarya. Mengajak bermain musik bersama lewat media sosial. Selain menantang kreativitas, aktivitas itu juga jadi penjaga nalar dan kewarasan.

“Pandemi Covid-19 ambil hikmahnya. Agar tetap kreatif dan produktif saya dan keluarga membangun studio rekaman di rumah sendiri. Jadi Alhamdulillah. Teman-teman artis penyanyi yang mau recording bisa di rumahku,” ujar Ratu Bidadari saat dihubungi melalui telpon seluler, di Jakarta, Kamis (10/06/2021).

Menghadapi pandemi Covid-19, artis serba bisa bernama lengkap Rizka Ratu Selvira ini, meminta agar masyarakat, khsususnya seniman tetap optimis. Situasi ini menurutnya, harus membawa banyak harapan dan peluang baru.

Ratu menilai perlunya perubahan perilaku dan gaya hidup dalam menghadapi pandemi. “Mau tidak mau harus berinovasi dan kreatif. Sehingga bisa bertahan di tengah pandemi,” ujar artis yang hobi traveling ini.

Beruntung, kata Ratu, saat ini dukungan teknologi digital sangat besar. Sehingga seniman tinggal mengadopsi cara-cara baru supaya lebih efisien.

Kreatifitas yang bisa hidup sekarang adalah kegiatan yang bisa stay at home. “Sekarang orang usaha banyak di rumah. Maka lahirlah stay at home economy, seperti belanja online, food delivery, home entertainment. Itu yang mengubah kebiasaan,” tuturnya.

Karya di Masa Pendemi Covid-19

Setelah tahun lalu, di awal merebaknya pandemi Covid-19, Ratu merilis single religi berjudul ’Sujudku’ tahun ini Ratu kembali merilis single dengan genre yang sama, ‘Bulanku Ramadhan.’ Disusul kemudian karya berikutnya, sebuah sigle lagu berjudul ‘Denganmu Ku Sempurna’ yang melibatkan suaminya sebagai teman duet.

“Alhamdulillah di masa pandemi Covid-19 yang sudah dua tahun ini semua sehat sekeluarga. Bersyukur selalu di berikan kesehatan senantiasa oleh Allah SWT. Dalam situasi gerak kita terbatas tapi masih tetap berkarya,” ujar pengagum Rhoma Irama dan Agnes Monica ini.

Ratu menghimbau agar masyarakat saling menjaga, serta tetap patuh pada protokoler kesehatan. Karena hingga saat ini pandemi masih belum berakhir. Ratu menginginkan masyarakat terbebas dari virus Covid-19.

“Setiap kegiatan di luar rumah tetap menjalankan protokol kesehatan agar diri pribadi terlindungi dan juga orang lain. Selalu pakai masker jika ada aktivitas di luar ruangan. Tetap jaga jarak serta rutin cuci tangan. Ini dilakukan untuk kebaikan kita semua agar terhindar dari virus tersebut,” pintanya.

Ratu Bidadari pernah membintangi beberapa film televisi serial dan cerita lepas, antara lain; ‘Santet Goyang Dangdut’, ‘Hantu Diskotik Kota’, ‘Artis Instagram’, ‘Cantik Ketok Magic’, ‘Wahana Rumah Hantu, serta Film Televisi (FTV) ‘Teror Goyang Pantura’, ‘Harum Surga di Jasad Hina’ dan film layar lebar “Wahana Rumah Hantu.” Beberapa karyanya single Lagunya,  “Kawin 5 Kali”, “Janda 2 kali” dan “Somasi Cinta,” Ciptaan Sandy Sulung. Kemudian lagu “Mana Tanggung Jawabmu” Ciptaan H. Ukat, “Menunggu Giliran” Ciptaan Ade Bentar, “Ikhkas” Ciptaan Ade Bentar  “Lagu Tentang Cinta” NN Arransemen Eldikry , “Tak Bisa Dibeli” Ciptaan Ian Kasela ‘Radja, “Sujudku” Ciptaan Momsky, dan lagu “Jaman Now” Ciptaan Yanda Bebeh dan Eldikry. (***)

Gaya Hidup

Kopi Lanang Itu Kopi Gagal tapi Mahal

Published

on

Kopi Lanang (Foto: wikipedia)

Jakarta, goindonesia.co — Pernahkah kamu mendengar tentang kopi Lanang?. Mungkin banyak yang sudah mendengar tentang jenis kopi ini. Terutama jika dikaitkan dengan persoalan khasiatnya, yang disebut mampu meningkatkan kejantanan pria.

Tapi tahukah kamu apa sebenarnya kopi lanang itu?. Sebelum kamu menikmati secangkir kopi lanang, ada baiknya simak dulu tulisan berikut.

Sebenarnya kopi Lanang adalah biji kopi gagal. Bukan berarti biji kopi yang tidak bisa dikonsumsi atau rasanya tidak enak ya. Gagal di sini artinya biji kopi lanang adalah bisa kopi yang mengalami kelainan.

Umumnya biji kopi itu memiliki dua biji (dikotil), tapi ada juga yang cuma satu biji (monokotil). Nah biji kopi monokotil inilah yang disebut biji kopi lanang. Atau kalau kita ngomongin bawang putih, kopi lanang ini mungkin sama seperti bawang lanang.

Secara fisik pun gampang sekali dibedakan. Biji kopi lanang ini bentuknya lonjong (seperti kacang utuh), sementara biji kopi normal, yang bentuknya seperti kacang yang dibelah. Karena gampang dibedakan, biasanya pada saat sortir keduanya bisa langsung dipisahkan.

Kopi lanang ini tidak hanya dikenal di Indonesia saja lho. Di pasar luar negeri pun juga dikenal peaberry alias kopi lanang.

Secara ilmiah, penyebab biji kopi menjadi monokotil adalah kelainan genetik, tidak optimalnya proses penyerbukan putik bunga, ataupun ketidakseimbangan distribusi zat makanan. Jadi kopi lanang ini tidak bisa diciptakan melalui rekayasa dalam penananam.

Semua jenis kopi, baik robusta, arabika, ataupun liberika, sama-sama punya potensi menjadi kopi Lanang. Namun yang namanya ‘aneh’ pasti jumlahnya tidak terlalu besar. Dalam sekali panen hanya akan ada sedikit biji kopi monokotil.

Di pasaran, harga kopi lanang jauh lebih mahal dibanding kopi normal. Kopi Lanang bagi sejumlah penikmat kopi dianggap punya cita rasa yang lebih unik. Kopi ini lebih lembut, padat, dan punya aroma yang harus, seperti kopi luwak.

Selain itu kopi lanang juga disebut punya khasiat. Salah satunya terkait dengan khasiat untuk meningkatkan vitalitas. Termasuk dianggap bisa mengurangi risiko diabetes, maupun memperlancara sirkulasi darah.

Nah, sudah tahukan sekarang tentang kopi Lanang?. Kalau mau mencoba, kopi Lanang cukup mudah ditemukan di pasaran. Selamat mencoba . (***)

Continue Reading

Gaya Hidup

Mengenal Perbedaan Biji Kopi Arabika, Robusta, Liberika dan Ekselsa

Published

on

Ada perbedaan karakter dari robusta, arabika, liberika dan ekselsa.(Unsplash/Tim Mossholder)

Jakarta, goindonesia.co – Kopi yang banyak tumbuh di tanah Indonesia terdiri dari empat jenis biji, yaitu, robusta, arabika, ekselsa dan liberika.

Masing-masing biji memiliki karakteristik rasa sendiri-sendiri. Biji kopi ini baru bisa dikonsumsi setelah melalui proses cuci, pengeringan, pemanggangan dan penggilingan.

Jenis biji kopi yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia adalah robusta dan arabika. Kedua biji kopi ini menguasai hampir 90 persen pasar konsumsi dunia.

Meski sebenarnya, ekselsa dan liberica pun sama-sama memiliki keistimewaan rasa yang khas. Hanya saja, kedua jenis biji kopi ini kalah tenar dengan arabika dan robusta.

Lantas apa perbedaan dari keempat jenis biji kopi yang ada? Apa saja keistimewaan masing-masing biji kopi?

Arabika

Awalnya kopi arabika tumbuh liar di Ethiopia. Kemudian arabika dikonsumsi, tenar, dan terbang ke berbagai penjuru dunia.

Dilansir dari Homegrounds, arabika menguasasi hampir 60 persen pasar kopi dunia. Arabika memiliki rasa lebih ramah di mulut ketimbang robusta. Memiliki citarasa manis dan asam, dan memiliki lapisan rasa lebih kompleks dibanding robusta.

Arabika lebih cocok ditanam di dataran tinggi dengan curah hujan sedang dan paparan sinar matahari alami yang cukup.

Dari keempat jenis biji kopi, arabika adalah jenis kopi paling rewel. Arabika tak mau tumbuh subur jika lingkungan tumbuhnya tak sesuai.

Kopi arabika juga gampang terkena hama. Itulah sebabnya, jenis kopi ini sebaiknya ditanam secara homogen. Ketika ditanamn secara heterogen dan hama merebak, hama yang ada bisa dalam sekejap merusak budidaya tanaman yang lain.

Robusta

Robusta duduk di peringkat dua di pasar kopi dunia, setelah kopi arabika. Nama robusta diambil dari sifat kopi ini yang lebih “atau kokoh, bisa hidup di lingkungan lebih fleksibel dibanding arabika.

Meski lebih mudah ditanam atau dibudidayakan dan lebih kuat terhadap hama, namun kepopuleran robusta ada di bawah arabika karena robusta tak memiliki variasi rasa dan aroma layaknya arabika.

Kopi robusta lebih hitam, lebih banyak mengandung kafein, dan citarasanya lebih berkutat pada earthy flavor, yaitu beraroma layaknya tanah sehabis hujan, alias tidak beraroma buah-buahan layaknya arabika.

Robusta banyak dicari oleh pecinta kopi yang memuja citarasa kopi yang pahit mantap. Robusta jugalah jenis biji kopi yang paling cocok diolah menjadi espresso.

Liberika

Liberika memiliki aroma dan citarasa yang unik. Gabungan antara citarasa dan aroma bunga, buah, dan sedikit asap yang beraroma kayu.

Meski bukan favorit masyarakat dunia, namun citarasa kopi liberika dipuja oleh para penggemarnya.

Pohon kopi liberika tumbuh lebih tinggi daripada kopi arabika dan robusta. Kopi liberika lebih hebat dalam bertahan hidup dibanding arabika. Biji kopi ini bisa hidup di tanah yang kurang subur sekalipun. 

Dilansir dari Diperpa Kabupaten Bandung, nama ilmiah kopi liberika adalah Coffea liberica var. Liberika disebut berasal dari Liberia, meski ditemukan juga tumbuh liar di bagian Afrika lainnya.

Di Indonesia, liberika banyak ditemukan di Jambi dan Bengkulu. Di Jambi, produksi liberika terkonsentrasi di daerah Tanjung Jabung.

Ekselsa

Pasar kopi dunia didominasi 70 persen arabika, 28 persen robusta, dan sisanya adalah gabungan liberika dan ekselsa.

Biji kopi ekselsa sering disamakan dengan liberika. Hal ini lantaran ekselsa juga tumbuh di lingkungan yang sama dengan liberika, dan pohonnya pun juga bisa tumbuh tinggi layaknya liberika. 

Namun soal citarasa dan aroma, ekselsa sedikit berbeda dengan liberika. Ekselsa memiliki citarasa cenderung ke buah-buahan. 

Dikutip dari Kominfo Jatim, Desa Carangwulung, Wonosalam, Kabupaten Jombang, adalah salah satu penghasil kopi ekselsa terbaik di Jawa Timur. Kopi

Kopi asal Desa Carangwulung dikatakan memiliki citarasa pahit yang dominan, namun dihiasi dengan sedikit manis, asam dan juga sepat.

Jadi mana biji kopi terbaik yang bisa kita pilih? Pilih biji kopi sesuai citarasa yang kita inginkan.

Jika ingin kopi dengan citarasa ringan dan sedikit memiliki aroma asam segar, maka pilihlah arabika. Arabika dikategorikan berdasar karakter rasanya, seperti karakter buah, bunga, kacang-kacangan dan cokelat. 

Tapi jika ingin kopi dengan citarasa lebih berat dan cenderung pahit, Anda bisa memilih robusta, liberika atau ekselsa. (***)

Continue Reading

Gaya Hidup

Manfaat Gaya Hidup Minimalis, Bikin Hari Lebih Nyaman dan Baik untuk Lingkungan

Published

on

Ilustrasi gaya hidup minimalis. (Pexels/Cottonbro)

Jakarta, goindonesia.co – Minimalisme merupakan gaya hidup sederhana, tidak berlebihan, dan lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Tak hanya mengurangi biaya, gaya hidup minimalis dapat mengurangi seseorang mengalami depresi .

Konsep ini berawal dari pemikiran toxic bahwa seberapa banyak barang yang dibeli atau dimiliki, tidak akan ada rasa cukupnya. Dengan menjalankan hidup yang sederhana, hidup akan lebih bermakna.

Menjalankan gaya hidup minimalis tak hanya menghemat dan jauh dari stres saja. Dilansir Becomingminimalist, berikut ini beberapa manfaat saat kamu menjalankan gaya hidup minimalis.

1. Baik untuk lingkungan

Semakin sedikit membeli barang, maka semakin sedikit pula kerusakan yang kita lakukan terhadap lingkungan. Itu artinya, dengan menjalani gaya hidup minimalis kamu juga menyelamatkan lingkungan.

Baik untuk lingkungan. (freepik)

2. Lebih produktif

Barang-barang atau harta benda yang kita miliki terlalu banyak akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengurusnya, hal ini akan membuat kamu jadi tidak produktif.

Lebih produktif. (freepik)

3. Contoh bagi anak

Dengan kamu menjalani gaya hidup minimalis, secara tidak langsung kamu menjadi contoh bagi anak kamu, sehingga kemungkinan mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan.

Contoh bagi anak. (freepik)

4. Lebih mudah dibersihkan

Semakin sedikit barang di rumah kita, semakin mudah pula untuk membersihkannya. Itu artinya kamu tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kamu.

Lebih mudah dibersihkan. (freepik)

Nah, itu hanya beberapa manfaat dari gaya hidup minimalis, jika kamu menerapkannya, tentu akan merasakan lebih banyak manfaatnya. (***)

Continue Reading

Trending