Connect with us

Internasional

Para Pemimpin di KTT G20 Sepakat Capai Target Vaksinasi Global oleh WHO

Published

on

Para pemimpin negara-negara G20 membahas upaya bersama untuk keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19, baik krisis kesehatan maupun krisis ekonomi. Para pemimpin pun sepakat dan menyampaikan pandangan tentang pentingnya mencapai strategi global vaksinasi yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Demikian disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu)Retno Marsudi dalam keterangannya di Hotel Splendide Royal, Roma, Italia, pada Sabtu, 30 Oktober 2021, seusai mendampingi Presiden Joko Widodo dalam KTT G20 di La Nuvola.

“Para leader juga menyampaikan pandangan perlunya melakukan vaksinasi 40 persen pada akhir 2021, 70 persen pada pertengahan 2022. Ini sebenarnya adalah global strategy yang diberikan oleh WHO yang didukung oleh para leader dari G20,” ujar Menlu.

Hal lain yang banyak disinggung oleh para pemimpin adalah kerja sama erat antara menteri keuangan dan menteri kesehatan. Selain itu juga dengan organisasi internasional seperti WHO, Bank Dunia, IMF, dan organisasi lainnya termasuk ketersediaan dana dalam menghadapi pandemi.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo dalam pernyataannya menekankan pentingnya penguatan arsitektur kesehatan global inklusif yang berpegang teguh pada prinsip solidaritas, keadilan, transparansi, dan kesetaraan.

“Presiden mengusulkan beberapa langkah antara lain pertama membuat mekanisme penggalangan sumber daya kesehatan global, yang kedua menyusun protokol kesehatan global untuk aktivitas lintas negara, ketiga mengoptimalkan peran G20 dalam upaya mengatasi kelangkaan dan kesenjangan vaksin, obat-obatan, dan alat kesehatan esensial,” jelasnya.

Selain penguatan ketahanan kesehatan global, Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya mempercepat pemulihan ekonomi global yang lebih kuat, lebih inklusif, dan berkelanjutan. Pada saat ini, terbentuk pandangan bersama di antara para pemimpin bahwa keadaan ini belum usai dan ekonomi dunia masih belum bangkit kembali.

Internasional

SMSI Apresiasi Diluncurkannya Perangko Bergambar Wajah Dubes RI Untuk Ukraina

Published

on

By

Jakarta – Prangko bergambar wajah Duta Besar Republik Indonesia untuk Ukraina, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi baru-baru ini resmi diluncurkan di Kyiv Ukraina sebagai penghargaan atas jasanya dalam meningkatkan hubungan persahabatan Indonesia-Ukraina

Siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kyiv yang diterima di Jakarta, Kamis (21/10/2021) menyebutkan, penyerahan prangko bergambar wajah Prof. Yuddy Chrisnandi itu dilakukan oleh Mr. Yuriy Kosenko, Ketua LSM “Ukraine Initiative” pada resepsi diplomatik dalam rangka perpisahan Dubes RI yang berlangsung di aula KBRI Kyiv pada 16 Oktober 2021.

Selain wajah Dubes RI, pada prangko Ukraina juga diabadikan wajah Pahlawan Nasional lndonesia Jenderal Sudirman. Pencetakan perangko ini merupakan cinderamata yang disampaikan oleh Ukraina sebagai penghargaan kepada Pahlawan Nasional Indonesia yang inspirasional di Ukraina.

Adapun pencetakan prangko Dubes RI untuk Ukraina dilakukan sebagai penghargaan atas upaya-upaya Dubes Yuddy Chrisnandi dalam meningkatkan kerjasama Indonesia-Ukraina di berbagai bidang selama 4,5 tahun.

Disebutkan pula, pencetakan cinderamata prangko berwajah Dubes RI untuk Ukraina dan wajah Pahlawan Nasional Jenderal Sudirman itu merupakan pertama kalinya dilakukan pihak Ukraina yang tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.

Dalam kaitan ini, Ketua Bidang Luar Negeri Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aat Surya Safaat mengapresiasi usaha-usaha Dubes RI untuk Ukraina Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi yang telah berhasil meningkatkan hubungan dan kerjasama RI dengan Ukraina, Armenia dan Georgia serta meningkatkan citra Indonesia di kawasan Eropa Timur.

Kepala Biro Kantor Berita ANTARA New York 1993-1998 itu menilai, Prof. Yuddy Chrisnandi selaku Kepala Perwakilan RI untuk Ukraina telah menjalankan “First track diplomacy”, dalam arti mendekatkan hubungan dan kerjasama antar pemerintah atau “G to G” (Government to Government) dengan baik.

Ke depan, capaian yang membanggakan ini perlu ditindaklanjuti dengan “Second track diplomacy”, sebagai kegiatan diplomasi yang melibatkan para aktor nonpemerintah yang biasa dikenal dengan hubungan “B to B” (Business to Business) dan “P to P” (People to People).

“Jadi, ke depan, hubungan antar pengusaha atau hubungan bisnis dan ekonomi serta hubungan antar rakyat kedua negara perlu ditingkatkan,” kata Aat.

Pemimpin Redaksi Kantor Berita ANTARA 2016 itu menambahkan, “Second track diplomacy”, terutama melalui diplomasi budaya yang merupakan bagian penting dalam hubungan “P to P” perlu ditingkatkan dalam upaya meningkatkan saling pengertian dan mendekatkan hubungan antara rakyat Indonesia dan rakyat Ukraina.

“Dalam kaitan ini pula wartawan atau jurnalis di kedua negara bisa mengambil peran yang sangat signifikan dalam kerangka ‘Second track diplomacy’,” kata Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI) itu. (*)

Continue Reading

Internasional

Pentingnya KTT Pariwisata dan Mengapa Pengembangan Wisata Hukumnya Wajib di Tiap Negara

Published

on

Event Global Tourism Forum – Leaders Summit Asia 2021 menghadirkan 49 pembicara internasional dan 22 pembicara dari Indonesia. Acara yang berlangsung di Hotel Raffles, Jakarta 15-16 September terdiri dari 23 sesi dan ada 1.1 juta viewers dalam dua hari dengan sekitar 71 speakers dari dalam dan luar negeri .Berikut laporan ke tiga ( terakhir).

Jakarta, goindonesia.co  : Bulut Bagci, Presiden World Tourism Forum Institute ( WTFI) sekaligus pendiri organisasi ini pada 2010 mengatakan bahwa dia melihat tidak adanya konferensi pariwisata internasional seperti World Economic Forum, dimana para pemimpin industri berkumpul untuk membahas masa depan industri pariwisata.

Oleh karena itu sewaktu memulai World Tourism Forum Institute ( WTFI) pada 2010, dia sudah memiliki visi-misi sebagai  Davos industri pariwisata internasional atau penyelenggara KTT Pariwisata Internasional.

Mulai tahun 2020, acara WTFI  diberi judul Global Tourism Forum ( GTF). Tak heran GTF jadi  platform kolaborasi internasional yang berfokus untuk mengatasi tantangan bagi industri perjalanan. Menggabungkan upaya bersama lembaga pemerintah, pemangku kepentingan industri, dan akademisi.

Sebagai inisiatif WTFI, Global Tourism Forum menyelenggarakan kegiatan terpilih yang dirancang untuk memperkuat branding negara tuan rumah di luar negeri seperti Indonesia yang kali ini menjadi tuan rumah di era pandemi COVID-19.

Ketika pandemi dimulai, pariwisata adalah yang pertama terkena dampak, tetapi ketika pemulihan dimulai, pariwisata adalah yang pertama pulih kata Bulut. Oleh karena itu dia optimistis pariwisata RI tidak berlama-lama menutup border dan segera dibuka, tegasnya.

“Saya senang karena pemerintah daerah mendukung industri pariwisata di Indonesia.  Ini menunjukkan kepada kita betapa seriusnya Indonesia dalam pariwisata. Kami mengamati dari jauh dan WTFI memberikan penghargaan 2021 bagi  Presiden Joko Widodo karena komitmennya yang tinggi pada pariwisata, ” jelasnya.

Apalagi Indonesia memiliki banyak sekolah pariwisata dan penerbangan untuk generasi muda.  Mereka membutuhkan dukungan dan pendampingan, terutama dalam transformasi digital ke depan.

Sebagai penutup, Bulut mengingatkan untuk selalu menghargai budaya dan dinamika lokal, yang terinspirasi dari motto WTFI:  feel global, be local!

Hotel Brands

Industri pariwisata seperti Hotel dan Travel Agent termasuk main tourism superstructure atau suprastruktur pariwisata utama bukan sekedar ujung tombak dalam mendatangkan wisatawan mancanegara dan menyiapkan amenities.

Tidak heran GTF hadirkan para pelaku industri dalam berbagai sesi terutama hotel brands dan pasar wisatawan terbesar yang masuk ke Indonesia  serta ada presentasi individual.

Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Tourism Forum yang juga Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center  ( IHLC) memandu langsung topik Hotel Brands ini menampilkan  Gerth Simmons, CEO Accor Group untuk Asia Tenggara, Jepang.

Pembicara lainnya Poernomo Siswoprasetyo, President Director  of Banten West Jawa Tourism Development yang mengeloka kawasan wisata Tanjung Lesung bersama SB Wiryanti Sukamdani, President Commisionare Sahid Grup.

Gerth Simmons, fokus pada industri perhotelan dan pariwisata di Asia Tenggara di era pandemi. “Semuanya baru bagi kami selama sekitar dua tahun pandemi karena industri ini benar-benar berubah,” ungkapnya.

Hotel dan pariwisata adalah industri yang sangat dinamis, jadi kami bekerja sangat keras sekarang untuk bertahan hidup. Accor terus berkembang dan mencari peluang, tambahnya.

Accor melihat banyak peluang karena memiliki jaringan yang kuat dan kinerja yang kuat di antara para pesaing. ” Kami sangat bersemangat menghadapi tantangan 2022 untuk memperkuat kemitraan dan banyak lagi. Apalagi Indonesia memiliki pasar yang besar dalam pariwisata domestik karena Indonesia memiliki populasi yang besar,” kata Gerth Simmons

Menurut dia, fokus regional dan fokus domestik sekarang adalah kuncinya.  Orang-orang memiliki keinginan yang sangat kuat untuk bepergian.  Jadi, membangun kepercayaan untuk membuka kembali industri pariwisata itu wajib.

Sedangkan Dr. Agus Canny, MA,MSi, Direktur Eksekutif, Pacific Asia Travel Association (PATA), Indonesia mewakili Poernomo Siswoprasetjo menunjukkan bagaimana Tanjung Lesung, Jawa Barat menjadi resort terbaik.

Kawasan ini memiliki pantai, vila pribadi, lokasi untuk meningkatkan zona pariwisata dengan potensi kunjungan 5 juta wisatawan per tahun.

“Kami juga menawarkan akses yang mudah dan waktu luang serta keramahan yang berharga seperti paket promo dan aktivitas untuk menyambut wisatawan kembali,” ujar Agus Canny.

Strategi dalam situasi ini sekarang adalah perbaikan internal, pendekatan teknologi, dan juga promosi digital, tambahnya.

SB.Wiryanti Sukamdani, Preskom jaringan Sahid berfokus pada hotel, apartemen, sekolah pariwisata, gedung dan properti lainnya. Sahid memiliki timeline Pariwisata di Indonesia.  

Ia mencontohkan tahun 2045 akan menjadi tahun emas bagi sektor pariwisata dengan inovasi, smart tourism, hi-technology, dan kualitas serta kolaborasi untuk mencapai lebih banyak tujuan.

Hal yang terpenting sekarang di era pandemi ini adalah protokol kesehatan dan kebersihan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pengunjung.

“Selain itu, kami fokus pada staycation (liburan terdekat).  Antar kota dan antar pulau, kegiatan luar ruangan, ekowisata alam, wisata kesehatan, layanan pribadi (touchless, cashless),” jelas Yanti Sukamdani 

Kontribusi Usaha Perjalanan ( Travel Agent) 

Bagaimana pasar wisata Outbound China untuk Indonesia Setelah Pandemi ? Prof. Dr Wolfgang George Arlt, CEO COTRI China Outbound. Dia memandu topik bertajuk ‘China’s Outbound Tourism Market for Indonesia After the Pandemic’.

Pandemi telah meningkatkan persepsi tentang pentingnya perjalanan dan pariwisata bagi ekonomi global dan memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dan memikirkan kembali masa depan pariwisata secara global dan di Indonesia.  

Mengawali sesi dengan memaparkan tren data yang menunjukkan bahwa China telah menjadi pasar sumber pariwisata internasional yang paling signifikan sejak tahun 2012. 

Adapun kaitannya dengan topik tersebut, tampaknya kedatangan pengunjung China ke Indonesia melonjak dari 1 juta pada tahun 2015 menjadi 2 juta pada tahun 2017 tetapi tidak tumbuh lebih jauh hingga 2019.

Tuntutan dan preferensi wisatawan Tiongkok telah berubah selama 2020-2021 dari perbatasan tertutup karena tidak lain dari pandemi COVID -19, kata pria yang juga Founding Dean of HATT Busines School Institute, Prof. Dr Wolfgang George Arlt. 

Wolfgang optimis pariwisata outbound China akan tumbuh semakin kuat karena wisatawan China masih percaya bahwa melihat dunia dengan mata kepala sendiri dan mencicipi pengalaman baru masih penting.  

Dengan mengunjungi negara lain, mereka akan memperoleh prestise sosial, mengukuhkan status dan citra diri.  Selain itu, beberapa dari mereka memiliki lebih banyak uang daripada waktu, yang mengakibatkan preferensi untuk melakukan banyak hal berbeda.

Wolfgang memberikan solusi untuk mempersiapkan penawaran yang lebih berkelanjutan dan sejahtera bagi gelombang baru pengunjung China pascapandemi di Indonesia. 

Dia menyebutkan istilah ‘Wisata Bermakna’ untuk mendasari konsentrasi pada kualitas yang sangat baik berdasarkan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan harapan segmen pasar yang berbeda dari pasar outbound China dengan beralih dari jumlah kedatangan yang tinggi ke tingkat kepuasan yang tinggi.  

‘Wisata Bermakna’ ini juga diharapkan menghasilkan dengan menciptakan masa inap yang lebih lama, pengeluaran yang lebih tinggi, dan  rekomendasi pemasaran yang sukses.

Untuk menarik pengunjung Cina, Indonesia dapat menunjukkan upaya khusus untuk mempersiapkan mereka seperti menerima Alipay/WeChat, membayar pembayaran seluler dan melakukan persahabatan dan penghormatan terhadap budaya China.

Singkatnya, Wolfgang menciptakan skema yang diharapkan akan membuat pengunjung China tinggal lebih lama dan menghabiskan lebih banyak, biaya pemasaran lebih rendah, margin lebih tinggi, dan tujuan serta citra merek yang lebih baik. 

Untuk pasar China, nara sumber lainnya adalah  Pauline Suharno, Direktur ELOK TOUR & Ketua DPP ASTINDO.

Customized tour dan niche market adalah dua hal yang menjadi tujuan pariwisata Indonesia kata Pauline Suharno. Meski beberapa pimpinan pariwisata masih ingin memadukan antara pariwisata massal dan kualitas pariwisata, dia menegaskan pemerintah dan perusahaannya akan tetap tegas untuk menargetkan sepenuhnya pada pariwisata berkualitas.

“Fakta bahwa orang Tionghoa terkenal tidak memberikan tip tidak menjadi masalah bagi operator pariwisata Indonesia selama mereka membayar dengan biaya yang wajar,”.

Dia menambahkan bahwa setelah COVID -19, akan ada lebih sedikit pelancong Tiongkok yang bertujuan untuk pariwisata massal;  sebaliknya, mereka akan mengharapkan lebih banyak pada ceruk pasar.

“Kami sudah banyak diskusi di antara operator tour dan pemangku kepentingan bahwa pariwisata massal ini memiliki efek multipemain terbalik pada industri pariwisata, terutama kerusakan lingkungan,”  

Ketika turis sering berdiri dan menendang terumbu karang, itu tidak baik untuk keberlanjutan pariwisata kita. Mewakili perusahaannya, Pauline juga meminta pemerintah untuk berkomunikasi dengan operator tour China dan Chinese Airlines untuk tidak memotong harga. 

“Sebaiknya, minta mereka untuk merestrukturisasi bisnis pariwisata dan tidak mengizinkan operator tour yang digerakkan oleh mafia Cina untuk beroperasi di Indonesia, terutama di Bali,” kata Pauline Suharno.

 “Ketika wisatawan China berkunjung ke Indonesia tetapi hanya membeli oleh-oleh buatan China, ini tidak mendukung perekonomian lokal Indonesia,” tambahnya.

Di sesi ini juga ada Gary Bowerman, pendiri & pembawa acara The South-East Asia Travel Show. Dia mengingat hubungan pertamanya dengan China dan Indonesia terjadi pada tahun 2016 ketika ia menjadi editor untuk Shanghai Business Review – di mana rekannya menunjukkan kepadanya foto-foto indah Bali.

Pada tahun 2020 dalam perjalanan terakhirnya ke Bali, hanya satu hari untuk Tahun Baru Imlek, ia menyewa seorang pengemudi yang brilian.  Dia terkesan oleh sopirnya karena merekomendasikannya ke hotel yang bagus dan membawanya berkeliling untuk melihat semua pemandangan indah di Bali utara dan timur laut.  

Pengemudi mengatakan kepadanya bahwa dia khawatir tentang hilangnya turis Tiongkok karena dia suka pelancong Tiongkok pekerjakannya sebagai pengemudi;  mereka akan mempekerjakan mereka selama tiga hari sementara pelancong lain hanya akan melakukannya selama satu hari. 

 “Menurut supir itu, turis China ingin keluar jalur, cari area baru;  pergi tempat-tempat yang tidak ingin dilakukan oleh orang Eropa dan Amerika,” kata Gary Bowerman

Supir juga mengatakan bahwa dia pernah menjadi pemandu wisata Katy Perry’s, penyanyi pop Amerika yang terkenal. Sejak itu, para pelancong Tiongkok akan bertanya kepadanya, ‘Apakah Anda pemandu wisata Katy Perry?’ sebelum mereka mempekerjakannya ‘ itu awal yang sangat baik dan mengejutkan, ujarnya.

Apa yang dialami pengemudi itu adalah bukti bahwa wisatawan China kemungkinan besar akan merekomendasikan rekan-rekan mereka untuk memiliki kepuasan yang sama mengunjungi tujuan wisata mereka. 

Mereka dengan bangga akan memberi tahu teman-teman mereka bahwa mereka berteman baik dengan pengemudi Bali yang ternyata adalah pemandu wisata bintang pop.

Memiliki lima destinasi wisata super prioritas merupakan langkah cerdas yang dilakukan Indonesia.  Overtourism memang terjadi di destinasi tertentu karena adanya infrastruktur dan akses yang mudah.  

Namun, Bower menyarankan bahwa pembangunan infrastruktur yang merata akan menarik lebih banyak wisatawan karena menurutnya Indonesia adalah negara yang memiliki potensi daya tarik wisata yang indah.

Transformasi dan perjalanan digital 

Menjadi traveler dijaman digital apalagi masih di era pandemi maka topik berjudul ”Transformasi dan Perjalanan Digital” juga menarik.

Arif Wibowo (INACA), Panca Rudolf Sarungu, SE., MMSI., CTE., Ketua MASATA dan Taufan Rahmadi, Creative Strategist Pariwisata, Lombok, Nusa Tenggara Barat/ PIC Mandalika (Promosi Destinasi Daerah) serta Salman Diana Anwar, Ketua Forum Pariwisata Jakarta memberikan presentasi individual dengan moderator: Dr. Agus Canny, M.A.,M.Sc., Direktur Eksekutif, Pacific Asia Travel Association (PATA), Indonesia.

Arif Wibowo (INACA) memulai diskusi dengan mengatakan bahwa bisnis penerbangan saat ini menghadapi situasi yang sangat sulit dan  kini memiliki prospek setelah vaksinasi COVID-19 berjalan.

“Setiap negara mencapai vaksinasi total diikuti dengan pengujian bagi penumpang untuk bepergian.  Yang satu ini adalah poin kunci bahwa kami masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan,”

Namun ketidakpastian masih berlanjut tahun ini, jadi pihaknyai masih harus melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan pendapatan. Untungnya masih ada permintaan untuk bisnis maskapai kargo, tetapi masih lebih kecil dari pendapatan penumpang”, tambahnya.

Untuk mengatasi tantangan pariwisata, kami mempercepat transformasi digital untuk bepergian.  Konsumen berpindah ke saluran online, terkait dengan adopsi teknologi baru dan perubahan pola pikir.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, reservasi digital menjadi suatu keharusan di era ini.  Inovasi seperti aplikasi seluler perjalanan, berbasis data, kolaborasi, dan mengelola fokus pelanggan penting untuk dikembangkan.

Panca Rudolf Sarungu mengatakan pihaknya membutuhkan 4RE: Mendefinisikan ulang strategi penjualan (diskon, menghemat anggaran pemasaran), Memfokuskan kembali pelanggan yang sudah ada (menjaga hubungan, mendiskusikan rencana pascapandemi).

Menemukan kembali operasi bisnis (meninjau portofolio dan menyelaraskan pelanggan baru), dan Mencitrakan kembali peluang bisnis baru (beralih ke online  momentum, berkolaborasi adaptif, dan berinovasi).

Sedangkan Salman Diandra Anwar berbicara tentang tampilan baru di Jakarta, lebih ramah terhadap aktivitas masyarakat di jalanan, trotoar, dan area publik lainnya.

Dia juga menunjukkan perkembangan saat ini ke sektor pariwisata, menetapkan lebih banyak regulasi dan ekosistem teknologi untuk mendukung agen perjalanan dan penyelenggara acara.

Juga menyediakan aksesibilitas, karena di masa depan akan menjadi potensi Jakarta untuk meningkatkan lebih banyak wisatawan potensial, terutama wisatawan internasional yang mengunjungi warisan kota, pelabuhan, taman, dll.

Penting juga untuk meningkatkan aplikasi akses mobilitas (Jak Linko) untuk transportasi mengintegrasikan fasilitas akses di seluruh Jakarta, dan kolaborasi dengan penyedia transportasi lainnya.

Taufan Rahmadi, PIC Mandalika berbagi ide tentang strategi kreatif di masa sulit ini.  Pariwisata harus bertahan dan pulih.Dia mengusulkan dua ide;  yang pertama adalah SOS (solidarity on survival), pemerintah memberikan stimulus pada sektor pariwisata.  

“Kami mencoba untuk fokus pada pasar domestik untuk menyelamatkan pariwisata di Indonesia khususnya di Lombok.  Yang kedua adalah HOT (healing on tourism), untuk mempercepat lebih banyak vaksinasi di destinasi pariwisata,” 

Di Lombok, dia juga memiliki rencana untuk menyediakan pariwisata 3S+halal: Berbagi tanggung jawab sebagai tamu dan tuan rumah, memanfaatkan momentum, bersiinergi dan kolaborasi, dan jadikan Halal sebagai gaya hidup sehat untuk memulihkan sektor pariwisata.

Masih topik seputar Transformasi Digital dan Perjalanan, Dr. Baris Onay, Co-Founder dan CEO di Precision Communities, UK,  fokus pada apa yang berubah selama pandemi.

Acara internasional dulu andalkan perjalanan internasional, tetapi sekarang kondisi pandemi tempatkan industri dalam posisi yang sangat ketat. 

“Ini akan menjadi comeback yang sangat lama, perlu 2 atau mungkin 3 tahun untuk menyesuaikan perjalanan liburan dan bisnis lagi,” tambahnya.

Sebelum pandemi, setiap pertemuan adalah tatap muka. Sekarang ada New Normal, media berubah, ada pertemuan online atau hybrid. Pertanyaannya, apa yang membuat pertemuan harus tatap muka?  Apakah untuk topik yang sangat penting?  atau apa yang membuat rapat harus di video?  Itu bisa menghemat uang dan waktu.

“Kami melihat pergeseran dari acara komunitas menjadi produk premium yang dapat memberi kami pendapatan.Tantangan terbesar saat ini adalah teknologi yang berubah setiap saat,” kata Dr. Baris Onay

Pembicara lainnya, Nick Pilbeam, pendiri dan direktur pelaksana Reficere Consulting International, Inggris menunjukkan bahwa prediksi permintaan dan penawaran menjadi perhatian sekarang dalam perjalanan dan pariwisata.

“Kuncinya adalah ketika destinasi tersebut terbuka dan aman bagi wisatawan.  Apalagi perjalanan mewah juga menantang di masa depan,” kata Nick Pilbeam.

Mengapa mereka harus pergi ke tujuan itu?  Karena banyak hal telah berubah dan berbeda sekarang.  Mungkin kita hanya melihat lebih sedikit orang di sana, tambahnya.

Investasi pariwisata internasional sangat penting sekarang.Kami membutuhkan lebih banyak investasi dalam kegiatan pariwisata digital dan untuk menciptakan lebih banyak acara regional dan hibrida untuk menjangkau pasar.

Dipenghujung sesi-sesi ada topik topik keren seperti “Mengapa Pariwisata adalah Hak Istimewa dan Bukan Hak?”.

Adalah  Anitta Mendiratta, Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal UNWTO yang juga  menjadi pembicara pada acara ‘Global Tourism Forum-Leaders Summit Asia Indonesia’ yang diselenggarakan oleh forum Indonesia Tourism.

Dalam kesempatan ini, ia berargumen bahwa akibat pandemi COVID- 19, bukan 120 juta pekerjaan yang hilang tapi yang penting adalah memikirkan  setiap orang di dalam 120 juta keluarga yang mata pencahariannya telah hilang.  

“Oleh karena itu, COVID – 19 telah memaparkan kepada dunia peran penting dari industri pariwisata. Tapi seberat apapun pandemi Covid 19, kita tidak menyia-nyiakan peluang yang ada,” kata Anitta Mendiratta

Dalam sesi yang dipandu oleh CEO World Tourism Forum Institute (WTFI), Sumaira Isaacs, Annita mengenang pada Maret 2020 di puncak pandemi di mana 16.000 pesawat komersial di-grounded. Satu-satunya pesawat yang terbang hanya yang membawa tenaga medis.  Alhasil, industri pun dimulai dari nol, ujarnya  mengharukan.

“Kami perlu membuat pesawat kembali mengudara untuk menekan statistik COVID- 19.  Baru setelah tantangan dijinakkan, perbatasan bisa dibuka. Hanya sekali perbatasan dibuka, pesawat bisa terbang lagi.  Hanya sekali pesawat terbang kita bisa mendapatkan pariwisata internasional kita kembali,” tegasnya.

Di sinilah negara yang masih memiliki pariwisata domestik seperfi Indonesia untuk mengoptimalkannya. Setiap negara di seluruh dunia sekarang menyadari peluang dalam membangun kunjungan sepanjang tahun, mendapatkan distribusi, dan mengidentifikasi peluang baru;  itu sangat besar dalam menggerakkan perekonomian. 

“Jadi, daripada kami menunggu perjalanan internasional kembali, kami membutuhkan solusi cerdas untuk dikerjakan.Jangan lupa nilai perjalanan domestik dan regional,” sarannya.

Anita yang juga Founder & Manager Director ANITA MENDURATTA & Associates menegaskan, jika kita masih bisa mengobrol dengan rekan kita, berarti kita aman. Ada banyak orang yang tidak aman dan tidak memiliki kemewahan berhipotesis tentang masa depan karena mereka fokus pada saat ini.

Kerja Sama Ekonomi Daerah untuk Bangkitkan Pariwisata

Anita yang sudah menyuarakan pentingnya pariwisata domestik kemudian di susul pula dengan pernyataan pentingnya hubungan antar daerah dan daerah serta dengan pemetintah pusat dalam menggerakkan wisata domestik.

Adalah Dr Rebecca Fatima Sta Maria, Direktur Eksekutif Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang menyarankan pariwisata domestik sebagai salah satu cara untuk menghidupkan kembali ekonomi negara.

Dalam sesi yang dipandu oleh Sumaira Isaacs, CEO WTFI, Rebecca Fatima Sta Maria mengambil contoh dari tren ekonomi Singapura yang meningkat, dia menegaskan bahwa inovasi dan kebijakan antara industri-pemerintah akan menciptakan pertumbuhan yang luar biasa bagi ekonomi lokal.

Wanita asal Malaysia itu menjelaskan bahwa terlepas dari kenyataan bahwa Singapore Airlines sangat menderita akibat pembatasan penerbangan internasional selama pandemi, negara itu terus berkembang melalui pariwisata domestiknya meski negara pulau yang kecil itu tidak butuh penerbangan karena terjangkau lewat darat.

“Ini menjadi contoh di mana ekonomi anggota APEC dapat belajar dari Sinhapura.Peningkatan fasilitas dan penyediaan homestay bagi wisatawan adalah salah satu alternatif yang paling efektif untuk meningkatkan ekonomi lokal,” 

Wisatawan akan memiliki akses yang memungkinkan mereka untuk tinggal lebih lama dan sebagai imbalannya, penyedia homestay lokal akan mendapatkan penghasilan mereka dan ekonomi berkembang,” tambahnya.

Dr Maria menutup sesi dengan memastikan bahwa negara-negara APEC saling memiliki untuk pulih dari krisis ekonomi pandemi. Krisis akibat pandemi COVID- 19 telah menjadi tantangan bagi APEC, dan kami bekerja sangat keras untuk mencari tahu bagaimana kami dapat merangsang pemulihan di seluruh kawasan Asia Pasifik, tegasnya.

Bertukar informasi tentang bagaimana masing-masing negara menangani pandemi dan bagaimana mereka dapat membantu dan belajar dari satu sama lain;  ini juga merupakan nilai dari GTF  antar pemerintah ini.

Bagaimana Industri Pariwisata Membentuk Proses Ketahanannya?”

Global Tourism Forum ( GTF) yang menghadirkan nara sumber dari kalangan Pentahelix sampai pada sesi penting untuk menyadarkan semua umat manusia bagaimana pentingnya pariwisata di senua negara di belahan bumi ini.

Natalia Bayona, Direktur Inovasi, Pendidikan dan Investasi Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) menjawab bagaimana industri pariwisata bertahan dari situasi pandemi global 

Bayona sangat percaya bahwa pariwisata berkelanjutan adalah jawaban bagaimana industri pariwisata membentuk proses ketahanannya.  

Keberlanjutan lebih dari tentang perubahan iklim;  ini tentang bekerja dengan penduduk setempat, menggunakan teknologi untuk kebaikan, memikirkan generasi berikutnya, dan bekerja dengan lingkungan.

“Buka mata kita dan mempercepat tantangan yang dihadapi pasca pandemi ini. Di setiap negara di dunia, pariwisata adalah wajib,” katanya bersemangat.

Dalam sesi yang dipandu oleh moderator Sumaira Isaacs – CEO World Tourism Forum Institute (WTFI), Bayona menegaskan bahwa pariwisata sangat kuat dalam hal representasi PDB negara.

Meskipun demikian, orang-orang yang berpendidikan di bidang pariwisata masih kecil.  “Ketika Anda masih kecil, Anda tidak memiliki satu cara untuk mempelajari pariwisata.  Pendidikan tidak pernah mengajarkan Anda tentang bagaimana menjadi pemandu wisata atau bagaimana mempromosikan destinasi Anda,” jelasnya.

Kemudian, ketika menjadi remaja dan mencoba untuk datang ke universitas, Anda tidak memiliki satu pun mata pelajaran pariwisata sebagai keterampilan wajib.

“Yang kita butuhkan adalah kurikulum baru. Pendidikan perlu ditransformasi-

kan dengan menciptakan cara-cara baru dalam mengembangkan pariwisata, seperti mendirikan pariwisata vokasi dan magang di bidang pariwisata,” sarannya.

Bayona memastikan UNWTO akan terus berinvestasi di bidang pariwisata.  “Bagaimana kita bisa mewujudkan keberlanjutan di sektor pariwisata? Itu kalau setidaknya ada sepuluh negara di dunia yang menggalakkan investasi berkelanjutan,” pungkasnya.  (***)

Continue Reading

Internasional

Mahendra Siregar: Indonesia Sukses Menyelenggarakan Global Tourism Forum, Kini Punya standar Hybrid Dunia

Published

on

Photo : Wakil Menteri Luar Negeri , Mahendra Siregar di Event Global Tourism Forum (Istimewa)

Event Global Tourism Forum – Leaders Summit Asia 2021 menghadirkan 49 pembicara internasional dan 22 pembicara dari Indonesia. Acara yang berlangsung di Hotel Raffles, Jakarta 15-16 September secara hybrid memiliki banyak sesi. Berikut laporan pertama. 

Jakarta, goindonesia.co : Wakil Menteri Luar Negri Mahendra Siregar menyatakan puas atas kesuksesan penyelenggaraan Global Tourism Forum ( GTF) dari World Tourusm Forum Institute ( WTFI).

Selain  pertama kalinya berlangsung di kawasan Asia, pemilihan RI sebagai tuan rumah perhelatan akbar di Hotel Raffles, Jakarta pada 15-16 September 2021 ini jadi sangat straregis dan penting karena bukan lagi sekedar event hybrid.

” Indonesia sukses untuk pertama kalinya melaksanakan event hybrid secara standar internasional, menghubungkan satu benua dengan benua yang lain secara bersamaan sehingga kita jadi memiliki standar atau pembanding untuk penyelenggaraan event berikutnya di tengah pandemi COVID-19 ini,” kata Mahendra Siregar.

Semua kegiatan berjalan lancar sehingga menjadi sinyal kuat untuk hidup dengan tekhnologi di era New Normal. Industri pariwisata harus mengadopsi, mengimplementasikan standar hybrid yang dibutuhkan. Oleh karena itu GTF bukan sekedar event, kata Wakil Menteri Luar Negri RI ini.

Di dunia internasional terutama di Asean, Indonesia selalu jadi terdepan dalam mempromosikan sejumlah pembaruan maupun penyesuaian di era New Normal termasuk dalam hal travel corridor, travel bubble dan inisiatif lainnya.

” Kami selalu mendukung Asean untuk menyiapkan diri, menyesuaikan dan memperbaiki terhadap perkembangan yang ada karena dengan begitu kita selalu menjaga daya tahan kita menghadapi pandemi COVID-19 yang belum berakhir,” tandasnya.

Menurut dia, menjadi tuan rumah Global Tourism Forum dimana sebagian pembicara dan peserta hadir secara langsung maupun online merupakan bagian dari persiapan diri untuk menjadi tuan rumah kegiatan MICE yang lebih besar seperti Indonesia akan memegang Presidensi G20 dimulai pada 1 Desember 2021 sampai dengan 30 November 2022.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menerima mandat langsung Presidensi pada KTT G20 atau G20 Leader Summit di Roma Italia pada 30-31 Oktober mendatang.

” Pada penutupan President WTFI Bulut Bagci juga mengatakan akan membuat GTF kembali di Indonesia sambut presidensi RI di G-20 tahun depan dengan menyelenggarakannya kemungkinan di Bali “

Kita tunggu saja dari WTFI detilnya bagaimana. tentunya GTF Bali tidak mengulang hal sama di Jakarta. Harus ada lompatan besar untuk event nya tahun depan, pesan Mahendra.

Chairman of Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar, mengatakan kepercayaan masyarakat internasional terhadap Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman menjadi dasar terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Annual Meeting Global Tourism Forum (GTF) 2021. 

 “Kita harap event ini bisa menghidupkan MICE meski hybrid. MICE ini penting karena dampak ekonominya cukup besar . Mudah-mudahan ini juga menjadi komitmen bangkitkan pariwisata Indonesia,” ujar Sapta. 

 Bulut Bagci, President of World Tourism Forum Institute (WTFI) saat pembukaan dan penutupan acara berulang kali mengatakan Indonesia adalah tujuan wisata kelas satu dengan kehangatan orang, nilai-nilai budaya dan perilaku alami.

Event ini menempatkan pariwisata pada agenda para pemimpin dunia dan untuk memastikan investasi asing langsung di negara-negara yang menjadi tuanbrumah.

Dalam acara ini, ada sesi bergengsi tentang topik tren baru tentang investasi asing langsung, investasi berkelanjutan, efek covid-19, dan solusi menjadi transformasi dan kebijakan gender.

World Tourism Forum Institute  ( WTFI) telah memilih Presuden Joko Widodo sebagai pemimpin pariwisata 2021 karena komitmennya yang tinggi pada pengembangan pariwisata Indonesia. 

“WTFI percaya bahwa untuk mencapai pariwisata di suatu negara penting untuk mendapatkan dukungan penuh dari para pemimpin. Tahun depan pada tahun 2022, WTFI akan membawa ribuan orang secara fisik untuk kembali menggelar acara di Indonesia ( Bali) untuk menunjukkan keramahan Indonesia kepada dunia.

Ministers Talk 

Setelah pembukaan resmi oleh Wakil Presiden Maruf Amin, Menparekraf Sandiaga Uno pimpin sesi Minister Talk bahas Reopening Asean Tourism Destination for International Tourist.

 Singapura diwakili oleh Alvin Tan Menteri Perdagangan dan Industri,  Dr Thong Korn Menteri Pariwisata Kamboja, Nguyen Van Hung Menteri Seni, Olahraga dan Pariwisata Vietnam

 Hadir juga secara online Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand Phiphat Ratchakiyprakarn serta Menteri Sumber Daya Utama dan Pariwisata Brunei Darussalam Dato Seri Setia Awang Haji Ali Bin Apong.

 Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno usulkan pada World Tourism Forum Institute  bergandengan tangan dengan negara-negara anggota ASEAN untuk membuat program dan kegiatan yang dapat mempercepat pemulihan pariwisata di wilayah ini. 

 “Indonesia siap dan berharap untuk memiliki kerja sama lebih lanjut. Mari berbagi update tentang protokol kesehatan dan keselamatan, percepatan vaksinasi  termasuk prosedur perjalanan sehingga kita dapat memiliki pemahaman yang sama atau pengakuan tentang apa yang sebenarnya terjadi,” kata Sandi

 Dato Lim Jock Hoi, Secretary-General of Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) asal Brunei pada kesempatan yang sama mengatakan menjelaskan mengenai tahapan perencanaan penyembuhan sektor pariwisata.

Tiga fokus rencana utama untuk pemulihan yaitu :

1. membantu pertimbangan penentuan prioritas dalam proses pengambilan keputusan

2. memberikan hasil untuk menyegarkan kembali para komunitas bisnis dan karyawan di sektor pariwisata dan fokus pada era new normal pariwisata untuk menjangkau sumber target pasar baru dan mengkonsolidasikan fondasi yang berkelanjutan yang bertujuan untuk fase pembukaan kembali destinasi wisata.

3. berfokus pada mempromosikan asosiasi jangka panjang dan regenerasi sambil mengikuti tren baru juga berbagai tantangan yang muncul untuk memulihkan destinasi pariwisata ASEAN.

Pemerintah & swasta dan pers

Bagaimana RI bertahan untuk menjadi lebih kuat di masa pandemi disampaikan Rizky Handayani Mustafa selaku Deputi Bidang Produk Pariwisata, MICE dan Event Kemenparekraf.

Pemerintah dan swasta sepakat DNA kreatif dan demografi RI merupakan bonus besar bagi pariwisata Indonesia untuk tetap bertahan. 

Pandemi ini telah merangsang tren baru untuk pariwisata seperti wisata berbasis alam dan pengalaman.  Pemerintah juga turut ambil bagian dalam masa pemulihan ini. 

Teuku Faizasyah selaku Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengatakan sekain menggenjot vaksin, pemerintah berupaya menurunkan harga pengujian agar proses penelusuran dan pengobatan bisa lebih cepat.

“Upaya tersebut dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan wisatawan asing sehingga mereka akan mengunjungi kami lagi di masa depan,”

Sedangkan Hariyadi Sukamdani selaku Vice President Sahid Group dan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menambahkan, dengan protokol kesehatan yang ketat kita bisa lebih kuat dan berkembang lebih baik karena di era baru ini yang dibutuhkan wisatawan adalah rasa aman saat bepergian.  

Kementerian Teknologi Informasi dan PT Telkom telah meluncurkan aplikasi “Peduli Lindungi”, aplikasi ini cukup efektif untuk menyinkronkan semua data pengujian COVID 19, data Vaksin dan Obat,” ujarnya.

 Budijanto Tirtawisata selaku CEO Panorama Sentrawisata mengatakan  perlunya memiliki visi dan pemahaman yang sama agar bisa gesit. dalam hadapi perkembangan pandemi.

Pariwisata harus memiliki nilai yang bermakna dan universal, dan kita dapat menyediakannya dengan kemauan untuk meningkatkan dan menciptakan peluang. 

“Apa yang dapat kita simpulkan dari pembicaraan ini adalah bahwa pandemi membuat kita berkembang seperti halnya pariwisata.  Sektor ini harus tangguh  dan Indonesia siap untuk itu, “kata Budi.

Pers juga miliki peranan penting dalam pengembangan pariwisara karena itu sesi ini diisi oleh Jeannette Ceja, Pembawa Acara TV, Jurnalis Perjalanan & Penasihat Perjalanan, AS serta Claudia Tapardel, PhD, Jurnalis & Pembawa Acara TV DCNews, Rumania.

Keduanya menyoroti pemerintah yang harus memiliki standar tingkat aturan internasional, harus ada pengujian gratis untuk memastikan semua orang sehat dan mereka dapat menikmati perjalanan.

alam forum ini, misalnya adalah  kebijakan mengeluarkan sertifikat hijau.  Sertifikat ini juga dikenal sebagai sertifikat hijau digital atau izin hijau.

Sertifikat COVID Digital memungkinkan warga negara Uni Eropa untuk bergerak dengan aman di dalam Uni Eropa selama pandemi COVID-19. 

Hal ini sangat membantu bagi para traveller yang ingin berkeliling.  Dengan green pass mudah untuk masuk museum, hiburan budaya dll. Dia juga menyebutkan bahwa.

Pembicara tamu lainnya adalah Ismail Urtug, Vice President Responsible for Transformation, Innovation & Strong Digital.kebangkitan industri pariwisata global dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan perjalanan domestik terlebih dahulu.

 “Pemerintah harus melonggarkan gerakan pembatasan nasional untuk mendorong pertumbuhan pariwisata dalam negeri,”

Selain itu, ia membagikan strategi Parlemen Eropa dalam menyesuaikan pendekatan keberlanjutan dalam industri pariwisatanya melalui program yang disebut “Smart Mobility”. 

Mobilitas pintar adalah strategi berkelanjutan yang mendukung dengan memanfaatkan digitalisasi dan otomatisasi untuk mencapai konektivitas yang mulus, aman, dan efisien. Ismail mengklaim bahwa Smart Mobility telah berhasil mengurangi emisi CO2.

Nilai Ekowisata dalam COVID-19

Pandemi COVID-19 berdampak pada sektor pariwisata dunia, khususnya ekowisata. Beberapa isu penting muncul dalam hal sumber daya yang berkelanjutan dan banyak faktor lainnya.

Sesi ini  menampilkan Fergus Maclaren, Kepala Pariwisata MACC-DUFF, Kanada, Odelia Ntiamoah, CEO Kamar Industri Pariwisata, Ghana dan Alexandros Thanos, Kepala Sektor Pariwisata, Wilayah Makedonia Tengah, Yunani

Moderatornya adalah Dr. Valasia Iakovoglou, Direktur Sektor Ekowisata dari UNESCO Chair Con-E-Ect di International Hellenic University (IHU), Yunani.

Pandemi COVID-19 berdampak pada sektor pariwisata dunia, khususnya ekowisata. Beberapa isu penting muncul dalam hal sumber daya yang berkelanjutan dan banyak faktor lainnya.

Alexandros Thanos mendukung pemerintah untuk membangun infrastruktur, melindungi sumber daya alam, dan mendidik masyarakat untuk mengetahui lebih banyak tentang masalah di kawasan wisata. 

Selain itu, pemerintah berperan penting dalam merancang program dan pengembangan berkelanjutan untuk masa depan ekowisata.

Odelia Ntiamoah berbicara tentang tantangan dalam memulihkan ekowisata di Ghana. Hal ini sangat tergantung pada peran masyarakat lokal di sana.

Namun, penggundulan hutan dan penambangan liar masih menjadi isu utama yang terjadi. Elemen kunci untuk mempertahankan daya tarik ekowisata adalah penanaman pohon oleh tingkat pemula dan juga tingkat korporat.

Manajemen jangka panjang semacam ini akan menghasilkan hasil yang terbaik. “Kita juga harus mendukung masyarakat secara pendidikan dan juga finansial untuk memberikan mereka “rasa memiliki” untuk melindungi hutan dan lingkungan sekitar. Sehingga akan lebih menarik minat masyarakat untuk melakukan wisata lokal.

Fergus Maclaren menyebutkan Kanada memiliki banyak taman nasional yang menarik untuk dinikmati wisatawan lokal dan internasional. Dia fokus pada pasar pariwisata yang besar di Kanada. 

Pemerintah juga memberikan stimulus untuk mendukung kawasan ekowisata. “Kami dulu memiliki pengunjung yang besar, tetapi sekarang kami berfikir dan menyesuaikan kembali untuk memulihkan sektor pariwisata,”

Menurut dia, pendekatan lingkungan dan budaya adalah elemen kunci untuk menyelamatkan ekowisata. Sebagai penutup, moderator meminta para pembicara untuk mengajukan pertanyaan: Bagaimana mengukur perlindungan terhadap lingkungan alam? Bagaimana dengan melibatkan masyarakat adat dalam ekowisata?.

Dampak pandemi & masa depan pariwisata.

Dorji Dhradhul, Director General of Tourism Council of Bhutan, Mariana Oleskive, Chairperson of State Agency for Tourism Development of Ukraine dan Kairat Sadvakassov, Vice Chairman of the Board of Kazakh Tourism membahas masa depan pariwisata dipandu oleh  Neslihan Gundes, Global Partnership Director of WTFI.

 Menurut Dorji Dhradhulu,  di masa pandemi ini karena harus mementingkan keselamatan dan kesehatan bagi wisatawan maka penting  memikirkan kembali kebijakan, model, dan strategi.

Soalnya  Pariwisata global harus memiliki alternatif untuk mengatasi situasi ini. Bhutan mengutamakan pengelolaan sektor kesehatan selama pandemi dan stabilitas ekonomi hingga menjadi lebih baik.

“Bhutan begitu istimewa karena kita memiliki budaya yang utuh dan otentik, semuanya alami dan juga diatur oleh kebijakan lingkungan. Alam kita masih sangat menarik bagi wisatawan.” katanya menambahkan.

Mariana Oleskive mengatakan tahun 2020 lalu turis Ukraina cukup menurun, tetapi pada saat yang sama itu adalah kesempatan untuk memulihkan pariwisata lokal di Ukraina.

Inisiasi datang dari presiden untuk meminta ratusan tokoh publik untuk membagikan tempat favorit mereka untuk bepergian di Ukraina di media sosial.

Ini berguna untuk melibatkan lebih banyak orang untuk menjelajahi negara. Tidak hanya kota, tetapi juga kawasan alam seperti danau, gunung, dan gua. Ukraina memiliki banyak hal untuk ditawarkan.

Dia juga mengatakan bahwa Ukraina cukup baik dalam memulihkan sektor pariwisata dengan meningkatkan wisatawan lokal.

“Kami berada di pusat Eropa dengan warisan nasional, masakan, dan tempat-tempat bersejarah. Ukraina siap untuk membuka kembali pariwisata,” tambahnya.

Sedangkan Kairat Sadvakassov mengatakan pemerintah harus menentukan sektor-sektor prioritas selama pandemi. Salah satunya adalah sektor pariwisata yang perlu beradaptasi. Sektor pariwisata sedang berjuang. Hanya 20% hotel yang berhasil bertahan di masa pandemi.

“Kita harus mendorong pariwisata dalam negeri. Semua orang berpikir untuk pergi ke luar negeri Ketika ingin berlibur. 

Namun dalam kondisi pandemi ini, semua orang mulai melihat apa yang bisa mereka kunjungi di negara ini”, tambahnya.

Pemerintah siap membuka beberapa kawasan wisata di daerah tertentu. Pengunjung juga dikendalikan dengan hasil tes negatif COVID-19 dan persyaratan lainnya.

Pelan tapi pasti, pariwisata lokal dibuka kembali untuk mengisi kembali okupansi dan pendapatan. Secara keseluruhan situasi ini kembali dengan keputusan dan strategi yang bijaksana oleh pemerintah. (***)

Continue Reading

Trending